
Tony dan Aulia hari ini berencana tidak melakukan apapun, mereka hanya ingin bersantai untuk melepaskan semua kerinduan mereka selama ini. Mereka berdua akhirnya hanya bermalas-malasan di dalam kamar, satu-satunya aktivitas yang mereka lakukan hanyalah berolahraga di atas ranjang.
Mereka seperti pengantin baru yang baru saja menikah, mereka merasa selama ini sudah sia-sia membuang waktu mereka karena berpisah, hanya karena suatu kesalahpahaman yang berasal dari kurangnya berkomunikasi.
Mereka merasa dalam suatu rumah tangga selain kesetiaan dan kepercayaan, tentu saja faktor penting juga adalah komunikasi. Karena jika sudah tidak ada komunikasi yang baik dan saling jujur antar pasangan, pasti akan berakhir seperti mereka berdua.
"Sayang, kapan kamu mengetahui kalau aku adalah Aulia asli? Lalu, saat pesta pembukaan hotelku, kenapa kamu bisa berada di sana? Aku merasa tidak pernah memberikan undangannya padamu?." Aulia bertanya apa yang selama ini menjadi pertanyaannya.
"Hmm, menurutmu aku tau dari mana?." Tony menjawabnya asal, tangannya sedang memainkan rambut istrinya.
"Sebenarnya aku curiga pada paman, apakah benar dugaan ku?."
"Bingo! Jika bukan karena undangan dari paman Jerry, aku bahkan lupa kalau kamu masih mempunyai paman dari pihak ibumu. Karena setelah kamu menghilang dulu disaat menjadi tunangan ku, aku sangat kehilangan mu sampai tidak perduli dengan yang lainnya." Tony mengangkat bahunya.
"Aku pun akhirnya datang kesini, setelah menyelidiki semuanya dan sangat penasaran dengan anak pamanmu yang bernama Aulia Liu. Karena seingat ku paman hanya punya dua anak perempuan, dan aku juga kenal dengan mereka. Lalu timbullah rasa curiga dan rasa penasaran ku, akhirnya aku memutuskan pergi kesini. " ucapnya sambil mengecup dahi istrinya lembut.
"Saat aku melihatmu di pesta itu, dan ketika kamu lari, aku langsung mengejar mu. Tapi malah berakhir dengan kepergiamu dan sekali lagi kehilanganmu. Setelah itu aku masuk kembali ke dalam ruangan pesta dan akhirnya pamanmu meminta bertemu denganku. Pamanmu menjelaskan semuanya padaku, lalu kami merencanakan semua hal yang bisa membuatku mendapatkan mu kembali." Ucapnya bangga karena akhirnya semua rencananya sukses.
"Aku bersyukur mengikuti kata hatiku dengan datang kesini, yang akhirnya menemukan mu. Kalau tidak, aku akan menyesalinya seumur hidupku."
__ADS_1
"Lalu kamu sayang, kata paman ingatanmu telah kembali dua tahun lalu. Apakah kamu benar-benar sudah mengingat segalanya tentang masa kecil kita?." Sambil bertanya, Tony menarik tubuh polos istrinya yang hanya terbungkus selimut ke dalam pelukannya.
"Hm...tentu saja." Jawab Aulia.
"Benarkah? Lalu apa yang kamu ingat?." Tanyanya penasaran.
"Apakah aku harus menjelaskan semua yang aku ingat? Pokoknya aku sudah ingat semuanya." Katanya sambil cemberut.
"Bukan begitu sayang, aku hanya ingin tau apakah kamu masih ingat janji kita dulu?." Godanya pada Aulia.
"Janji apa? Sepertinya aku lupa, atau aku bukanlah Aulia yang asli?." Aulia pura-pura lupa dan berpura-pura berpikir untuk mengerjai suaminya itu.
"Ha....ha...ha..., kenapa kakak jaim ku masih seperti dulu. Cepat sekali marah, kapan sifat arogan mu itu hilang. Tentu saja aku ingat, kita berjanji akan menjaga hati kita dimana pun berada. Bukankah kamu yang mengingkarinya, karena sudah jatuh cinta pada Aurora. Huh! Dasar bukan pria setia." Aulia berpura-pura mendelik kesal, padahal suaminya jatuh cinta kedua kalinya padanya.
"Dasar wanita pencemburu, dirimu sendiri saja kamu cemburui. Aku tak menyangka akan jatuh cinta dua kali pada wanita yang sama, hidupku sungguh lucu." Tony tersenyum lembut pada istrinya.
"Yahhhhh......hidup tidak ada yang tahu. Apakah kamu pernah merasa menyesal jatuh cinta pada Aurora dan mengkhianati Aulia?." Tanya Aulia tak masuk akal.
"Pertanyaanmu tidak relevan, karena Aurora dan Aulia adalah wanita yang sama. Jadi, no komen." Tony menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu bohong, dulu saat kita bersama, kamu pernah menangis. Apakah waktu itu kamu menangis karena telah mengkhianati Aulia karena mencintai Aurora? Ayo, jawab." Aulia masih belum puas.
Tapi Tony tetap tak menjawabnya, karena dia tak mengerti jalan pikiran istrinya. Padahal Aurora dan Aulia wanita yang sama, kenapa harus membahas masalah yang sangat sederhana.
Tony pun tak ingin Istrinya bertanya lagi, dia pun segera menerkam Istrinya. Dia langsung menggigit bibir istrinya, lalu turun ke lehernya. Bibirnya turun lagi semakin ke bawah, ke arah kedua gunung kembarnya.
Aulia tak kuat menahan er*ngan nikmatnya, Tony yang mendengarnya semakin bersemangat melancarkan serangannya. Dia melanjutkan serangannya turun semakin bawah, dari perut hingga sampai di bagian bawah istrinya.
Tony pun segara menundukkan kepalanya ke dalam kelembutan istrinya yang ternyata sudah basah, kemudian dia melancarkan serangan berikutnya dengan cepat dan mengulum kelembutan istrinya itu.
Aulia yang sudah tidak tahan pun berteriak, dengan suara yang sudah serak memanggil nama suaminya dan menarik kepala suaminya kembali ke atas.
"Sayang.....aku sudah tidak tahan, aku mohon." desahnya.
Tony yang mendengar istrinya mendesah dan sudah memohon pun tak membuang waktu lagi, dia langsung memasuki tubuh istrinya dengan semangat tempur yang menggebu-gebu. Setelah tubuh mereka menyatu, mereka pun saling menyerang.
Setelah saling menyerang dengan ganas dan mereka merasa sudah tak bisa menahannya lagi, akhirnya peperangan itu pun berakhir dengan l*nguhan nikmat dari mulut keduanya karena sampai di puncaknya. Mereka saling memanggil nama pasangan mereka dengan penuh kepuasan.
^Bersambung^
__ADS_1