
Keesokan Harinya, di sebuah Rumah mewah bak istana itu terdengar suara anak kecil yang sedang merayu Ibunya. Rio yang baru berusia empat tahun itu, selain tubuh tingginya yang berbeda dari yang lain, juga mempunyai kecerdasannya di atas rata-rata anak berusia empat tahun. Tapi bocah kecil itu dengan sangat pintar menyembunyikan kepintarannya dari Ibu nya, kecuali kakeknya karena bocah kecil itu tidak bisa menyembunyikan apapun dari Kakeknya.
Kakeknya mengetahui kepintarannya, saat setahun lalu ada seorang Pria yang menyukai Aulia dan selalu mendekatinya. Lelaki itu terlihat seperti pria yang terhormat dan juga pria baik-baik. Apalagi lelaki itu adalah anak dari sahabatnya, sampai Aulia pun menerima pendekatan pria tersebut dengan menjadikannya sebagai seorang teman. Pria itu pun menerima saja meskipun hanya dianggap seorang teman, karena yang penting dia bisa berada dekat dengannya.
Kemudian sebulan yang lalu, pria yang bernama Austin Louis itu menunjukkan sikap buruk dan jahatnya, karena dia sudah tidak tahan dengan sikap Aulia yang selalu menolak pendekatannya selama setahun ini. Dia sudah tak mau dianggap teman lagi, pria itu ingin Aulia menjadi kekasihnya. Tapi tetap saja Aulia memberi batasan dalam hubungan mereka, yang menurutnya mereka hanya bisa berteman saja.
Flashback Sebulan Yang Lalu.
Aulia mendatangi sebuah undangan pesta koleganya, pembuat acara tersebut mengadakannya di Hotel bintang lima yang sangat mewah. Semua tamu yang datang adalah orang-orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis termasuk dirinya, karena meskipun di usia nya yang masih terbilang muda dia sudah bisa meraih kesuksesan dan berada dalam jajaran pembisnis termuda.
Austin Louis juga datang, dia adalah berkebangsaan campuran Indonesia-Amerika, sehingga membuat dia juga Fasih berbahasa Indonesia. Itu lah juga yang membuatnya semakin tertarik pada Aulia, karena mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sama. Tentunya yang paling dia sukai dari Aulia adalah kecantikan dan kepintarannya.
Austin Louis melihat keberadaan Aulia, dia sudah hampir setahun menjadi temannya. Dia selama ini selalu mencari celah untuk membawanya ke hubungan yang lebih serius, tapi tetap saja Aulia selalu menolaknya.
Aulia juga melihat ke arah Austin, dia merasakan jika Austin masih gencar untuk mendekatinya, dia selalu menolaknya secara halus pendekatannya tanpa harus menghinanya.
Austin adalah anak laki-laki dan juga penerus dari Presdir Jewelry Company, perusahaan yang bergerak dalam bidang perhiasan dan termasuk 100 Perusahaan terbesar di Amerika. Ayahnya juga adalah sahabat dari Pamannya, dia harus menghormati Austin karena pamannya juga.
Karena alasan-alasan itu lah, Aulia tidak ingin berbuat sesuatu yang akan menyinggung anak laki-laki dari sahabat Pamannya itu. Karena dia merasa banyak berrhutang budi pada Pamannya, sehingga dirinya tidak ingin ada masalah antara Pamannya dan Sahabatnya. Dia akhirnya berpikir lebih baik berteman dengannya daripada bermusuhan, karena jika bermusuhan itu akan merugikan semua orang.
Austin yang menyadari Aulia juga sedang melihatnya, dia segera berjalan menghampiri nya. Aulia sangat mudah dikenali, karena disini jarang ada wanita mungil berwajah dan berperawakan Asia. Jadi Aulia sedikit menonjol dengan keanggunan ala Asia-nya. Apalagi disini kebanyakan adalah wanita bule atau wanita campuran seperti dirinya. Dia pun sampai di depan Aulia, dengan membawa sebuah minuman yang sudah dia isi dengan obat tidur.
