Jodohku Kakak Kelas Ku

Jodohku Kakak Kelas Ku
Bab 85


__ADS_3

Setelah sampai dirumahnya Adli turun terlebih dahulu, Ara hanya menghela nafasnya dengan kasar


Sikap cemburu dan posesif suaminya semakin menjadi jadi, tapi dia tidak keberatan dengan hal itu


"Adli, maafkan aku"


"Mmm"


"Sayang, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku"


"Janji?"


"Janji" jawab Ara lalu mencium bibir Adli


Adli tersenyum dan membalas ciuman Ara


***


Keesokan harinya, Ara dan Adli kini berada dirumah sakit untuk mengecek kandungan Ara.


Dokter Aisyah itu yang menangani Ara sampai melahirkan nanti.


"Kandungannya sehat dan ibunya juga sehat, jangan banyak pikiran dan stress itu akan berdampak pada kandungan ibu" jelas dokter


"Dan lagi, nona masih muda untuk melahirkan secara normal itu akan sangat sulit" sambungnya


"Tapi dok aku ingin melahirkan dengan normal tidak mau di caesar" ujar Ara dengan khawatir


" biasanya terjadi pada kehamilan di usia muda adalah keguguran, perdarahan, persalinan prematur, melorotnya organ panggul dan lainnya. Karena hal tersebut, perempuan dengan usia muda terancam luka serius saat melahirkan, dan dapat menyebabkan kematian pada ibu atau calon janinnya, Jadi setiap 2 minggu sekali periksa ke dokter kandungan untuk menjauhkan hal yang tidak diinginkan"


"Aku akan berjuang sekuat mungkin, aku rela mati asalkan anakku selamat"ujar Ara dia mempererat genggaman tangan Adli


"Sayang jangan khawatir, ikuti saran dokter saja" kata Adli


"Aku tidak tahu, aku ingin bayi kita selamat  aku rela Adli harus meninggalkan semuanya asalkan anak kita lahir dan bisa melihat dunia ini" ungkap Ara dengan berurai air mata


"Sst, sayang pasti kalian akan selamat jangan berbicara seperti itu"


"Dokter kami permisi dulu"pamit Adli


"Jangan lupa minum obat, vitamin agar ibunya lebih kuat paska melahirkan nanti" jelas dokter


"Baik dokter"


Mereka meninggalkan rumah sakit, Ara nampak khawatir mendengar penjelasan dokter Aisyah tadi


"Sayang jangan memikirkan itu, kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, semoga ada kejaiban" ujar Adli


"Aku takut"


"Tidak perlu takut sayang, aku ada disini aku berjanji tidak akan meninggalkanmu"


Setelah menenangkan Ara, Adli langsung mengemudikan mobilnya menuju rumahnya


***


(Singkat cerita aja ya, soalnya author ngejar target)

__ADS_1


.


.


.


.


.


5 bulan kemudian


Kini Tiara sedang mengandung 2 bulan, dan Wanda sudah menikah dengan Rio.


Usia kandungan Ara sudah menginjak 8 bulan, Ara setiap hari terus mengeluh kesakitan karena bayinya sangat aktif didalam sana


Tapi, Ara sekaligus bahagia karena 1 bulan lagi akan melahirkan bayinya.


"Auuuh"keluh Ara


"Sayang, Kamu tidak apa apa?"tanya Adli yang sedang mengelus punggung Ara


"Mmmh, sakit Adli"


"Kita kerumah sakit aja ya, biar dokter Aisyah yang memeriksa keadaan kamu"


"Tidak mau..."


