Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Amarah


__ADS_3

Citra melirik sebuah kater yang dia simpan di saku jas sekolahnya, gadis itu berniat melakukan tindak kriminal terhadap Kanilaras yang dia anggap sebagai wanita lemah yang notabennya disabled. Langkahnya mantap untuk menghampiri Kanilaras yang masih duduk santai menikmati kudapan yang disuguhkan oleh Citra sendiri.


Ketika dia mengeluarkan kater tersebut Mayang mencekal pergelangan tangan adiknya.


“Apa yang kau lakukan, heum?” tanya Mayang dengan kedua alis yang terangkat.


“Lepas! Kakak jangan ikut campur!” ucapnya tegas.


“Have you gone mad! Apa kamu sudah gila!" berang Mayang pelan penuh penekanan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


“Aku? No! I'm still sane, that's why I'm going to destroy that ugly woman! Tidak! Aku masih waras, itu sebabnya aku akan membinasakan wanita jelek itu!” Matanya melotot menatap lekat-lekat wajah Mayang.


“Crazy, you are really crazy Citra! I'm really disappointed with you. Gila, kamu benar-benar gila citra! Aku sungguh kecewa denganmu.” Menoyor kepala Citra sampai mendongak ke atas.


“Iya, aku benar-benar sudah gila karena Ken. Dia menolakku demi gadis itu!” tunjuk Citra dengan telunjuknya yang tadi dia gunakan untuk menuding kakaknya.


“Tapi, ini tidak benar Citra. Jika benar kamu mencintai Ken, rebut hatinya dengan pesonamu. Jangan membunuh orang, bersainglah dengan akal sehat!” kata Mayang menasihati adik kandungnya yang masih labil.


“Bullshit, I can't believe all your advice! Quickly let go of your hands! I can not stand. Omong kosong, aku tidak percaya dengan semua nasihatmu! Cepat lepaskan genggaman tanganmu ini! Aku sudah tidak tahan,” katanya bersungut-sungut.


“Lakukan seperti keinginanmu! Aku yakin Ken tidak akan memaafkanmu dan aku sangat yakin dia akan membalas perbuatan bodohmu ini dengan lebih kejam!” Kalimat syarat akan makna itu lantas tidak membuat Citra tertarik.


Namun, gadis muda itu merenungi ucapan kakaknya yang telah berlalu meninggalkannya sendiri di sana. Otaknya terus berpikir menyingkirkan Kanilaras dari sisi Kendrick, tapi di hatinya berkata untuk mengurungkan niat kejinya yang akan menimbulkan situasi yang sangat sulit untuknya karena dia tahu betul bagaimana Kendrick memperlakukan musuhnya.


“Aargh ... sungguh menyebalkan!” jeritnya yang mengundang banyak orang.


“Bukankah itu suara Citra, Paman.” Kendrick melirik Matius.


Pria tua itu bergegas keluar dari ruang kerjanya dan penuh dengan kehati-hatian dia menuruni anak tangga. Netra tuanya mendapati anak gadisnya tengah meringkuk dengan sebilah kater yang ada di tangan kanan.


“Kamu baik-baik saja Sayang?” mengelus kepala Citra dengan sangat lembut, “apa ada yang mengusik pikiranmu?” tanyanya lagi.


“Papi, apa Citra tidak boleh bahagia?”


“Pertanyaan macam apa ini, heum?” Matius mengangkat dagu lacip Citra.


Buliran air matanya terus keluar dan beranak membasahi pipi dan juga dagunya.


“A-aku ....” Perkataannya terhenti kala mengingat nasihat Mayang.


Jika aku katakan hal yang mengusik hatiku itu akan mempersulit aku mendekati Kendrick. Gadis itu selalu bergumam.


Kendrick yang melihat adegan itu hanya menggeleng pelan, dapat dipastikan bahwa pria matang tersebut dapat membaca pikiran Citra saat ini.

__ADS_1


“Drama ini akan terus berlangsung jika aku tetap di sini,” katanya sambil menuruni anak tangga.


Matius sibuk membujuk anak gadisnya yang keterlaluan manjanya, melebihi balita yang belajar bicara.


“Paman, aku pergi hari ini. Kegiatanku besok pagi terlalu banyak, jadi aku tidak bisa mengunjungi Paman lagi.” Berdiri tegap dengan gerakan yang pasti dan tanpa ragu-ragu.


“Ken!” panggil Citra manja.


“Tenangkan dulu dirimu! Esok kita bertemu di taman kota,” ucap Kendrick sembari memberi pesan pada Citra.


“Sungguh! Ini bukan janji palsu?” Gadis manja tersebut menegakkan tubuhnya sembari mengusap kasar wajahnya yang basah.


Beda dengan Citra, Kendrick tampak gusar menatap Kanilaras. Pria itu memberi isyarat pada wanitanya untuk diam tanpa merespons ucapan gadis kecil ini.


Cih, apa dia pikir aku cemburu? Ck, aku sama sekali tidak peduli dengan siapa dia berpelukan. Batinnya berdecih.


“Hmm,” gumam Kendrick untuk menjawab pertanyaan Citra.


