Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Kebodohan Katra


__ADS_3

Kanilaras masih menelisik wajah misterius wanita tua yang memarahinya. Sungguh tidak masuk akal, jika seseorang murka akan keberadaannya di tepi danau ini, danau yang sama saat dia diselamatkan oleh Kendrick—lord of twilight.


"Maaf jika kehadiran saya menyinggung Nyai. Keberadaan saya di sini hanya ingin menatap wajah seorang pria yang sangat saya sayang."


Alih-alih menjawab wanita tua tersebut mengambil daun pisang dan menebaskan daun tersebut ke arah Kanilaras yang masih berdiri linglung. Tubuhnya tersentak, lalu terbangun dari tidurnya.


"Hanya mimpi. Tapi ...." Netranya nyalang menatap langit-langit kamar.


Gadis itu masih terbengong menerawang wajah wanita tua yang dia impikan barusan. Dia yakin betul kalau mengenal wanita itu, tapi dia tidak mengingat identitas wanita tersebut.


Kanilaras turun dari tempat tidurnya dan berdiri dipinggir balkon menatap langit pagi yang masih gelap. Bisa diperkirakan jika saat ini masih jam 3 pagi.


****************


Di suatu tempat yang tidak begitu jauh dari Kanilaras berada. Katra tengah menyeret 2 tubuh gadis tanggung ke dalam goa.


Pria itu meletakan gadis-gadis tersebut di sebuah batu besar yang berbentuk seperti meja. Tampak seringai di wajah Katra, entah apa yang dia rencanakan kali ini yang jelas pria itu akan berbuat apa saja demi menemukan pasangan pusaka yang dimiliki Kanilaras.


"Bantu aku untuk mendapatkan dua pedang itu!" perintahnya di sela mantra yang dia ucapkan.


Tanpa dia ketahui Alingga dan juga Raja Gendra telah menunggu kesempatan ini. Dua pria tersebut merencanakan hal yang akan membuat Katra menyesal seumur hidupnya, telah membiarkan Gendra dan juga Alingga hidup.


Mantra sudah selesai dia rapalkan, kini waktunya membuka pintu ke 3 dari dunia yang berbeda. Alih-alih membuka pintu pararel Katra malah membebaskan Gendra dan Alingga.


Senyum miring terlihat di bibir Gendra. Begitu saja raja kejam itu melayang dan mencekik leher Katra.


"Kau pikir bisa mengurungku di sana selamanya, heum!" katanya menyeringai.


"Lepaskan a-aku," pinta Katra dengan suara yang tercekat.


"Kau memerintah ku?" Memutar bola mata seraya mendekatkan telinganya ke wajah Katra.


Raja Gendra mengangkat tubuh kecil Katra dengan tangan yang masih melingkar di leher. Pria itu benar-benar murka dengan balasan Katra, pria kejam itu telah menepati janjinya saat Katra memberitahu keberadaan pedang bulan.


Namun, bukannya membalas Budi kebaikan Raja Gendra, Katra bahkan berani mengelabui serta menipu Raja Gendra.

__ADS_1


"Hidup atau mati?" tanya Raja Gendra dengan rahang yang mengeras.


"H-hidup ...," jawab Katra tergagap-gagap.


Dengan teriakan yang lumayan memekakkan telinga. Raja Gendra melempar tubuh Katra sampai terbentur dinding goa.


Secepat kilat pria itu telah kembali mencengkram leher Katra lagi.


"Aku bukan manusia lemah sepertimu, bajingan!" pekik Raja Gendra dibarengi dengan goncangan kuat di goa tersebut.


Takut mengakibatkan kerusakan goa itu, Raja Gendra membawa Katra keluar dari sana dan di ikuti Alingga. Panglima perang itu melirik sekeliling hutan, dia melihat ujung bangunan black house—rumah kebanggaan Kendrick Adinata.


Dalam pikirannya dia mengira bahwa itu kerajaan. Ya, dia sama seperti Kanilaras yang berpikiran bahwa dia masih hidup di zaman kuno.


Bisa dipastikan bahwa pengkhianat Katra hampir kehabisan napas, terbersit di benaknya untuk memperbudak pria itu.


"Kuberi kau kesempatan sekali lagi. Tapi ingat! Jika kau membodohi ku lagi ...." Tangan Raja Gendra mengarah ke leher dengan gerakan menggores.


