Jodohku Seorang Dokter.

Jodohku Seorang Dokter.
Part 31


__ADS_3

"Kamu enggak lagi menyembunyikan sesuatu kan mas ?.Tanyaku. Demi ALLAH hanny,aku tidak menyembunyikan apapun' ucap mas Al"


Aku terdiam dan menatap netranya dekat,sungguh aku tidak menemukan kebohongan di sana. Lalu aku mengucapkan kata maaf.


Dan dia pun memaafkan. Tak berselang lama kami sudah terlelap,namun tepat dini hari mang Ujang mengetuk pintu dengan keras.


Tok...tok...tok...


"Aden,tolong buka den' ucap mang Ujang." Mas Al langsung membuka pintu dan bertanya.


"Ada apa mang ? I-itu den,ada nyonya yang datang' ucap mang Ujang dengan terbata dan menunduk. Tumben ? Tanya mas Al dalam hati,sedangkan aku disini melanjutkan tidurku."


"Mami,kenapa malam-malam begini ke sini ? Tanya mas Al. Namun, bukan jawaban yang dia dapatkan,tetapi tamparan keras untuknya."


Mendapatkan tamparan keras,mas Al terdiam. Sedangkan papi nampak diam. Begini cara mami mendidik kamu Al ? Tanya sang mami. Mas Al masih bingung,seumur hidupnya baru kali ini maminya menampar pipinya.


"Mi' panggil mas Al. Salah Al apa mi' ucapnya. Susah payah mami dan papimu membenarkan RS itu,namun karna kesalahanmu RS terancam harus ditutup segera' ucap mami Rima.


Bagai di sambar petir,mas Al tertunduk lesu dan bersujud di kedua kaki mami.


"Mi, maafin Al mi' ucapnya."


Mendengar isak tangis dari ruang bawah,aku pun terbangun. Dan beranjak dari tempat tidur.


Saat turun dari tangga,aku terkejut melihat pemandangan yang tidak biasanya seperti ini.


Aku mendekati mami dan papi,untuk takzim.


"Papi,mami' panggilku. Sudah lama mi,pi ? Tanyaku lagi kepada mami dan Papi."


Namun mereka enggak menjawab,karena feeling ku tidak enak,aku langsung pamit. Mereka menganggukkan kepala.


Sesampai di kamar,aku menelpon mami dan papi secara bersamaan. Mereka langsung mengangkat.


Deg...


("Halo assalamualaikum sayang,kenapa malam-malam telfon ? Tanya mami dengan suara serak khas tidur.")


Pun juga sama,jawaban papi juga demikian. Terus yang di bawah siapa ? tanyaku dalam hati.


Aku lalu bergegas turun,dan menampar mereka. Mas Al terkejut,dan langsung menenangkan aku.


"Hanny,jangan sayang' ucapnya dengan memelukku."


Sedangkan orang asing itu,menatapku nyalang, namun dia pura-pura lagi. Dengan air m*t* palsunya. Mas Al melerai pelukan kami,namun aku cegah. Dan aku membisikkan sesuatu padanya.


"Mas Al langsung menatap mereka dengan nyalang,kalian siapa? Tanya mas Al. Spontan membuat mereka ingin menampar mas Al lagi."

__ADS_1


Namun,langsung aku tangkis tangannya. Dan aku mengambil suntik bius untuknya. Sedangkan mas Al langsung menghajar pria itu.


Aku langsung melepas kancing bajunya,dan membuka sasarannya. Setelah berhasil membuka,spontan kami berdua terkejut.


"Alena" ucap kami bersama."


Aku pun langsung membenarkan kancing bajunya. Dan mengikat tangan dan kakinya.


Tak lupa juga,kami lapor ke polisi. Sedangkan yang menyamar jadi papi,juga ikut serta bersama pak Polisi.


Setelah kepergian mereka,aku dan mas Al langsung tidur kembali.


Paginya kami siap-siap mandi,dan sarapan.


"Hanny,aku berangkat dulu' ucap mas Al. Aku pun langsung takzim dan mengantarkan mas Al di depan."


Setelah mobil mas Al menjauh,aku langsung masuk,dan diikuti oleh mamang.


Tak berselang lama,aku sampai di depan tv,dan lalu menonton tv.


Tiba-tiba,aku merasa mual,gegas aku berlari.


