
Keesokan harinya.
Tepat di pukul 8 pagi, Bella datang lagi kerumah Adli dia juga membawa beberapa boneka dan mainan yang dia beli kemarin.
Bella dipersilahkan masuk oleh bu Ningsih dengan senang hati Bella masuk.
Dia datang tanpa sepengetahuan Adli, dia akan membuat Ara marah dan pastinya Ara kebakaran jenggot!
"Dimana Ara?"
"Ada di kamar non"
Ara mendengar ada suara yang tidak asing, Dia segera turun untuk melihat siapa yang bertamu pagi pagi.
"Bella? Ngapain dia kesini pagi pagi dan bawa banyak sekali mainan?" Batin Ara.
Bella melihat Ara yang sedang turun dari tangga itupun langsung tersenyum.
"Ara apa kabar?" Tanya Bella basa basi
"Baik, ada apa kesini?"
"Jangan begitu dong, aku bawa banyak mainan kesukaanku dan Adli dulu"
"Oh"
Bella manarik nafasnya dan tersenyum, dia ingin sekali menarik rambut Ara dan menyeretnya!
"Ayo duduklah, aku akan menceritakan masa kecil Adli" ujar Bella dengan menarik tangan Ara
"Apaan sih so akrab" batin Ara
Ara hanya mendengarkan saja tanpa ada rasa emosi karena dia mengaggap "Itu masa lalunya dan sekarang adalah masa depannya".
Mulut Bella seperti gilingan tidak bisa berhenti kalau bukan tombolnya di matikan, Ara hanya melihatnya dengan datar.
"Nah ini adalah mainan kesukaanku yang selalu dibelikan oleh Adli, jika dia memberikan boneka ini aku selalu memeluknya dan menciumnya" ujar Bella, memang benar Adli selalu membelikan boneka kesukaan Bella tapi tidak dengan diciumnya wajah Adli.
"Oh, apakah kau masih suka mencium wajahnya?" tanya Ara
"Kalau kau bolehkan, aku pasti mau" jawabnya tanpa ada bersalah.
"Berarti kamu tidak tahu malu, udah tahu dia punya istri masih saja ingin mendekatinya" sinis Ara
"Kau tahu, dulu dia sangat ingin dekat denganku tapi orang tuaku harus pergi ke Australia jadi aku harus berpisah dengan Adli, kalau aku dibesarkan disini pasti Adli akan menjadi milikku bukan kamu!" jelas Bella sedikit dengan nada tinggi
"Itu dulu tidak dengan sekarang, Jikapun iya Adli suka sama kamu sedari kecil, mana mungkin dia menikahiku?" Dengan santainya Ara.
Bella terdiam kikuk, benar kata Ara! Dia jadi skakmat!
"Kau!" Teriak Bella, dia ingin memancing emosi Ara tapi malah dia yang terpancing!
"Sst, jangan berteriak anakku baru saja tidur"
"Awwwss" ringis Ara, yang tanpa diduga kalau Bella akan menjambaknya
"Rasakan ini! Dari kemarin aku menahan emosiku dan sekarang akhirnya aku melampiaskannya, hahahah"
"Dasar kau!" Ara menekan siku dan jempolnya menekan atasnya dan dia memelintirkan tangan Bella dengan spontan Bella melepaskan jambakannya dan dia membelakangi Ara
"Aww, sakit lepaskan sialan!"
"Kau yang sialan, sudah bertamu kerumah orang dengan niat jahat! Lebih baik kau pergi dan jangan kesini lagi!" Bentak Ara dia membawa Bella keluar dari rumahnya dengan kasar dan dia juga mendorongnya
"Tunggu dulu!" Ara masuk lagi kedalam dan dia kembali membawa mainan yang tadi Bella bawakan
"Lain kali kau jangan repot repot bawa mainan sebanyak ini, aku masih mampu membelinya dan kau! Jangan pernah kesini lagi!" Bentak Ara lalu dia membuang boneka itu ke badan Bella
__ADS_1
"Awas saja kau! Aku akan membalasnya!"
"Aku tunggu" balas Ara dan menutup pintu dengan keras!
"Sialan! Awws tanganku sakit sekali" keluh Bella namun dia tersenyum licik sepertinya ini akan seru!
Bella memunguti mainan yang berserasakan dan memasukannya kedalam paperbag.
Bella melajukan mobilnya ke kantor Adli, dia akan berdrama agar Adli memarahi Ara!
Yah, dia tidak bodoh siku atasnya dia warnai dengan warna kebiru biruan seperti luka lebam, lihat saja Ara pasti kau kena marah!
Bella masuk ke kantor Adli dan langsung masuk ke lift, di dalam lift dia membuat air mata buatan, seakan akan menangis!.
Bella masuk kedalam ruangan, Adli yang melihatnya terheran heran, kenapa dengan Bella? Dan dia menangis kenapa?
"Bella ada apa kenapa kau menangis?"
"Adli tolong aku" lirih Bella yang menangis sesenggukan
"Kenapa coba ceritakan"
Bella duduk di sofa dan tangannya menggenggam tangan Adli.
"Tadi aku main kerumahmu dengan membawa banyak sekali mainan untuk Anna, tapi tanpa di duga Ara memukulku lihat tanganku" ujar Bella membalikan fakta.
"Astaga, tidak mungkin Ara melakukan ini" kata Adli tidak percaya
"Niatku baik memberikan mainan kepada Anna, Adli. Tapi Ara tidak suka denganku lalu dia membuang boneka itu di tempat sampah"
Adli benar benar marah kenapa Ara tega melakukan ini?