Sekuat tenaga Katra bersimpuh lalu mengangguk mengiyakan perkataan Raja Gendra. Dua pria setengah setan tersebut duduk jumawa menatap Katra yang masih mengatur ritme pernapasannya.


Mereka berdua mengikuti arahan Katra, tidak ada curiga ataupun khawatir. Beda dengan Katra—manusia licik itu memikirkan jalan lain untuk memanfaatkan kekuatan dua manusia yang berjalan di hadapannya itu.


Lihat saja! Siapa yang akan bertahan dan berjaya di masa depan ini, gumam Katra dengan senyum menyeringai.


Bukan Katra jika tidak dapat menyusun alibi dan wajah patuh di depan musuhnya. Ketika Katra menghentikan langkah dan mempersilahkan masuk ke dalam mobil, netra Raja Gendra tidak berhenti meneliti mobil berwarna hijau tersebut.


Lagi-lagi bola matanya bergulir menatap wajah Katra dengan bingungnya.


"Apa ini?" Menyentuh dengan ragu bodi mobil.


"Ini mobil. Semua manusia menggunakan beda ini untuk bepergian," jelas Katra dengan mata yang bergolak.


Alingga melirik Katra lalu bertanya, "Bagaimana cara menggunakan benda ini?" Ikut menyentuh, tapi Alingga menyentuh di bagian kap depan.


"Apa ada kekuatan di dalam ini?" Pertanyaan konyol yang membuat Katra tertawa.

__ADS_1


Lantas, Raja Gendra meliriknya dengan lirikan yang mematikan, Katra berdeham untuk mengurangi kegelian dalam hatinya.


"Itu mesin mobil. Jika jarak tempuhnya terlalu jauh, maka mesin akan terasa hangat." Membuka kap mobil dan memperlihatkan mesin di dalamnya.


Dua orang tersebut manggut-manggut memahami maksud penjelasan Katra. Sekian lama mengoceh Katra mendorong dua orang itu untuk duduk di jok belakang dan tidak lupa dia memberitahu agar tidak menyentuh apa pun di area sekitar pintu.


Mobil yang dikendarai Katra akhirnya masuk ke kawasan jalan tol. Di sinilah fenomenal memalu yang Katra alami, Raja Gendra melihat banyak mobil berbagai jenis yang lalu lalang.


Dengan suara yang menggelegar Raja Gendra berteriak.


"Kita sama!"


Alingga tersenyum dengan kepala yang mengangguk cepat, "Kelak kita bawa benda ini pulang, Paduka."


Raja Gendra tersenyum jumawa, Katra tidak habis pikir dengan kelakuan konyol dua manusia yang dia bawa. Mungkin Katra pikir kelakuan Raja Gendra cukup sampai di situ, tapi jangan salah ini baru permulaan.


Dengan segenap penasaran dalam hati, jari besar itu menekan sembarang tombol yang terletak di sisi tangan Katra. Sontak Katra terkejut saat kepala Raja Gendra keluar dan berteriak-teriak layaknya manusia bodoh.


"Anda tidak boleh melakukan hal itu, Paduka!" bentak Katra dan menekan tombol power window.


Persis seperti anak kecil, Raja Gendra terdiam saat Katra mengomel. Pengendara lain melaju kencang dan menekan klakson berulang kali, dengan berat hati Katra menurunkan kaca jendelanya.


"Kau hampir membuatku celaka, bodoh!" teriak pengemudi bertubuh tambun tersebut.


"Tolong maafkan kami," kata Katra sambil mengangkat tangannya yang saling bertautan.


Alingga yang tidak suka dengan aksi pengemudi itu langsung mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkan kepalan tangannya ke arah jendela. Suara kaca yang pecah membuat Katra kelabakan, dia melihat tapak teratai menghantam body mobil hingga mobil Avanza tersebut terguling dan menyebabkan kecelakaan beruntun.


Seringai kecil terlihat jelas di wajah Alingga, Raja Gendra menepuk bahu abdi setianya dengan senyum sumringah.


"Kau memang abdi terbaikku," tuturnya lirih.


"Abdi terbaik kepala kau bau menyan!" sergah Katra bersungut-sungut, "habislah aku kali ini!" imbuhnya sambil menjambak kasar rambut hitamnya.


Alingga dan Raja Gendra hanya bengong disertai kedipan mata tercengang.

__ADS_1


__ADS_2