"Nona pelan-pelan' ucap bibi. Namun,aku belum bisa menjawab. Nona' panggil bibi. Ya bi' jawabku."


"Nona kenapa ? Tanya bibi. Enggak apa-apa bi,namanya juga hamil' ucapku menenangkan hati bibi."


"Syukurlah non,tapi wajah nona pucat banget ? Tanya bibi lagi. Belum sempat aku menjawab,tubuhku sudah terjatuh."


Bibi langsung menelpon Agung. Beruntung langsung di Jawab. Dan dengan langkah terburu-buru,bibi memanggil mang Ujang.


Selesai di bopong mang Ujang,Agung pun datang. Dan bertanya kepada bibi.


Bibi langsung menjelaskan secara terus terang. Setelah itu,Agung langsung memeriksaku.


"Gimana dengan? Tanya bibi."


"Tidak apa-apa bik, ucap Agung menenangkan sang art itu."


Bibi yang khawatir ingin bertanya lagi,namun ia urungkan. Takut di sebut kepo.


Sedangkan Agung langsung mengirim pesan kepada sang kakak.


Disini mas Al merasa tidak tenang,lalu langsung ke ruangannya. Dan mengambil gawainya.


Setelah membaca pesan dari Agung,mas Al beranjak pergi. Dengan kecepatan tinggi,mas Al membawa mobilnya.


Sesampai di rumah,Mas Al langsung mencariku. Agung pun berusaha menenangkannya. "Kak, apa kakak ipar jarang periksa kandungan ? Tanya Agung".

__ADS_1


"Rutin periksa' ucap mas Al. Mas Al langsung menunjukkan buku K.I.A."


"Aneh,ucap Agung."


"Aneh kenapa ? Tanya mas Al."


"Kakak periksa dimana ? Tanya Agung."


"RS Bunda' ucap mas Al."


"Coba nanti,kakak bawa kakak ipar ke RS lain' ucap Agung. Memangnya kenapa ? Tanya mas Al. Aku merasa aneh saja kak' ucapnya."


"Semoga saja enggak benar' ucap Agung lagi."


Tanpa menunggu aku sadar, mas Al langsung membawaku ke RS om Fadil.


Sesampainya di RS, aku langsung ditangani dan mas Al bertanya.


"Gimana San ? Tanya mas Al. Kandungan istrimu sehat,tapi plasentanya kecil' ucap dokter itu."


"Maksudmu ? Tanya mas Al." Ya kandungannya alhamdulillah sehat,tapi calon anakmu kurang asupan makanan,karena plasentanya kecil' ucap dokter itu."


"Apa masih bisa di beri obat ? Tanya mas Al. Wallahuallam Al,semoga kalian mendapatkan mukjizat' ucapnya."


Mendengar itu,mas Al langsung membawaku pulang. Namun di tengah perjalanan,mas Al bertemu Agung. Melihat mimik wajah sang kakak,sudah jelas,kakaknya sedang tidak baik-baik.


Agung langsung mengikuti kakanya, sesampai di mobil, Agung langsung memanggil mas Al.


"Sabar kak' ucapnya. Dan mas Al menangis di pelukan adik kandungnya."


Tak berselang lama,mereka pun melerai pelukannya. Dan mas Al menceritakan semuanya kejadian semalam.


Mendengar hal itu, Agung terkejut. Dan langsung pamit. Mas Al langsung membawaku pulang.


Tak berselang lama,kami sampai di penthous. Melihat mobil,maminya,mas Al mengernyitkan keningnya.


"Di tungguin nyonya den' ucap mamang."


"Oh ya mang' ucapnya."


Sesampai di rumah,mas Al menidurkan aku. Dan lalu keluar. Menceritakan masalah semalam dan kandungan istrinya.


Papi dan mami,mewanti-wanti mas Al untuk berhati-hati. Dan sabar,ini ujian kalian' ucap orang tua kami.


Setelah itu,mereka langsung pamit. Mas Al pun langsung menganggukkan kepala dan takzim.


Tepat jam 4 sore, kami mandi dan makan lalu minum susu. Setelah itu kami menjalankan ibadah hingga isya.

__ADS_1


Berharap,agar calon anak kami selamat. Selesai ibadah,kami langsung mengaji.


Selesai mengaji,kami langsung mengobrol sebentar.


__ADS_2