Jodoh CEO Yang Hilang

Jodoh CEO Yang Hilang
Bab.28 Foto Perselingkuhan


__ADS_3

Ara sudah pulang kembali ke rumah dan membawa hasil USG yang menunjukkan jenis kelamin bayinya adalah laki-laki. Dia merasa sangat bahagia, ibu dan nenek mertuanya tentu saja juga bahagia. Ara sudah tak sabar, ingin segera memberitahukan kepada suaminya.


Tapi saat memikirkan suaminya, dia langsung teringat kejadian di Rumah Sakit tadi. Benarkah itu suaminya atau dia hanya salah lihat, tidak mungkin suaminya menggandeng wanita lain kan.


Malam harinya Ara sengaja belum tidur dan menunggunya suaminya, dia benar-benar sudah tak sabar ingin segera memberitahukan berita bahwa anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


Tapi seperti biasanya, meskipun sudah larut malam, suaminya belum pulang juga. Bahkan dia menunggunya sampai jam 1 pagi, tetap saja suaminya tak pulang. Akhirnya dia tak bisa menahan rasa kantuknya lagi, dan terlelap mengunjungi alam mimpi.


Sekitar jam 3 pagi Tony akhirnya pulang, dia masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya itu masih terlelap di tempat tidur. Tony merasa bersalah karena tidak pulang semalaman, dia menjaga Lia yang merasa kesakitan di apartemen dan tak bisa meninggalkannya.


Dia berjalan pelan melangkah mendekati ranjang, lalu mengecup dahi istrinya lembut. Dia pun tak ingin membangunkannya dan langsung berjalan masuk ke bathroom untuk membersihkan badannya.


Kemudian dia berganti pakaian dan berbaring di samping istrinya yang sedang tertidur itu, dia melihat wajah istrinya yang cantik dan sudah terpancar aura keibuannya.


Tony pun tak lupa mencium perut besar istrinya, kandungannya sudah hampir menginjak 7 bulan, dia sangat menyesal tidak bisa menemani istrinya selama ini.


Keesokan pagi nya seperti biasanya, Ara yang terbangun sudah tak melihat sosok suaminya di sampingnya. Dia sungguh kecewa karena dia sudah menunggu semalaman, tapi sampai terbangun pun dia tidak bisa bertemu dengan suaminya, dia merasa hatinya sangat sakit.


Ara pun berencana mengunjungi ayahnya untuk memberitahu hasil USG kemarin, karena kemarin ayahnya juga baru pulang dari luar kota. Dia pun cepat-cepat membersihkan diri dan memakai pakaiannya, kemudian turun untuk sarapan. Dia berbincang sebentar dengan nenek dan ibu mertuanya, lalu segera pergi menuju rumah ayahnya.


Saat di dalam mobil ada notif pesan yang masuk ke ponselnya, dia langsung melihatnya dan ternyata itu adalah kiriman foto. Dia membuka pesan berupa foto tersebut, dia sangat terkejutnya saat melihat foto-foto itu.


Foto pertama adalah foto dimana suaminya digandeng mesra, oleh seorang wanita di tempat parkir sebuah apartemen. Lalu foto kedua adalah foto suaminya saat sedang makan bersama wanita yang sama, di restoran yang sama saat dia makan bersama Tia waktu itu. Foto ketiga adalah saat suaminya itu menggandeng wanita yang sama, masuk ke dalam sebuah rumah sakit.


Ara menutup mulutnya tak percaya, dia menahan tangisannya tapi ternyata tetap tak bisa menahannya. Dia terisak menangis sambil memegang perutnya yang sudah besar di dalam mobil.

__ADS_1


Supir keluarga yang sedang mengendarai mobil itu pun heran, dia melirik ke kursi belakang dari kaca spion karena cemas mendengar nyonya nya menangis.


"Nyonya....anda kenapa?." tanya si supir, masih sambil menyetir.


"Tidak apa-apa...terus saja jalan pak." Jawabnya sambil menahan isakan tangisnya.


