Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Datang Lagi


__ADS_3

"Kau ingin membunuhku, heum!" kata Kanilaras menyadari kedua tangan Kendrick menyentuh lehernya.


"Tidak mudah untuk membunuh gadis yang disayang," sahutnya sembari menggeser posisi duduknya.


"Lalu?" Kanilaras menatap tajam pria itu dan bola matanya bergulir ke bawah melihat sebuah kalung yang melingkar di leher jenjangnya.


"Jaga baik-baik benda itu! Aku tidak mau mendengar bahwa kau menghilangkannya," tunjuk Kendrick sambil memberi pesan wanti-wanti pada gadis berdarah bangsawan.


Kendrick memberikan sebuah kalung yang berhiaskan liontin naga yang melilit sebuah pedang, mata naga tersebut terbuat dari chameleon diamond atau lebih dikenal sebagai berlian bunglon. Disebut sebagai berlian bunglon karena bisa berubah warna dari hijau zaitun menjadi kuning kecokelatan atau kuning ketika terekspos suhu tinggi.


Bukan di mata naga saja yang berhiaskan chameleon diamond di gagang pedang juga ada 7 butir chameleon diamond, cindera mata yang sangat fantastis.


Aku yakin, jika kalian yang diberi kalung berlian itu langsung kalian jual dan membeli mobil mewah dan juga sebidang tanah. Karena harga kalung berlian itu mencapai kurang lebih 8 miliar.


Mendengar ucapan Kendrick, Kanilaras mengangkat sebelah alisnya sambil mendengus.


"Kau benar-benar menyebalkan Aras," tangan kiri Kendrick mencengkram leher Kanilaras dengan sangat kuat sehingga gadis itu tersedak, tidak mau mati konyol Kanilaras menepis kasar tangan besar tersebut.


"Sebenarnya apa yang ingin kau mau dariku Ken? Sedetik yang lalu kau berkata 'tidak mudah membunuh orang yang kau sayang' lantas, ini apa?" tanya Kanilaras dengan mata yang membulat.


Pria itu diam seribu bahasa bahkan dia mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil, mata hanzel green itu nyalang menatap senyuman jalanan. Di ujung kulon hutan terlihat pusaran angin bergerak cepat yang membuat Kendrick panik luar biasa.


"Speed ​​up your movement Arden! percepat pergerakannya Arden!"


"The order is executed, perintah dilaksanakan." Mobil canggih tersebut mempercepat lajunya.


Kanilaras masih terpejam dengan tangan yang terus memainkan kalung yang baru saja Kendrick berikan. Pusaran angin itu semakin terlihat di belakang mereka, tapi Kendrick masih berusaha bersikap tenang. Namun, ketenangan yang dia ciptakan lenyap begitu saja kala mobil yang dia tumpangi melayang di udara.


"Gunakan seat belt-mu, Aras!" pekik Kendrick seraya menarik tangan kiri Kanilaras.


Kanilaras menelan kembali amarahnya tatkala netranya melihat pusaran yang sama yang dia lihat dulu. Tanpa aba-aba Kanilaras menendang pintu mobil dan menarik tangan Kendrick.


"Jangan lepaskan genggaman tangan aku!" ujar Kanilaras sembari melihat ke bawah.


Biarkan kami hidup Hyang Widi, pinta Kanilaras dalam hati.


"Apa yang akan kau lakukan Aras?"

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya, persiapkan dirimu!" Gadis itu mempererat genggaman tangannya lalu melompat dari atas mobil.


Kanilaras memeluk tubuh kekar Kendrick, lalu melompat ke satu pohon dan pohon lainnya. Gadis itu mencoba menghindari pusaran angin gelap itu, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Kendrick.


Saat tubuhnya berputar Kanilaras melihat mobil mewah itu lenyap bersama dengan pusaran angin gelap tersebut. Namun, ada satu manusia yang tertinggal di sana. Manusia yang tidak dia kenal, tapi wajah orang itu sangat familier.


Kanilaras membawa Kendrick terbang semakin tinggi, dia hanya ingin memastikan apa yang dia lihat benar.


"Apa yang kau lihat Aras?" Bukannya menjawab Kanilaras malah membungkam mulut Kendrick.


Pria itu murka, ingin sekali dia memukul wajah Kanilaras. Namun, dia malah terkesima melihat wajah ayu Kanilaras dari dekat.


