
Setelah Austin pergi, Aulia juga segera melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Tanpa berkata apapun, dia segera berjalan pergi untuk membayar bill pembayaran. Kemudian dia dengan cepat pergi keluar restoran dan berjalan ke arah mobilnya, ketika tangannya sudah membuka pintu mobilnya, ada sebuah tangan besar menghalanginya.
"Ara sayang, maksudku Lia. Bisakah kamu memberikanku kesempatan untuk bicara, aku tidak akan mengambil banyak waktumu. Sebentar saja...hem." Pintanya dengan wajah memelas kepada istrinya itu.
"Minggir! Aku harus kembali ke perusahaan." Aulia yang sudah tak sabar Akhirnya membentaknya, lalu dia segera membuka pintu mobilnya kembali dan segera masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya pergi menjauh dari sana.
Akhirnya Tony menyerah, karena sebenarnya ini memang diluar rencananya. Dia sebenarnya tidak berniat menampakkan dirinya di depan istrinya dalam waktu dekat ini, tapi karena kejadian tidak terduga barusan, sepertinya dia harus memajukan rencananya itu. Dia segera menekan nomer telepon putranya, dan kemudian pamannya.
Aulia yang melajukan mobil menginjak gas mobilnya dengan kencang, dia masih tidak menyangka akan bertemu suaminya dengan keadaan memalukan seperti itu. Dia bertanya-tanya kenapa suaminya bisa ada di restoran di waktu yang tepat.
"Apa dia telah menemukanku dan selama ini selalu mengikuti ku? Apakah bunga itu juga darinya? Ah....sepertinya memang benar. Jika aku sekarang memikirkannya, itu semua semakin masuk akal. Tidak mungkin Tony berada di restoran karena kebetulan bukan?!." Gumamnya geram.
*
Sedangkan Pamannya di rumah baru saja menutup telepon dari suami keponakannya itu, dia kemudian menghampiri cucunya yang sedang berada di kamarnya.
"Boy, apakah ayahmu tadi menelepon mu?." Tanya Paman Aulia.
"Iya kek, tadi ayah telepon. Jadi gimana kek dengan rencana ayah, kakek ikut...?." Tanya Rio padanya.
"Apa kamu benar-benar menginginkan tinggal bersama ayah dan ibumu?." tanyanya lagi pada Rio.
"Tentu saja kek, itu harapan terbesarku selama ini. Tapi aku menahannya, karena takut menyakiti Mommy." Ucap Rio sedih.
"Baiklah....kita lakukan rencananya sekarang." Lanjutnya.
"Yeay.....makasih kakek. Kakek memang adalah kakek yang terbaik." Rio berkata senang sambil memeluk dan mencium pipinya.
Mereka pun segera membuat persiapan dengan hati-hati, agar Aulia tidak curiga pada mereka.
*
__ADS_1
Aulia sudah kembali ke perusahaannya, dia segera masuk ke ruangan kantornya. Dia langsung menyibukkan dirinya sendiri, dia tidak mau memikirkan tentang suaminya itu, karena jika memikirkannya kepalanya menjadi pusing.
Ketika dia sedang menandatangani sebuah dokumen, ponselnya berbunyi dan terlihat Pamannya lah yang meneleponya. Dia pun segera mengangkatnya.
"Halo.....paman, ada apa?." Tanyanya.
"Kamu cepat ke Rumah sakit, Rio alerginya kambuh. Cepat...!." Ucap pamannya dari seberang telepon dengan panik.
Aulia yang mendengarnya pun langsung menutup teleponnya dan segera berlari keluar dengan paniknya, semua pegawai memandanginya karena dia berlari seperti sedang mengejar sesuatu.
Tak berapa lama, Aulia sampai di Rumah sakit dan langsung keluar dari mobilnya. Dia segera berlari ke arah ruang rawat yang biasa Rio selalu tempati jika sedang kambuh, Rio sudah biasa dirawat karena kondisi penyakitnya yang terkadang kambuh.
Dia segera masuk ke dalam kamar rawat putranya itu, terlihat masker yang sudah dipasang di wajahnya. Aulia langsung menangis sambil berjalan mendekati ranjang putranya.
"Sayang, mommy sudah datang. Kamu pasti akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun padamu...." Tangisnya sambil mencium anaknya, lalu tangannya menggenggam tangan anaknya.
Rio yang sedang berpura-pura sakit sebenarnya tidak tega dan ingin mengakhiri sandiwaranya saat melihat ibu nya menangis. Karena air mata ibu nya adalah kelemahannya juga, tapi saat mengingat ayahnya akhirnya dia menahan dan melanjutkan sandiwaranya.