"Sudahlah jangan menangis sebaiknya kau pulang obati lukamu, aku akan memberi nasehat kepada Ara" jelas Adli
"Nasehat? Dia bukan anak kecil lagi Adli, kalau aku jadi kamu pasti aku memarahinya!"
"Baik, terima kasih"
Adli melihat kepergian Bella, hatinya merasa emosi ketika sahabat baiknya dilukai oleh Istrinya.
Adli segera keluar dari kantornya dan dia akan menuju rumahnya!
.
.
.
Ara memejamkan matanya, dia benar benar emosi atas perlakuan Bella! Untung saja dia dapat menahan emosinya dihadapan Bella kalau tidak, pasti rumah sakit tujuan Bella sekarang!
Adli datang dengan jalan tergesa gesa dia juga membanting pintu dengan keras, itu membuat Ara terkejut!
"Ara!" Teriak Adli
"Ada apa?" tanya Ara, perasaannya tidak tenang sekarang! Tidak biasanya Adli membentaknya
"Ada apa Kau bilang? Kau memukul Bella padahal dia mau berbuat baik tapi kau malah memukulnya!" Bentak Adli, hatinya dipenuhi oleh emosi sekarang!
"Dia berbohong Adli!"
"Berbohong katamu? Jelas jelas ditangannya ada luka lebam dan itu adalah ulahmu" Adli mencengkram pipi Ara dengan kasar
"Adli lepas! Kau lebih percaya dengannya dibanding aku? Aku ini istrimu!" tangis Ara
Adli melepaskan cengkramannya dan wajahnya memalingkan tidak mau memandang Ara, Adli berusaha meredakan emosinya.
"Dia menceritakan kalau aku memukulnya? Hah wanita ular itu membalikan faktanya!"
__ADS_1
Plakk
Adli habis kendali dia menampar pipi Ara, Ara memegang pipinya yang terasa panas, Ini sudah keterlaluan!
"Kau memukulku! Kau memukulku demi wanita itu!" Teriak Ara
"A..Ara maafkan aku...aku habis kendali" ujar Adli
Ara langsung lari ke kamarnya dan dia membanting pintu dengan kasar, Ara menangis di kamar mandi dengan pilu.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku, kau menamparku demi wanita itu dan kau tidak mempercayaiku...kenapa...hiks hiks" tangis Ara dia memandang cermin, bekas tamparannya memerah.
"Arrrgh" teriak Ara memukul cermin hingga pecah.
Anna masih tertidur di kamar bu Ningsih sewaktu Adli datang dengan membanting pintu bu Ningsih ada dikamar sedang menjaga Anna, pirasat bu Ningsih mengatakan, akan terjadi pertengkaran! Dan ternyata benar saja!
Adli duduk disofa dan dia menjambak rambutnya, Adli segera kekamarnya untuk melihat Ara, namun tidak ada, dia mengetuk pintu kamar mandi pasti dia ada disana!
"Ara...buka kita bicarakan ini, maafkan aku" lirih Adli
Ara duduk dilantai dan hanya diam saja dengan darah yang menetes di tangannya dan dia membiarkannya!
"Ara...buka" teriak Adli, dia khawatir kalau Ara akan melakukan sesuatu!
Adli mendobrak pintu kamar mandi dan dilihatnya sudut kamar mandi dia tidak menemukan Ara, dia melihat kearah cermin yang pecah dan ada darah! Oh astaga!
"Ara!" Teriak Adli
Ara diam saja tidak merespon panggilan Adli, dia melamun dan air matanya masih mengalir.
"Ara..maafkan aku sayang" Adli memeluk kepala Ara dan dia menyusap air mata Ara
"Kau bukan Adli yang aku kenal! Pergi dari sini!" Bentak Ara
"Jangan seperti itu sayang, maafkan aku, aku salah aku memang salah telah memukulmu" lirih Adli
"Hah, maaf kau bilang maaf! Bahkan permintaan maafmu itu tidak pantas kau katakan! Pergi kau bukan Adliku, Adliku sudah di bawa oleh dia...hiks hiks.." ujar Ara dengan sinis dan dia memukul punggung Adli
"Tidak sayang, tidak ini masih Adli yang dulu, Adli kamu" Adli merasa tersentuh dan dia menangis dalam pelukan Ara.
"Sayang, aku obati ya tanganmu kita kekamar " ajak Adli
"Adli yang aku kenal dia tidak kasar apalagi sampai memukul, Dia...dia sudah pergi meninggalkanku..." jerit Ara
"Tidak sayang...aku Adlimu, Ayo kita obati lukamu" ajak Adli
"Kalau tanganku sudah sembuh apakah kau akan memukulku?" tanya Ara dengan was was, dia seperti kehilangan separuh jiwanya
Adli menggeleng, dia mengusap pipi Ara yang dia tampar tadi pipinya masih memerah akibat tamparannya yang sangat keras
"Tidak sayang, maaf...maaf...aku berjanji tidak akan memukulmu lagi"
"Terima kasih, Ayo obati lukaku" kata Ara
"Tidak perlu berterima kasih sayang"
Adli membawa Ara kekamarnya dan dia mulai mengobati luka Ara.
***
Mau cerita... Author nangis nulis chapter ini😭 sumpah kaga bohong apalagi author ditemenin lagu dari bang Chris😭
Nangis dari awal sampe akhir author bacanya😭
(Apaan sih author lebay)
(dahlah)
__ADS_1