
Beberapa hari kemudian Ara sudah baikan dan rasa sakit ketika si bayi itu menendang serasa berkurang, Adli yang terus menemaninya merasa sangat jauh lebih lega.
"Sayang, lihat bayi ini sudah menurut sama maminya" ujar Ara
"Anak siapa dulu dong" balas Adli
"Hei sayang kamu yang sabar yah, nanti kamu keluar papi akan memberikan apapun"ujar Adli
"Jangan terlalu memanjakannya sayang, nanti dia jadi anak yang pembangkang bila nanti kita tidak punya uang, didik dia dengan kasih sayang dan ajarkan dia berbagai macam ilmu yang bisa membantunya dizaman yang keras ini" jelas Ara
"Oh honey kamu memang pantas jadi ibu, dan kau adalah satu satunya wanita yang ku sayangi setelah ibuku" balas Adli
"Sayang kalau aku sudah tiada nanti pastikan dia belajar yang tekun dan dia harus seperti maminya, yang tidak lemah akan apapun, ajarkan dia ilmu bela diri dan perbanyak dia mengaji agar dia bisa selamat dunia akhirat" ujar Ara dengan suara bergetar
"Hei, kau akan selamat, kalian pasti akan selamat jika kau tiada aku akan ikut bersamamu" balas Adli dengan memeluk Ara
"Tidak, aku tidak izinkan itu kau harus membesarkannya bila perlu kau menikah lagi biar ada yang menjaga dia" ucap Ara mengelus perutnya
"Aku sangat mencintai kalian, i love you sayang"
"Jangan selalu mengatakan cinta padaku, nanti kamu tidak akan rela bila aku meninggalkanmu" tangis Ara pecah saat itu juga
"Anak kita membutuhkan kamu sayang, jangan tinggalkan kita yang masih membutuhkan kamu"
"Berjanjilah tidak akan meninggalkanku" sambung Adli
"Aku akan berusaha sekuat mungkin demi kamu, demi anak kita, dan demi keluarga kecil kita" ucap Ara
"Kamu harus kuat, maaf...maafkan aku" balas Adli
"Jangan meminta maaf kamu tidak salah"
Mereka berpelukan erat, jika suatu saat nanti Ara meninggalkannya dia akan berjanji pada diri sendiri bahwa dia tidak akan menikah lagi dan dia akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk Annasya!
__ADS_1
Adli mencium puncuk kepala Ara dan mengusap air matanya, Begitu hebat perjuangan seorang wanita ketika hendak melahirkan,
Mengandung tidak semudah di bayangkan, Perjuangan rasa nyilu, sakit itu bercampur, Hidup mati adalah taruhannya.
***
Pagi itu Ara sedang berada dikamar mandi, dia ingin membuang air kecil, dan Adli sedang merapihkan kemejanya untuk segera berangkat ke kantor
"Aaarhh Adli tolong!" Teriak Ara
Adli sangat kaget dia segera menghampiri Ara, matanya terbelalak kaget melihat Ara yang duduk dilantai dan memegangi perutnya dan ada darah yang keluar dari selangkangannya.
"Oh sayang kenapa? Kamu berdarah ayo kita kerumah sakit"
"Adli sakit sekali hiks hiks" tangis Ara
"Sabarlah sayang"
Adli langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat, Setelah sampai dirumah sakit Adli langsung membawa Ara ke ruangan bersalin yang telah disiapkan oleh petugas rumah sakit
Adli menunggu Ara diluar ruangan, Orang tua Ara dan Adli mendekat lalu mereka menghampiri Adli yang tengah duduk dikursi
"Adli kenapa dengan Ara?"tanya Ema
"Maaf bunda aku tidak bisa menjaga Ara" lirih Adli
"Ara sepertinya kegelincir dan jatuh lalu pendarahan, dan sekarang lagi dioperasi"
"Astaga!" Ema langsung memeluk Nathan dia benar benar tidak menyangka Ara akan seperti ini
Diruangan operasi
Dokter dan suster begitu sibuk mereka harus menyelamatkan kedua nyawa pasiennya
__ADS_1
Bayi mungil itu sudah keluar dan sekarang akan dibersihkan oleh suster, dokter langsung memfokuskan pada ibunya yang jantungnya semakin melemah
"Dokter pasien jantungnya melemah"kata Suster yang melihat kearah monitor
"Kita harus berusaha menyelamatkan ibunya"
Dokter begitu sibuk dengan aktivitasnya, semakin lama semakin lemah detak jantung Ara dan alat monitor ini langsung menunjukan garis lurus
Dokter begitu kecewa namun apa boleh buat mereka hanya berusaha tapi yang kehendak adalah yang kuasa.
Adli yang berada diluar bersama keluarganya itu langsung menghampiri pintu ruangan operasi, setelah lampu nya mati.
"Dokter bagaimana keadaan Ara dan bayiku?"
"Bayinya sehat namun karena prematur dia harus berada di ruangan khusus, dan Ara maaf kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain" jelas Dokter
"Apa? Tidak mungkin!" teriak Adli lalu memegang kerah dokter itu dan dia melotot penuh amarah
"Ara!"jerit Ema dan dia pingsan tidak kuat mendengar Ara yang sudah tiada
"Bunda" Nathan langsung menangkap Ema yang pingsan dan membawanya ke tempat duduk
Romi menahan Adli untuk tidak melukai Dokter, dia tahu perasaan Adli saat ini pasti sangat sakit!
"Adli tahan amarah, ingat ini kehendak Tuhan" ujar Romi
Rini ikut menenangkan Adli yang sangat marah
Adli melepaskan genggaman tangannya yang berada di kerah dokter itu dia langsung masuk keruangan itu
"Sayang..hei bangun jangan begini, anak kita sudah lahir dan lihat dia sangat mirip denganmu kau tidak ingin melihatnya hmm?" Suara Adli bergetar, dia sedang menggendong Annasya yang tadi berada di dalam box
"Hei sayang, lihat mami pasti kelelahan karena melahirkanmu"
__ADS_1
Adli melihat Ara semua badannya kaku, dia benar benar merasa sangat membenci dirinya, jika ini bukan karenanya pasti Ara tidak akan meninggalkan dunia ini!
"Aku mencintaimu" Adli mencium kening Ara dan air matanya menetes mengenai pipi Ara, Tangis Annasya menggelegar memenuhi ruangan operasi.