"Jangan bergerak!" bisik Kanilaras, "ku bilang jangan bergerak," bentak Kanilaras lirih.


"Coba lihat kakiku!" perintah Kendrick dengan mata yang mendelik.


Bola mata Kanilaras bergulir melihat kaki kiri Kendrick dililit ular. Tanpa gerakan sedikitpun ular itu melepaskan diri dan menjauh dari mereka berdua yang masih berdiri di atas dahan pohon.


Kanilaras masih mengintai penggeraknya orang yang terlihat bingung.


Kalau terus begini, semua orang akan terus berdatangan dan mereka akan terjebak dalam dunia yang berbeda. Aku yakin mereka tidak bisa bertahan hidup di sana, kata hati Kanilaras.


"Selama ini aku tidak pernah merasakan getaran sehebat ini, apa pria itu memiliki jiwa Pedang naga?" ucap Kanilaras segera turun dari dahan pohon.


Setelah mendarat sempurna Kanilaras melepas pelukannya dan mendekatkan diri pada pria yang masih linglung menatap sekitar.


"Hei!" sapa Kanilaras dari jauh.


Pria tersebut terkesiap melihat gadis cantik berpakaian aneh menghampirinya.


"S-siapa kamu?" tanya pria itu gugup.


"Aku Kanilaras, putri dari kerajaan Kastara yang dipimpin oleh Raja Daneswara." Kanilaras memperkenalkan dirinya penuh hormat dan sopan.


Pria itu menatap intens Kanilaras dari ujung kaki sampai ujung kepala, terlihat bahwa pria itu tidak memercayai penuturan Kanilaras barusan.


"Kau tidak percaya?" Kening Kanilaras mengernyit, "dari mana asalmu?" timpal Kanilaras.

__ADS_1


"Aku?"


Gadis itu mengangguk cepat, di samping pohon Kendrick menahan emosi melihat keganjenan Kanilaras.


"Apa aku tidak tampan!" Memukul pohon dengan tinjuan yang cukup keras hingga tangannya memerah.


"Aku Ananda Dharmawangsa putra mahkota kerajaan Sertayosa." Terlihat jumawa saat dia memperkenalkan diri.


"Rupanya engkau anak Paman Dharmawangsa," ujar Kanilaras santai.


Pemuda itu tersentak mendengar Kanilaras menyebutkan nama ayahnya.


"Dari mana kau mengenal ayahku?" Pemuda itu mencoba mengintimidasi Kanilaras dengan tatapan matanya yang tajam.


Namun, usahanya tidak membuat Kanilaras takut bahkan dia tersenyum tipis melihat aksi Ananda.


"Ayahandaku kakak sepupu ibumu," tutur Kanilaras dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Ck, aku tidak percaya denganmu!" tukas Ananda memalingkan wajahnya.


"Dasar bocah!" cibirnya seraya menelisik pria yang jauh lebih kuda darinya.


"Cukup main-mainnya Aras. Ayo, kita pulang!" ajak Kendrick seraya merangkul bahu Kanilaras.


Gadis itu melirik tajam prianya dan melepas paksa rangkulan tangan Kendrick.


Tanpa malu-malu Ananda mendekat dan berbisik, "Apa kau tahu jalan pulang?"


"Kau tidak akan menemukan jalan pulang di sini," kata Kanilaras menjawab pertanyaan Ananda.


Lagi-lagi pedang bulan bergetar hebat lalu pusaka tersebut terlepas dari sarungnya.


Ketiga orang tersebut mendongakkan kepala melihat pedang bulan yang berputar-putar di atas kepala mereka.


Apa mungkin pedang bulan merasakan keberadaan pedang naga, tanya Kanilaras dalam hati.


Saat masih tercengang dengan fenomenal ini, bulan memancarkan cahaya sangat terang dan sinarnya menerangi pedang bulan. Pantulan cahaya itu membuat pedang bulan merubah posisinya yang semula terbaring kini berdiri tegak, pahatan pedang mengalirkan air yang sangat jernih dan air tersebut menetes tepat di salah satu pria yang ada di hadapan Kanilaras.

__ADS_1


"Aku tidak menduga akan menemukanmu di sini," kata Kanilaras terheran-heran.


__ADS_2