Kemudian supir itu pun tetap melajukan mobilnya, sedangkan Ara yang masih melihat foto-foto itu sedang berpikir, kenapa suaminya tega mengkhianatinya?.


Tak lama kemudian sampailah Ara di rumah ayahnya, dia sebenarnya ingin membatalkan bertemu ayahnya karena hatinya sedang tak karuan. Tapi sudah lama sekali dia tidak bertemu dengannya dan juga dia masih mengkhawatirkan kesehatan ayahnya itu.


Saat Ara sudah turun dari mobil dan mengetuk pintu, ternyata pintunya langsung terbuka dan tidak terkunci. Dia seketika merasa aneh karena biasanya pintu selalu dikunci, lalu muncul firasat tak enak dalam hatinya, dengan secepatnya dia masuk ke dalam rumah. Disaat dia mendekati tangga, dia langsung terpaku melihat ayahnya terbaring dibawah tangga, dengan darah di kepalanya yang sudah membanjiri lantai.


"Papaaaaaa....!." Teriaknya sambil berlari pelan menghampiri ayahnya.


Saat Ara ingin mengambil ponselnya, Ayahnya menahan tangannya dan menyuruh dia mendekatkan telinganya.


Ara yang panik pun menuruti keinginan ayahnya, lalu dia mendekatkan telinganya pada mulut ayah nya.


"Putri....ku...sayang...ada...yang....harus..papa..katakan...padamu...nak." Ucap ayahnya yang sudah lemah.


"Nanti saja pah, sekarang yang paling penting membawa papa dulu ke rumah sakit....." Suaranya bergetar menahan tangis.


"Ti....dak...papa...harus...mengatakannya....sekarang..sebelum....terlambat." Ucap ayahnya lagi.


"Sebenarnya, kamu...bukan..anak...kandung papa dan mama....." Suara ayahnya semakin lirih.

__ADS_1


"Kamu...papa ambil dari panti asuhan...karena papa dan mama...tidak..bisa..punya...anak." ayahnya semakin bernafas pendek.


"Di laci...ruang...kerja...papa, ada...sebuah foto...saat...papa...mengambilmu dari...panti dulu, saat itu umur...mu 12 tahun, tapi karena..saat...itu..kamu...amnesia...kamu tidak ingat siapa dirimu."


"Yang...pa...pa...tau...kamu...memakai...sebuah kalung, carilah...keluarga...kandung...mu...dengan...kalung...itu...dan...mulailah...dari...panti...asuhan...kasih ibu." Ucap ayahnya semakin tak terdengar jelas.


"Papa.....huhuhu.....Ara mohon jangan tinggalin Ara." Tangisnya histeris.


"Maaf....kan...pa..pa...harus...meninggalkan...mu, cari....pengacara...pa...pa...Bu...di..."


"Hati.....hati....pada...ibu....dan....adik...tirimu." Akhirnya ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengatakannya.


"Tidakkkkkkk! Pa....pa..." Teriaknya semakin histeris, sampai terdengar keluar oleh supirnya.


Supirnya pun terkejut dan langsung berlari masuk ke dalam rumah, karena dia takut ada yang terjadi pada nyonyanya.


Alangkah kagetnya supir itu, dia melihat nyonyanya sedang memeluk tubuh ayahnya yang berdarah dan darahnya sudah menggenangi lantai.


Supir itu pun segera menghampiri nyonya nya, kemudian memeriksa urat nadi leher ayah nyonyanya dan ternyata beliau sudah tak bernyawa.


"Nyonya...ayah anda sudah tak bernafas." ucap supirnya menatap kasihan pada majikannya itu. "Saya akan memanggil ambulans." Supir itu pun segera menekan nomer ambulans di ponselnya.


Akhirnya jasad ayahnya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan, di dalam perjalanan Ara hanya terdiam linglung, memikirkan kenapa sekarang semua kemalangan terjadi padanya.


^Bersambung^

__ADS_1


__ADS_2