Sungguh girangnya gadis kecil itu, dia jingkrak-jingkrak dan tanpa diduga Citra langsung menghambur pelukan pada Kendrick—pria matang yang memiliki banyak harta dan kekuasaan.


"Aku mau besok hanya ada kita," rengeknya penuh harapan.


"Oke, tapi biarkan aku pergi hari ini," sahut Kendrick sambil meninggalkan ruangan.


Kendrick, Kanilaras dan Beril keluar dari kediaman Matius Wilson. Terpampang jelas deretan mobil berwarna hitam dan barisan paling dengan ada mobil Lamborghini Aventador Lp 700-4 yang berwarna Arancio Argos yang akan ditumpangi Kendrick.


“Baik Tuan!” Semua soldier-nya membungkuk memberi jalan tuannya yang pergi mengendarai mobil sport merk ternama dan termahal di jagat raya.


Wajar saja jika Kendrick dapat membeli Lamborghini Aventador yang dibanderol 8,7 milyar. Tabang batu baranya saja bisa menghasilkan uang puluhan bahkan ratusan juta, belum lagi penghasilannya dari penjualan saku-saku melebihi hasil tambang batu baranya yang saat ini tengah meroket tinggi.


Seperti biasa Kanilaras masih bingung dengan kendaraan yang dia temui. Namun, kali ini wanita itu hanya memperhatikan sudut mobil tanpa melontarkan pertanyaan sekali pun.


“Kenapa kau diam saja? Apa jangan-jangan kamu cemburu,” tutur Kendrick seraya melirik Kanilaras yang duduk tegang.


“Cemburu? Yang benar saja.” Netranya bergolak malas.


Hmm, sampai kapan kau bisa menahan emosimu, gerutu Kendrick dalam hati.


Di tengah mode tenang Kendrick melontarkan pertanyaan demi memecah keheningan.


“Kau mau makan?”


“Sejak tadi aku menunggumu mengajakku makan,” balas Kanilaras dengan bibir bawahnya yang dia kulum.

__ADS_1


"Astaga, kau lapar?"


Wanita cantik itu mengangguk pelan tanpa menatap wajah tampan Kendrick.


Mobil sport itu melaju kencang membelah keramaian jalan, Kendrick membelokkan mobilnya ke rumah makan sendok garpu. Walaupun cukup jauh dari kota Jayapura, tapi restoran ini menawarkan banyak menu yang luar biasa.


Kendrick memesan makanan ter-best seller di rumah makan sendok garpu, tiga pelayan membawa pesanan makanan yang dipesan. Dari ikan bakar, papeda dengan ikan kuah kuningnya dan menu andalan lainnya.


"Kamu yakin bisa menghabiskan makanan ini?" tanya Kanilaras ketika melihat mejanya telah dipenuhi banyak piring berisikan makanan yang lezat.


"Jangan banyak bicara! Cepat habiskan makanan ini. Aku mau pergi melihat tempat di mana kita bulan madu dulu," seloroh Kendrick mencoba membuat Kanilaras tertawa.


Namun, candaan Kendrick tidak membuat wanita itu tertawa, dia malah terlihat bingung dengan ucapannya.


"Apa itu bulan madu?" cetus Kanilaras dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Kau sungguh mengikis kesabaranku! Dan apa ini? Kenapa kau makan pakai tangan, huh!" Kendrick berdecak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Memangnya kenapa?" Lagi-lagi Kanilaras membalas pertanyaan Kendrick dengan mulut yang dipenuhi makanan.


Pria itu hanya bisa tertunduk dengan tangan kiri yang memijat pangkal hidungnya.


Oh Tuhan, kenapa wanitaku seperti ini setelah terbangun dari tidur panjangnya? gumam Kendrick dalam hati.


Diliriknya Kanilaras yang lahap menyantap semua makanan yang ada di hadapannya. Seakan tersihir, Kendrick terbengong melihat Kanilaras makan dan sorot matanya yang teduh membuat wanita itu blushing.


"Tidak bisakah kau tidak menatapku seperti itu!" Menggebrak meja.


Kendrick terperanjat hingga tubuhnya terhentak.


"Kurang ajar sekali kau, ya." Mata Kendrick mendelik menatap Kanilaras yang masih mengunyah santai tanpa takut.


Ketika pria itu hendak memaki Kanilaras perhatiannya teralihkan kala ponselnya berdering.


"Urusan kita belum selesai," pungkas Kendrick dengan jari yang mengacung.


"Hmm, ada apa?"


Entah siapa yang berbicara di ujung telepon hingga rahang Kendrick mengetat dan urat pipinya mengeras.


"Cari informasi tentang kedatangannya! Bajingan tengil itu sungguh tidak punya malu." Menutup panggilan secara sepihak.


"Ayo, kita pergi!" ajak Kendrick seraya menarik tangan Kanilaras.

__ADS_1


"Ken, aku belum selesai makan!" Menatap nanar sisa makanannya.


"Nanti ku belikan lagi," pungkas Kendrick tanpa menghiraukan rengekan wanitanya.


__ADS_2