
Orang yang Kanilaras lihat kini telah bersiap membidik Katra dengan senapan Laras panjang, laser dari senjata tersebut diarahkan tepat ada kepala Katra.
"Apa ini Tuan Putri?" tanya Katra panik melihat laser berwarna merah terus bergerak di area kepala dan juga dadanya.
"Cepat tepikan mobilmu, Paman!" perintah Kanilaras tegas.
Segera pria bertubuh kecil tersebut membanting setir dan menginjak pedal rem. Sedetik kemudian Kanilaras keluar dengan pedang bulan yang dia sembunyikan di punggungnya.
Di atas sana 4 soldier Kendrick turun dari helikopter menggunakan seutas tali. Dia berlari cepat menghampiri Kanilaras yang berdiri di samping kiri mobil Katra.
"Nona baik-baik saja?" tanya Santos orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Kanilaras.
"Hmmm," sahutnya dengan kepala yang mengangguk kecil.
Tiga soldier lainnya menangkap Katra dan dibawanya pria itu dihadapan Santos.
"Dia orang baik. Jangan coba-coba menyakitinya! Jika terjadi sesuatu padanya ...." Kanilaras menggantung ucapannya dan gadis itu menunjukkan mengepal tangan kirinya yang mengeras.
Santos menggerakkan kepalanya kesamping seakan memberikan perintah untuk mengamankan Katra—pria yang bersama Kanilaras.
"Apa kalian menemukan Ken?" tanya Kanilaras dengan raut wajah yang cemas.
"Sudah Nona, tapi ...."
"Tapi apa?" sambar Kanilaras dengan bentakan.
__ADS_1
"Jiwa Tuan Ken sangat terguncang," katanya menjelaskan.
Kanilaras semakin panik setelah mendengar keadaan pria yang memiliki banyak aturan itu.
"Bawa aku padanya!" ucap Kanilaras dengan langkah kaki yang cepat.
Ketika dia menyadari Santos tidak mengikuti langkahnya, Kanilaras berbalik badan menatap tajam pria berkulit hitam itu.
"Apa yang kau tunggu!" Suara bentakan Kanilaras terdengar melengking di gendang telinga mereka semua.
"Dokter bilang, Anda tidak bisa menemui Tuan Ken." kepala Santos tertunduk, selama ini Kendrick melarang para soldier dan juga worker untuk menundukkan kepala selain padanya.
Namun, ini kali pertama soldier x Kendrick melakukan hal itu pada orang lain. Entah apa yang jadi alasan Santos melakukan hal ini, yang jelas pria itu memiliki perhatian lebih pada Kanilaras.
"Apa maksudmu?" tanya Kanilaras meminta penjelasan.
Kanilaras diam terpaku, dia benar-benar tidak dapat melakukan apapun. Kepalanya yang cerdas juga tidak dapat berpikir untuk mencari cara menemukan Kendrick, satu-satunya pria yang dia percaya saat ini.
Setelah berhasil menetralkan emosinya Kanilaras kembali bertanya, "Lalu, kau mau membawaku ke mana?"
"Ke pondok persinggahan tuan," balasnya lirih.
"Aku akan menurut, tapi dia harus ikut bersamaku!" tunjuk Kanilaras sambil memberi perintah.
Santos menatap Katra yang berdiri tenang walau kedua tangannya diborgol, sudah seperti penjahat yang akan masuk penjara.
__ADS_1
Sangat lama soldier Kendrick melempar pandangan pada pria yang bertubuh kecil.
"Baiklah, Nona bisa membawa makhluk itu." Santos kembali mendongakkan kepala dan berdiri tegap layaknya perilaku soldier Kendrick.
Helikopter itu pun terbang mengudara dan menembus kegelapan malam, suara gemuruh angin sedikit membuat telinga Kanilaras sakit. Tangan gadis itu mencolek lengan Santos yang duduk tegang di sebelahnya, sontak soldier Kendrick itu menolehkan kepalanya.
Kanilaras menunjuk telinganya dan jari telunjuk itu memutar pelan, seakan memberitahu Santos kalau pendengarannya terganggu akan suara yang ditimbulkan helikopter.
"Maafkan saya, Nona!" tutur Santos sambil memberikan Ear plug (penyumbat telinga).
Walau dia bukan bayi, ini kali pertama dia naik helikopter.
Empat puluh menit telah berlalu, kini helikopter tersebut mendarat tepat di helipad di atas gedung pondok persinggahan.
Jangan kira pondok persinggahan Kendrick kaya pondok di tengah sawah ya đź¤, sesungguhnya gedung ini diberi nama pondok persinggahan karena Kendrick hanya mampir dan tidur beberapa saat saja di gedung ini. Bahkan pria itu singgah tidak sampai satu jam, paling lama hanya 40 menit saja—itulah sebabnya gedung ini diberi nama pondok persinggahan.
Begitu rombongan Kanilaras turun dari helikopter Bibi Kenny menghampiri tuan putri dari kerajaan Kastara. Senyum sumringah terpancar jelas di wajah Kanilaras, meski dia hanya berpisah 2 malam saja rasa rindunya sangat besar kepada Bibi Kenny.
Gadis itu memeluk erat tubuh renta Bibi Kenny dan dibenamkannya wajah cantik itu di ceruk leher wanita paru baya tersebut.
"Apa yang Nona lakukan?" Pertanyaan Bibi Kenny membuat kerutan di kening Kanilaras.
"Apa maksud Bibi?"
"Nona hampir membuat tuan jatuh miskin. Apa Nona tidak kasihan padanya? Apa Nona sudah tidak sayang lagi pada Tuan Ken?" berondong Bibi Kenny.
__ADS_1
Kanilaras terkekeh mendengar penuturan Bibi Kenny, hampir saja dia tersedak salivanya yang dia telan.