Jodoh CEO Yang Hilang

Jodoh CEO Yang Hilang
Bab.58 Melewati Masa Kritis.


__ADS_3

Para ahli medis terbaik sedang melakukan semua upaya dan kemampuan terbaik mereka, apalagi pasien yang mereka tangani adalah penerus dan calon pemilik Rumah sakit ini.


Tony yang sudah kehilangan kesadarannya, harus segera menjalani Operasi dan mereka akhirnya memindahkan nya ke ruangan Operasi dan segera bertindak.


Para Dokter mengeluarkan peluru dari perutnya dan segara melakukan pertolongan lainnya. Tony sudah kehilangan banyak darah, untung saja di rumah sakit ini tidak kekurangan persediaan darah karena ada Bank darah. Sehingga Tony bisa lebih cepat ditangani dan akhirnya kondisinya sudah melewati masa kritis.


Aulia masih panik menunggu diluar, akhirnya setelah Operasi yang sangat lama para Dokter pun keluar dari ruangan Operasi. Dokter memberitahunya bahwa suaminya sudah melewati masa kritis dan tinggal menunggunya siuman. Dia pun berterima kasih kepada para Dokter, dan tak lama suaminya sudah didorong keluar ruangan dan akan segera dipindahkan ke ruangan perawatan.


Ruangan untuk Tony tentu saja adalah ruangan khusus untuk pemilik rumah sakit. Disana semuanya serba ada, semuanya barang-barang mewah. Tony dibaringkan di ranjangnya dan segera di pasangi semua peralatan medis yang diperlukan.


Aulia melihat wajah suaminya yang putih seperti tak ada darah sama sekali, bibirnya juga sangat pucat.


Dia yang melihat keadaan suaminya seperti itu sekali lagi menangis, dia menggenggam erat tangan suaminya, lalu mencium lembut semua setiap inci wajahnya. Ketika dia duduk kembali di samping suaminya, terdengar suara ketukan pintu, dia pun mempersilahkannya masuk.


Ternyata yang datang adalah Angga, dia tidak ikut menyelamatkan istri Bos-nya karena dia adalah pengganti Tony di perusahaan jika Tony sedang berhalangan hadir. Beberapa saat lalu, dirinya sedang rapat dengan para karyawan. Lalu ada yang memberinya kabar, bahwa Bos serta sahabatnya itu tertembak dalam upaya menyelamatkan Istrinya.


Sekarang saat Angga melihat Bos-nya itu terbaring lemah dan sangat pucat seperti mayat. Dia sampai tertegun dan tak kuat menahan air mata yang melewati pipinya.


Angga mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, dia berjanji akan membalas dengan setimpal dengan apa yang menimpa sahabatnya itu.


Angga sebentar berbicara dengan Aulia. Dia pun pamit pergi, dan tak lupa sebelum pergi, dia menelepon pengurus rumah Tony untuk menyiapkan semua keperluan Tony dan Aulia selama berada di Rumah sakit. Dia juga memanggil perawat untuk merawat Istri Bos nya itu, karena sepertinya Aulia sedikit terluka.


Pengurus Rumah pun sibuk mempersiapkan keperluan Tuan dan Nyonya mereka selama di rumah sakit. Rio yang sudah mendengar kabar tentang Ayah dan Ibunyapun memaksa si pengurus rumah untuk bisa ikut ke rumah sakit. Tentu saja pengurus rumah tidak bisa menolak majikan kecilnya.


Sedangkan Angga langsung menelepon ketua dari para pengawal Tony dan bertanya kemana mereka membawa para bajing*n itu. Penjahat yang sudah berani menculik istri Bos-nya dan membuat sahabatnya itu terbaring tak berdaya di Rumah sakit, dia ingin segera membalasnya.

__ADS_1


Angga mendengarkan semua perkataan dari si ketua, kalau para penjahat yang terlibat termasuk Bos jahat mereka, sudah mereka bawa semuanya ke Villa milik Tony. Di Villa itu, di bawah tanah ada sebuah bangunan dengan banyak sel seperti di penjara. Para penjahat itu sudah mereka kurung di sana, Angga dengan secepatnya pergi ke sana.


*


Sesampainya di sana, Angga melihat para penjahat itu sudah babak belur. Tapi yang dirinya cari adalah Bos mereka Andi, yang sudah berani menembak sahabatnya. Ketua pengawal pun menunjukan jalannya kepadanya, karena Andi berada di dalam ruangan sel yang berbeda dengan anak buahnya.


