Jodoh CEO Yang Hilang

Jodoh CEO Yang Hilang
Bab.27 Kepercayaan Yang Mulai Hilang


__ADS_3

Ara yang sangat mempercayai suaminya itu, pulang dari Restoran dengan hati yang tenang. Dia tidak ingin berpikiran macam-macam, kepercayaan dalam sebuah hubungan pernikahan adalah hal yang paling penting selain kesetiaan. Dia percaya kalau suaminya sangat setia padanya.


Saat suaminya pulang sudah sekitar jam 10 malam, suaminya itu belakangan ini memang sering pulang malam. Suaminya memberikan alasan, bahwa dia sedang mengerjakan proyek yang sangat penting sehingga harus lembur.


Ara percaya apapun yang dikatakan suaminya itu, karena dia sangat mencintainya. Dia tidak ingin karena kecurigaan yang tak beralasan, membuat hubungannya dan suaminya terjadi kesalahpahaman dan menjadi renggang.


"Sayang....kamu pasti capek." Tanya Ara sambil mendekati suaminya yang memasuki kamar mereka, lalu mencium dan memeluk suaminya manja.


"Hem.....iya. Aku ke kamar mandi dulu ya sayang, badanku lengket banget." Ucap suaminya sambil berjalan masuk ke dalam bathroom.


Ara merasakan keanehan pada suaminya itu, karena biasanya jika dia memeluknya, suaminya itu akan membalas memeluknya dan menciumnya kembali.


Sedangkan Tony yang berada di kamar mandi sedang berbicara pada dirinya sendiri. "Maaf sayang, aku semakin hari semakin merasa bersalah padamu. Waktuku untuk bersamamu menjadi lebih sedikit, karena aku harus menemani Lia. Penyakitnya selalu kambuh, jadi aku harus menemaninya sampai dia tertidur dulu, baru aku bisa pulang." Gumamnya merasa bersalah.


Dia melanjutkan perkataannya. "Aku melakukannya hanya karena merasa kasihan, dia tidak punya siapa-siapa yang bisa mengurusnya. Bagaimanapun, dia sudah ku anggap keluargaku sekarang." Dia menghela nafasnya berat.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua. Ara yang bertanya-tanya ada apa dengan suaminya, kenapa sikapnya terasa berbeda. Sedangkan Tony merasa bersalah, sampai dia tidak berani untuk menatap mata istrinya apalagi bermesraan dengannya.


Itu lah awal dari tragedi, dalam mahligai rumah tangga mereka.

__ADS_1


Sejak saat itu, sudah hampir satu bulan hubungan mereka terasa menjadi hambar dan merenggang karena jarangnya komunikasi. Setiap hari Tony pulang kerja selalu tengah malam dan ketika itu Ara sudah tertidur. Ketika pagi suaminya selalu pergi ke kantor pagi sekali, bahkan sebelum Ara terbangun.


Bahkan saat hari libur pun Tony selalu tidak ada di rumah dan pergi keluar, dia beralasan pada Ara dengan alasan pekerjaan.


Akhirnya Ara pun sudah tak tahan lagi untuk bertanya, sebenarnya ada apa dengan suaminya itu, karena dia sudah mulai meragukan suaminya.


Ara memulai perbincangan. "Sayang....bisakah besok temani aku periksa baby ke Rumah sakit?." Pintanya pada Tony, karena suaminya itu sudah lama sekali tidak pernah menemaninya untuk periksa kandungannya. Ara hanya selalu ditemani Nenek atau ibu mertuanya.


"Maaf...tapi aku ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Bukankah kamu selalu pergi dengan nenek atau mama?." Tolak Tony.


"Tapi sayang, kamu sudah lama tidak temani aku periksa. Besok aku berencana USG, ingin tau jenis kelamin baby. Apa kamu tidak penasaran?." Kata Ara lagi pada suaminya.


"Maaf...tapi aku benar-benar tidak bisa.


Ara langsung merasa tidak senang, dia pun semakin curiga pada suaminya. Sikapnya semakin hari semakin berubah, dulu apapun keinginannya selalu suaminya setujui.


Ara yang merasa sangat marah pun segera bersiap tidur dengan hatinya yang tidak tenang, tadinya dia ingin berbicara tentang mengapa sikap suaminya berubah padanya. Tapi saat suaminya menolak permintaannya, dia sudah terlanjur marah dan tak ingin berbicara pada suaminya lagi.


Siang harinya Ara pun pergi periksa ke Rumah sakit ditemani ibu mertuanya saja karena neneknya sedang tidak enak badan. Ketika sudah sampai ruang kandungan, ibu mertuanya bilang lupa meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Ibu mertuanya pun pergi kembali ke tempat parkir Rumah sakit, untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


Sedangkan Ara yang tinggal sendiri di depan pintu ruang kandungan baru saja akan mengetuk pintu, tak sengaja sudut matanya melihat suaminya sedang menggandeng seorang wanita di koridor Rumah sakit. Mereka berdua berjalan menuju entah kemana, Ara pun segera tersadar dan mengejar suaminya itu, tapi dia kehilangan sosok suaminya.


Saat Ara masih terbengong, ibu mertuanya sudah kembali dan memanggil namanya. Dia pun langsung kembali ke tempat ruang kandungan dan langsung masuk ke dalamnya.


Sedangkan Tony sedang mengelus dadanya karena kaget dan takut. Saat dia berjalan di koridor tadi, dia melihat istrinya sedang berdiri dan melihatnya. Saat istrinya berjalan ke arah nya, dia sadar istrinya sudah mengenalinya. Dia pun cepat-cepat membawa Lia lari dan segera bersembunyi.


Lia yang sangat heran pun kemudian bertanya. "Ada apa kak? Kenapa kita lari dan sembunyi?." tanyanya.


"Tidak apa-apa, ayo kita pergi periksa tubuhmu lagi, biar kamu cepat sembuh." Balas Tony.


Sebenarnya Tony memang tidak bisa menemani istrinya, karena sekarang jadwal Lia untuk berobat. Dia hanya berpikir jika Lia rutin berobat dan dirawat, Lia akan segera sembuh dari sakitnya. Jika Lia sudah sembuh, dia bisa menjelaskan dengan jujur kepada semua orang tentang Lia.


Dia juga akan menjelaskan pada Lia, bahwa dirinya sudah menikah dan sangat mencintai istrinya, bahkan dia akan segera menjadi seorang ayah. Tapi sebelum Lia sembuh dia belum bisa mengatakan yang sebenarnya, karena takut Lia menjadi drop dan penyakitnya tidak bisa disembuhkan.


Sebenarnya Tony sudah tidak sabar ingin segera Lia sembuh dan menemani istrinya lagi, karena dia juga merasakan jika waktunya untuk istrinya sudah tidak ada.


Tony juga sudah merasakan kalau Ara sudah mulai mencurigainya, dia tidak ingin berlama-lama membohongi istrinya lagi. Dia takut jika suatu saat istrinya tahu bahwa dia selalu membohonginya, istrinya tidak akan pernah memaafkannya.


^Bersambung^

__ADS_1


Jangan lupa Like & Komen...


Makasih 😍


__ADS_2