"Lia, kata Dokter alergi Rio kambuh. Sepertinya tadi pagi dia memakan sesuatu di sekolahnya." Kata Pamannya pada Aulia.
"Tidak apa-apa paman, aku yang salah karena tidak memperdulikannya dari kemarin. Mungkin putraku marah padaku dan melampiaskannya pada makanan." Lirihnya sedih.
Disaat mereka sedang berbicara, terdengar suara gumaman Rio dengan matanya yang masih tertutup.
"Daddy......" lirihnya.
Aulia yang mendengarnya langsung menutup mulutnya, dia tak kuasa menahan tangisannya lagi.
Dia berpikir putranya itu tidak akan pernah merindukan sosok ayahnya, karena selama ini putranya tidak pernah bertanya tentang ayahnya. Anaknya tidak pernah menanyakannya, sampai dia berpikir anaknya itu tidak membutuhkan ayahnya.
Tapi sekarang, saat dia mendengar anaknya memanggil ayahnya, hatinya sangat sakit. Dia tidak pernah berpikir, kalau putranya akan sangat merindukan ayahnya.
__ADS_1
Mata Rio dengan perlahan terbuka dan dia memandang ibunya yang sedang menangis, lalu berkata dengan suaranya yang pelan.
"Mom, kenapa menangis? Rio gak apa-apa, berhenti menangis....." lirihnya pada ibunya sambil tangan kecilnya mengusap pipi ibunya yang sedang menangis.
"Tidak sayang, mommy tidak menangis." Jawab Aulia. "Apa masih sakit? Sekarang beritahu mommy, apa yang putra tampan mommy ini inginkan? Mommy akan mengabulkannya, asal anak kesayangan mommy ini cepat sembuh......" Tanyanya memanjakan Rio, sambil mengusap lembut rambut putranya itu.
"Apakah perkataan mommy beneran?." Tanya Rio bersemangat.
"Tentu saja sayang, mommy janji. Janji kelingking." Balasnya sambil mengangkat jari kelingkingnya dan dikaitkan pada jari kelingking putranya.
"Baiklah.... Rio percaya. Mommy tak akan mengingkarinya...." Mata Rio seketika berbinar.
"Maukah mommy dan daddy kembali bersama?." Kata Rio akhirnya. "Mommy sudah janji....." Lanjutnya.
Aulia terkejut dengan permintaan putranya itu, dan lebih terkejut lagi saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dia merasakan belakang kepalanya disandarkan di dada seseorang, dia segera membalikkan tubuhnya melihat yang memeluknya itu.
Aulia terpana menatapnya, suaminya sedang berdiri di belakangnya. Dia merasa semua pikirannya kacau dan otaknya terasa kosong, tiba-tiba dia akhirnya mengerti semuanya.
Kemudian Aulia menatap suami dan putranya bergantian, dia akhirnya benar-benar mengerti. Dia sudah ditipu oleh mereka berdua, termasuk pamannya. Dia sekarang merasa kebingungan harus menangis atau tertawa, menangis karena telah ditipu atau tertawa bahagia karena ternyata anaknya hanya bersandiwara tanpa benar-benar sakit.
Rio yang sudah mengerti jika ibunya sudah tahu sandiwaranya, segera melepas masker di wajahnya. Dia langsung duduk, lalu tersenyum pada ibunya.
Rio segera berkata kepada ibunya. "Sorry Mom, Rio hanya membantu daddy untuk mendapatkan mommy kembali." Ucapnya sambil terkekeh.
Tony yang sedang berdiri di belakangnya, segera maju ke depan istrinya, lalu mengambil tangan Istrinya dan memegang tangannya erat.
"Sayang....aku mohon maafkan aku, kasih aku kesempatan sekali lagi. Jangan marah lagi ya, ayo kita bertiga sekeluarga bersama. Aku kali ini benar-benar berjanji akan mencintai dan menjaga kalian selamanya." Ucap Tony, lalu dia memeluk mereka berdua.
Aulia akhirnya merasa terharu, karena banyaknya usaha suaminya dan juga putranya, dia pun menganggukkan kepalanya
"Baiklah...aku memaafkan mu suamiku. Tapi jangan pernah menyakitiku lagi, jika kamu menyakitiku lagi, saat itu aku dan anakku akan benar-benar menghilang dari hidupmu untuk selamanya." Lirihnya.
__ADS_1
Tony dan Rio yang mendengarnya pun merasa bahagia, akhirnya sekarang mereka bertiga akan berkumpul bersama. Begitu juga dengan pamannya yang melihat mereka, dia sangat senang akhirnya keponakan dan cucunya itu mendapatkan kebahagian mereka.
^Bersambung^