Setelah sampai, Angga segera menendang pintu ruangan tersebut dan langsung menghampiri Andi. Tanpa berbasa-basi dia segera memukulnya, dia juga mencari suatu alat untuk menghukumnya. Dia akan membuatnya memilih lebih baik mati daripada hidup, sebelum dirinya mengirimnya ke polisi.


Angga melihat ada sebuah palu besi di meja, dia pun mengambilnya dan berjalan mendekati Andi dengan memegang palu besi tersebut.


Andi yang melihat tatapan Angga yang sudah seperti orang gila, dia pun mengerti bahwa dia akan disiksa lebih dulu sebelum mati.


"Si*lan! Kau sudah gila, bunuh saja aku sekarang! Lebih baik aku mati, daripada memberi kepuasan padamu! Cuih!." Kata Andi sambil meludahinya.


Dug !!! dug !!! dug !!!.


Angga memukulkan palu besi itu ke jarinya satu persatu dan terdengar suara patahan tulang.


Andi pun menjerit kesakitan, tapi Angga terus menerus memukulkan palu besi itu sampai kesepuluh jari tangan Andi benar-benar patah semuanya. Setelah itu Angga tersenyum puas, sedangkan Andi sudah lemas kesakitan tak berdaya.


Setelah melakukannya, Angga pun melempar palu besi tersebut dan segera berbalik badan pergi dari sana. Lalu sebelum pergi dia memerintahkan, jangan sampai ada yang memberikan makanan dan minuman kepada para bajing*n itu selama 3 hari agar mereka kelaparan. Dia berkata lagi, setelah itu mereka boleh mengirimkan penjahat-penjahat itu ke kantor Polisi beserta bukti-buktinya.


*


Di Rumah besar Nenek dan Ibunya Tony, setelah mendengar kabarnya langsung pergi ke Rumah sakit. Begitu juga dengan Rio, dia kini sedang menuju Rumah sakit ikut dengan pengurus rumah. Mereka semua pun sampai di Rumah sakit dan segera masuk ke Ruangan khusus dimana Tony berada.

__ADS_1


Tentu saja Nenek dan Ibunya menangis, sedangkan Rio hanya berwajah sedih dan naik ke ranjang tempat ayahnya itu berbaring tak sadarkan diri. Dia duduk di sampingnya, lalu dia mengambil tangan ayahnya dan memegangnya erat lalu berkata.


"Daddy, apakah kamu tidak mendengarkan ku? Rio bilang gunakan alat itu saat daddy dalam bahaya, apa daddy tidak mendengarkan perintahku?." Ucapnya pada ayahnya dan terdengar ada sedikit nada marah dalam suaranya.


Aulia dan Nenek buyut serta Neneknya hanya diam mendengarkan, karena mereka tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Rio.


Rio pun melanjutkan ucapannya, tanpa memperdulikan mereka yang ada di sana.


"Ayolah dad.....bukankah daddy bilang, daddy adalah pria paling tangguh sedunia dan akan selalu melindungiku dan mommy. Jika daddy berbaring seperti sekarang, itu artinya daddy tidak bisa melindungi kami. Jadi aku akan membawa mommy pergi darimu dan akan melindunginya sendiri!." Ancamnya.


Tiba-tiba bulu mata Tony mengerjapkan dengan perlahan, ketika anaknya berbicara seperti itu. Lalu dengan pelan tapi pasti, akhirnya dia membuka kedua matanya dan langsung menatap wajah putranya itu dengan tatapan tajam.


"Kamu...bocah nakal, berani mau menjauhkan mommy dari daddy...." Akhirnya Tony sadarkan diri.


Semua yang berada di sana pun merasa senang, akhirnya Tony sudah sadar. Apalagi Aulia, dan tanpa sadar dia memeluk suaminya, sampai membuat Tony memekik kesakitan.


"Aww....." Pekiknya.


"Oh....maafkan aku sayang. Aku tak sengaja, aku hanya sangat bahagia."


"Yo dad, daddy akhirnya sadar juga. Daddy bersedia sadar, saat aku mengancam mu dengan mommy. Dasar pria bucin!." Ucap Rio meledeknya.


Mereka semuanya akhirnya tertawa dan juga merasa sangat bersyukur, karena Tony akhirnya sekarang keadaannya sudah tidak berbahaya lagi dan juga sudah kembali pada mereka.


^Bersambung^

__ADS_1


__ADS_2