Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Nekat


__ADS_3

Kendrick melirik tajam asisten pribadinya, “Jangan bertele-tele, cepat katakan siapa orang itu!” titahnya tegas.


“Maaf Tuan. Ini hanya perkiraan saya saja,” katanya pelan dengan posisi tubuh yang masih menatap lurus lautan.


“Jangan main-main Beril, cepat katakan!” bentak Kendrick.


“Tuan Matius,” sahutnya cepat.


Kendrick telah bersiap mengarahkan kepalan tangannya kepada Beril, tapi dia tahan ketika tinjunya hendak menyentuh pelipis Beril. Pria itu menghempaskan tangannya dengan kasar, sorot matanya yang datar kini berubah menajam tatkala Beril menatapnya dengan tatapan sendu.


“Apa alasanmu menuduh orang yang telah mendidikku selama ini?” tanya Kendrick yang telah berhasil menguasai emosinya.


“Logo yang Tuan sebutkan tadi. Semua barang-barang beliau selalu ada logo tiger berbuntut merah,” jelasnya sembari melipat tangan di depan perut.


Pemimpin lord of twilight terdiam sejenak memikirkan ucapan Beril , dia pun juga mengingat hewan peliharaan Matius—orang yang selama ini dia anggap sebagai paman.


“Tidak mungkin, itu tidak benar Beril!” teriaknya sarkasme.


Kendrick berjalan cepat menghampiri asisten pribadinya, kedua tangan kekarnya mencekik leher Beril. Suara Kendrick berubah dan sorot matanya yang tajam seakan menghunus bola mata Beril, rahangnya mengetat dan urat pelipis pria itu mengencang.


“Berani-beraninya kau menuduh orang yang telah berjasa pada hidupku,” decitnya tidak terima.


“T-tuan s-sadarlah,” tutur Beril gagap.


Napasnya tercekat, dadanya turun naik akibat paru-paru sehatnya susah menampung oksigen yang dia hirup. Kendrick tidak memedulikan ucapan Beril, tangan kekarnya semakin erat mencekik leher orang kepercayaannya.


Alarm black watch kembali menyala, kedipan lampu di black watch menandakan bahwa itu bukan alarm bahaya untuk tuan mereka melainkan alarm bahaya untuk Beril—ketua mereka selama menjadi soldier di black house.


Segera para soldier berlari menuju tepi pantai, Kanilaras yang tidak memahami situasi hanya mengikuti langkah panjang para soldier.


“Kalian mau ke mana?” teriak Kanilaras yang berada di belakang Very.


“Pak Beril dalam bahaya,” jawab Very yang terus berlari.


Pendekar wanita itu mencoba mencerna perkataan Very—soldier yang di khususkan menjaganya. Tubuh Kanilaras melayang ke udara demi melihat situasi di tepi pantai, di atas sana Kanilaras menelisik tepi pantai. Netranya mendelik melihat Beril hampir menemui ajalnya, segera Kanilaras melesat ke tempat Beril dan Kendrick berada.


“Ken, cukup!” ucap Kanilaras mencegah Kendrick.


Kanilaras yang masih melayang di udara segera turun dan menapakkan kakinya tepat di sebelah prianya. Dia tahu betul kalau Kendrick tidak akan mudah dikendalikan.


“Lepaskan dia Ken! Kau akan menyesal jika dia mati,” cetus Kanilaras terkekeh.


“Apa urusanmu!” Kedua matanya melotot tatkala menatap Kanilaras.


“Maafkan aku Ken!” ucap Kanilaras seraya memukul tengkuk Kendrick.


Seketika pria itu terkulai tidak sadarkan diri, bersamaan dengan jatuhnya Kendrick. Beril menyentuh lehernya yang terasa sakit, berulang kali pria itu menggerakkan kepalanya.


“Terima kasih, Nona!” Beril menyeimbangkan tubuhnya dan membungkuk memberi hormat pada Kanilaras yang sudah membantunya.

__ADS_1


“ Kenapa kau tidak melawan Ken? Bukankah ada kesempatan untuk menghindar,” ujar Kanilaras yang tidak habis pikir dengan Beril yang menerima perilaku kasar Kendrick yang bisa saja merenggut nyawanya.


“Saya tidak bisa melakukan hal yang membangkang,” jawab Beril kalem.


“Apa kau sudah tidak waras? Jika aku terlambat datang kau akan mati,” cicit Kanilaras yang masih tidak percaya dengan jawaban Beril.


“Jika itu terjadi maka tugas saya selesai melindungi Tuan Ken,” balasnya santai tanpa ada beban sedikit pun.


Mata Kanilaras terbelalak melihat tatapan kosong Beril, sungguh keadaan yang membingungkan bagi Kanilaras. Dia berpikir abdi setia hanya ada di zamannya dan dia merasa di zaman modern ini dikuasai oleh manusia serakah.


Namun, nyatanya dia bertemu dengan abdi setia di black house. Semua soldier dan worker selalu sabar menerima sikap dan perilaku Kendrick yang semena-mena.


Kanilaras menatap datar pria yang memapah Kendrick.


“Bapak tidak apa-apa?” tanya Santos keheranan, Beril hanya mengangguk memberi pernyataan pada bawahannya.


Sepuluh soldier tersebut saling melempar pandangan. Jelas-jelas black watch memberitahu mereka bahwa Beril ‘lah yang dalam bahaya bukan Kendrick. Namun, kenyataan Beril dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada cedera sedikit pun dan mereka juga dikejutkan dengan adegan Beril memapah tuan mereka.