"Kamu harus kuat demi anak kita, dan maafkan aku karena membuatmu seperti ini" ungkap Adli memeluk Ara dengan erat


"Tidak, itu sudah tugasku sebagai istri, Aku melayanimu lalu hamil, melahirkan dan merawat anak kita, aku mencintai kalian" balas Ara


"Sst, sayang jangan bilang seperti itu pasti kamu bisa selamat"


Bayi Ara berjenis kelamin perempuan oleh sebab itu Ara ingin menamakan 'Annasya Adreelina Saila'


Ara masih menangis dipelukan Adli begitupun dengan Adli yang tidak mau kehilangan keduanya


"Sayang, Ara hei jangan tidur" ucap Adli, dia tidak lagi mendengar suara tangisan Ara


"Hei bangun sayang, jangan membuat aku khawatir"


Adli langsung membawa Ara kerumah sakit


"Sayang, tolong jangan membuat aku khawatir"


 Setelah sampai dirumah sakit, Adli langsung masuk keruangan dokter Aisyah


"Ada apa ini tuan Adli?"


"Dokter, istri saya pingsan tolong periksa dia!"


Dokter Aisyah langsung memeriksa keadaan Ara, diceknya tekanan darah dan bayinya


"Tekanan darahnya tinggi dan perkiraan saya, Nona Ara akan melahirkan prematur dalam jangka 3 atau 5 hari kedepan"


"Apa? Itu tidak mungkin dokter kandungannya baru 8 bulan" ujar Adli dengan frustasi

__ADS_1


"Itu hanya perkiraan, dilihat nona Ara, banyak pikiran dan Untuk melahirkan saya saranin untuk secara operasi saja, kalau melahirkan secara normal hal itu bisa berdampak buruk bagi ibu dan bayinya" jelas Dokter Aisyah


"Astaga, kenapa bisa begini" Adli menangis dan dia merasa sangat menyesal


Tidak lama kemudian orang tua Ara datang, dengan perasaan cemas


"Adli ada apa? Kenapa dengan Ara?"tanya Ema


"..." Adli tidak menjawab dia tidak tahu apa yang harus dia jelaskan selama ini mereka menyembunyikannya Ara meminta  Adli untuk menyembunyikannya dari semua orang


"Dokter ada apa? Jelaskan pada kami!"


Dokter Aisyah menghela nafasnya dengan kasar, Dia harus menjelaskannya  dengan sedetail mungkin


Dokter Aisyah menjelaskan tentang keadaan Ara, Ema sangat sedih melihat anak satu satunya dengan keadaan seperti itu


"Begitulah, tapi kalian harus sabar dan harus berdoa untuk meminta keajaiban, kami para dokter hanya bisa menolongnya untuk keselamatan ibu dan anaknya tapi dalam hal lain itu kehendak Tuhan" jelas Dokter Aisyah


"Astaga Ara!"


"Bunda...Maafkan aku ini semua salahku, seharusnya aku tidak melakukan ini" ungkap Adli


"Tidak Adli ini semua kehendak Tuhan"


"Ara sayang bangun kami ada disini" kata Nathan


"Sayang, ayolah bangun jangan membuat kita khawatir"


"Nyonya, Tuan, biarkan Nona Ara istirahat jangan mengganggunya"


Dokter Aisyah keluar dari ruangan, Adli masih duduk dengan menundukan wajahnya


"Adli kenapa kamu tidak pernah memberitahu kami?"tanya Ema


"Maafkan aku bunda, tapi ini keinginan Ara"jawab Adli


"Astaga, Ara!"tangis Ema semakin pecah


Tidak lama kemudian, Ara bangun dari pingsannya dilihat sekelilingnya nampak asing


"Dimana aku?"


"Sayang, ini dirumah sakit" jawab Ema


"Bunda? Kenapa ada disini?"


"Sayang, kenapa kamu menyembunyikan ini dari kami?"tanya Ema lalu memeluk Ara


"Aku tidak mau membuat bunda dan ayah khawatir " jawab Ara


"Sayang, jangan sembunyikan apa apalagi dari kami" ujar Nathan mencoba untuk tegar


"Ayah, maafkan Ara"


"Jangan menangis kamu istirahatlah"


Adli hanya melihat orang tua Ara dengan sedih, Jika waktu bisa diulang dia tidak akan melakukan itu

__ADS_1


***


__ADS_2