Austin berencana akan membuat Aulia menjadi miliknya malam ini, dia sudah tidak ingin lagi menerima penolakan. Meskipun Aulia selalu menolaknya secara halus, tapi rasa keegoisan dan harga dirinya yang sudah tidak bisa menerima penolakan terus menerus akhirnya menang.
Austin berpikir Aulia yang hanya seorang wanita yang sudah mempunyai seorang anak, tapi Aulia bersikap sok suci yang berpura-pura menolaknya, padahal mungkin saja hanya menarik-ulur perasaanya.
"Hai, you look so beautiful tonight." Gombalnya pada Aulia saat dia sudah berada di dekatnya.
"You too, you look to so
Fashionable. Pasti banyak wanita cantik malam ini yang akan memangsamu." Aulia membalasnya dengan sopan.
"Tapi, tak akan ada wanita secantik dirimu." Austin bergumam dan tersenyum misterius.
__ADS_1
"Apa katamu?." Aulia tak mendengar gumamannya.
"Tidak ada....." Austin tersenyum bak malaikat.
Aulia hanya membalas senyumannya, tanpa tahu niat jahat darinya.
"Minuman khusus untukmu, kesukaanmu." Setelah berbasa-basi, Austin akhirnya memberikan minuman yang dia pegang pada Aulia.
"Terima kasih." Aulia segera mengambilnya dan untuk menghargainya, dia langsung meminumnya.
Dia tidak ingin curiga apapun padanya, karena yang dia tahu meskipun sifat Austin agak pemaksa, tapi Austin adalah seorang Gentleman yang tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan membuatnya menjadi seorang bajingan.
Aulia jika sudah percaya pada orang lain, dia akan mempercayainya dengan sepenuh hatinya.
Tapi setelah dia meminumnya, tak berapa lama kepalanya terasa pusing dan tubuhnya seketika terasa akan jatuh. Tubuhnya seketika lemas dan akhirnya kegelapan pun menguasainya.
Austin dengan cepat memeluk dan segera memapahnya, lalu dia membawanya ke sebuah kamar yang sudah dia persiapkan dari sejak awal. Dia membaringkan Aulia yang sudah tak sadarkan diri itu ke atas ranjang, lalu dia bergumam sambil mengelus pipinya.
"Sayang maafkan aku, aku sudah tak sabar ingin segera memiliki mu. Jangan salahkan aku, ini karena kamu terlalu cantik, aku hanya takut orang lain akan mengambil mu. Asal kamu tau, sekarang aku sudah sangat mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpamu." Tambahnya, dia merasa benar-benar sudah terobsesi pada Aulia.
"Tapi santai saja, aku akan perlahan. Aku tak akan tergesa-gesa." Setelah mengatakannya, Austin berjalan ke arah meja dan menuangkan minuman ke gelasnya.
Setelah Austin merasa cukup minum dan sedikit mabuk, dia segera berjalan mendekati ranjang lagi. Aulia masih tetap sama, masih terbaring tak sadarkan diri.
Austin segera membuka bajunya sendiri, lalu dia lempar sembarangan, kini dia sudah bertelanjang dada. Tangannya sedang berusaha membuka gaun yang dikenakan Aulia, tapi saat tangannya baru saja akan membuka gaun tersebut, terdengar suara ketukan di pintu. Ketukan itu sangat membuatnya kesal, beraninya ada orang yang mengganggunya.
"Siapa........?!." Teriaknya tanpa niat membuka pintu.
Tak ada jawaban dari luar, Austin pun berpikir mungkin itu hanya cleaning service. Dia pun tidak memperdulikannya lagi dan akan melanjutkan perbuatannya.
Tapi saat dia akan melanjutkannya lagi, terdengar suara tendangan di pintu. Sebelum dia berbalik badan untuk melihat apa yang terjadi, tubuhnya sudah tersungkur ke bawah karena ada orang yang memukulnya.