Meski penasaran mereka tidak berani bertanya apa yang tengah terjadi tadi, begitu juga dengan Kanilaras—wanita yang memiliki ilmu Kanuragan yang cukup memumpuni untuk menjaga Kendrick—pria yang selalu menyulitkannya.


Setelah berlalu sekian menit kini Kendrick siuman dari pingsan, netranya menatap wajah Kanilaras dan juga Beril yang saat ini mengemudi mobil.


Kanilaras menggulirkan bola matanya ke bawah sesaat merasakan pergerakan kepala Kendrick yang sedari tadi dia pangku.


“Kau sudah bangun?” tanya Kanilaras kalem.


“Hmm,” sahut Kendrick seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


“Sewaku kita mau pulang, kau tergelincir hingga tidak sadarkan diri. Itu sebabnya Beril yang menggantikan mu mengemudi benda ini,” jawab Kanilaras santai menutupi kebenaran.


Dia begitu yakin bahwa Kendrick melupakan peristiwa yang di mana dia mencekik orang yang sangat dia percayai selain Bibi Kenny.


“Sepertinya aku melewatkan sesuatu Ras,” ujarnya sembari beranjak dari tidur.


Tercetak jelas gurat kekhawatiran di wajah Beril, tapi tidak dengan Kanilaras. Wanita itu tampak tenang bahkan terkesan santai dan biasa saja.


“Iya, benar. Kamu melewatkan sesuatu yang sangat penting, benarkan Beril!” kata ‘benarkan Beril’ lebih dia tekankan dan terkesan meminta Beril bergabung mengelabuhi Kendrick.


Tergagap-gagap Beril menjawab perkataan Kanilaras, “I-iya.”


Sorot mata Kendrick yang tidak pernah santai menambah kegusaran hati Beril dan walau tidak berkata-kata Kendrick mampu memanipulasi keadaan.


“Kau bohong padaku?” Suara bariton Kendrick membuat Beril gemetaran, pasalnya ini kali pertama dia menipu tuannya.


“Maafkan s-saya, T-tuan!” cetus Beril terbata-bata, mata sipitnya melirik sekilas wajah Kendrick dari spion tengah.


“Kenapa mau meminta maaf?” Kendrick melontarkan pertanyaan dengan mata yang melebar.


“Sudah abaikan dia, Ken!” Menarik bahu Kendrick hingga dia bersandar di sandaran jok mobil.

__ADS_1


Beril kembali melihat Kendrick dan juga Kanilaras yang tengah bertatapan.


Apa ini? Kenapa mereka terlihat mesra? Bukannya selama ini hubungan mereka selalu buruk.


Lamunan Beril buyar kala Kanilaras membentaknya.


“Perhatikan jalanmu, Beril!”


Sontak dia terperanjat melihat mobil yang dia Kendari hampir menabrak pembatas jalan.


“Menepi!” ucap Kendrick datar.


“Apa Tuan?” tanya Beril memastikan apa yang dia dengar.


“Apa kau tuli? Tepikan mobilnya!” Suara Kendrick melengking di gendang telinga.


Kanilaras menatap tajam wajah pria yang duduk di sebelahnya tersebut.


“Jangan menatapku seperti itu!” Membentak Kanilaras, “apa kau juga tuli seperti dia!” tunjuknya dengan mata yang mendelik.


Kanilaras memejamkan kedua matanya untuk mengatur ritme pernapasan dan emosi yang hampir menguasai dirinya.


“Tenangkan dirimu, Ken! Jangan terbawa suasana hatimu,” saran Kanilaras sembari mengelus punggung tangan Kendrick.


Kening pria itu mengerut tatkala mendapat perlakukan lembut dari Aras—wanita yang dia sayang. Bukannya melembut, Kendrick semakin marah dengan Kanilaras.


“Kau suka padanya?”


“Ayolah, jangan berprasangka buruk tentang kami!” bujuk Kanilaras agar Kendrick bisa lebih tenang dan tidak bersih kukuh dengan keputusannya barusan.


Membujuk pria itu sangatlah susah, sifat keras kepalanya melebihi batu pegunungan. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan, tidak peduli dengan risiko yang akan dia hadapi.


“Kau tidak mau menuruti keinginanku? Apa kau mau melihatku mati?” tukasnya seraya membuka pintu mobil.


Pintu mobil terbuka lebar, gertakan yang Kanilaras ucapkan bukanlah main-main belaka. Dia selalu serius dengan apa yang terlontar dari bibir tipisnya yang berwarna merah jambu.


Tentu saja Kendrick panik melihat Kanilaras bersiap untuk melompat keluar.


“Tolong jangan lakukan itu, Aras. Aku mohon!” mohonnya dengan tangan yang mencoba meraih pergelangan tangan Kanilaras.


“Aku sudah tidak tahan dengan segala sikapmu yang berubah-ubah. Aku sudah terlalu muak dengan semua ini,” ungkap Kanilaras dengan gamblang.


Kepala Kendrick mengangguk cepat agar dipahami oleh Kanilaras bahwa dia menerima kritikan yang Kanilaras utarakan tadi.


“Kau mengangguk? Itu artinya kau setuju kalau aku melompat dan mati sekarang!” kata Kanilaras memutar fakta agar Kendrick bereaksi lain dan melupakan niatnya yang ingin meninggalkan Beril di tengah jalan.


“Tidak begitu Aras. Cepat tutup pintunya! Jangan main-main di jal—"


Belum sempat Kendrick menyelesaikan ucapannya pintu mobil yang Kanilaras buka tersambar mobil dari belakang hingga pintu itu rusak dan terlepas dari body mobil.

__ADS_1


“Aras!” teriak Kendrick melihat wanitanya telah menghilang dari sisinya.


__ADS_2