Austin terkejut dan langsung marah saat melihat ada darah di pinggir bibirnya. Di segera berdiri dan hendak melihat siapa yang memukul serta ingin membalasnya. Tapi seketika dirinya tertegun, dia tak menyangka yang ada di depannya adalah Paman Jerry Liu, Paman dari Aulia. Dia sudah mengetahui kebenaran bahwa Aulia bukan anak dari Paman Liu, melainkan keponakannya.
__ADS_1
Austin seketika sangat syok dan ketakutan melihat Paman Liu bisa ada di sana dan memergokinya mau menodai keponakannya itu. Austin ingin menjelaskannya, tapi Paman Liu malah sekali lagi memukulnya.
"Paman sangat kecewa padamu! Padahal paman sudah mempercayakan Aulia padamu, agar kamu menjaganya. Tapi kamu ternyata adalah seorang lelaki bajingan."
Paman Aulia segera membopong keponakannya pergi dari sana, dia membiarkan Austin. Bagaimana pun juga Austin adalah anak dari sahabatnya, dia akan memberikan kesempatan lagi pada anak sahabatnya itu, untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki kelakuannya.
Saat sudah sampai di rumah, Aulia dibaringkan di kamarnya dan masih belum tersadar, mungkin karena obat tidur yang dia minum. Pamannya menghela nafas berat, karena dirinya merasa bersalah tidak bisa menjaga dengan baik keponakan satu-satunya dari adik perempuannya ini. Jika benar-benar terjadi sesuatu padanya bagaimana dia akan mempertanggung jawabkannya.
Dia lalu teringat 1 jam yang lalu, ada keributan di depan halaman Rumah. Saat itu dia sedang bersantai meminum teh di kamarnya, lalu terdengarlah keributan. Dia segera turun dari lantai atas dan keluar rumah, dilihatnya cucunya Rio sedang dihadang di depan gerbang halaman Rumah. Rio sedang menggigit salah satu pengawal, juga kakinya yang kecil sedang menendang pengawal yang lainnya.
Jika tidak sedang merasakan keanehan pada cucunya itu, dia akan menertawakan kelakuannya. Keadaan yang sedang dia lihat benar-benar sangatlah lucu, bagaimana tidak seorang anak kecil melawan dua orang laki-laki dewasa. Pamannya heran dengan kelakuan cucunya itu, tidak biasanya dia seperti itu. Dia segera menghampiri Rio dan bertanya padanya apa yang terjadi.
"Boy....apa yang sedang kamu lalukan? Kenapa perilaku mu seperti ini?."
"Kakek.....mereka melarang dan menahan ku supaya aku tidak pergi keluar." Jawab Rio dengan memelas, wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata.
Alangkah kaget dirinya, karena melihat cucunya sudah bercucuran air mata.
"Siapa yang menyakitimu? Kenapa kamu menangis?." Cemasnya.
"Bukan aku kek, tapi Mommy. Ada yang berbuat jahat padanya di pesta, kakek cepat pergi, hotelnya dekat dari sini." Rio berkata lagi dari sela isakan tangisannya.
Meskipun heran tapi saat dirinya mendengarkan cerita Rio, bahwa cucunya itu sudah menempel alat perekam berbentuk mini di anting yang Ibunya pakai, agar tahu dengan siapa ibunya berbicara. Juga dia menempel alat pelacak di ponsel ibunya, Rio mendapatkan semua alat tersebut dari salah satu pengawal yang sangat akrab dengannya seperti kakaknya sendiri.
Paman Aulia melirik pada pengawal yang sudah memberikan alat tersebut, pengawal itu hanya menunduk dan juga hanya bisa berdoa dalam hatinya agar dia tidak dipecat.
Aduh tuan muda, apakah kamu akhirnya akan membuat aku dipecat?.Pikir pengawal itu ketakutan.
Setelah mendengar penuturan cucunya itu, dia segera bergegas pergi ditemani oleh dua orang pengawal.
Akhirnya karena kecerdasan cucunya itu lah, dia akhirnya bisa menolong keponakannya itu tepat pada waktunya. Keponakannya bisa terlepas dari bencana, yang mungkin akan dia sesali seumur hidupnya jika dia terlambat sedikit saja menolong Aulia.
^Bersambung^
__ADS_1