
"Kakiku kenapa om ?" Tanyaku.
"Tidak apa-apa sayang." Jawab mas Al.
Aku pun langsung menyibakkan selimutku dan menatap satu kakiku yang tertembak,masih dibalut perban. Aku lalu menggerakkannya, alhamdulillah. Ucapku lirih.
Nampak semburat kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
"Masya ALLAH." Ucap mereka semua.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Sore itu aku sudah di perbolehkan pulang. Kami pun pulang dengan wajah berseri.
Sesampainya di parkiran ibu dan kak Dodhy pamit pulang,karena nanti malam Bagas akan melamar kekasihnya.
Aku pun ikut senang mendengarnya, namun aku minta maaf belum bisa ikut. Merekapun memahaminya.
Hingga taksi online yang di pesan kak Dodhy pun datang. Aku menunggu mereka sampai tak kelihatan. Setelah menjauh,barulah kami naik mobil.
Si kembar nampak anteng di sana. Sedangkan mas Al fokus menyetir, sesekali curi-curi pandang ke arahku.
Aku tersenyum tipis dan saat si kembar sudah tertidur, aku memeluknya dari arah belakang.
"Kenapa mas ?" Tanyaku.
__ADS_1
"Rindu kamu hanny." Ucapnya seraya menyetir pelan.
"Aku sudah kembali mas,dan aku juga sudah sehat." Ucapku lagi.
Mas Al lalu menghentikan mobilnya,karena rambu lalu lintas. Dia lalu menarik tanganku pelan. Melihat itu,aku lalu pindah posisi.
Terlihat wajah mas Al tersenyum. Dia memelukku dari belakang,karena posisiku duduk di depannya.
Mas Al tak henti-hentinya bersyukur, karena aku bisa sembuh dan sudah bisa merawat mereka.
Sesampainya di penthous,kami semua turun. Dan kembali istirahat di kamar, karena hari sudah malam. Si kembar pun juga sudah tidur.
Selesai mengganti pakaian,berwudhu dan ibadah, kami lalu merebahkan tubuh kami di tempat tidur. Mas Al lalu memelukku dari belakang,karena selama dua minggu,kami tidak seperti ini.
Aku lalu menenangkan mereka,dan mengganti diapresnya. Selesai itu, aku langsung merebahkan diri lagi.
Saat hendak terpejam,sayup-sayup terdengar suara langkah kaki,aku pun langsung memeluk tubuh mas Aldo.
Dan berdoa dalam hati,semoga kami selalu dalam lindungannya. Aamiin. Ucapku dalam hati.
Semakin lama semakin jelas,hingga dia berhenti,di tepat jendela kamar. Jantungku berdegup kencang,karena mendengar langkahnya.
Aku lalu memeluk mas Al dengan kencang. Tanpa sadar,mas Al terbangun dan berbisik.
__ADS_1
"Tenang hanny ada aku di sini." Ucapnya.
"Aku tahu,tapi diluar-. Ucapku terhenti.
"Aku tahu,tapi tenanglah. Dia ajudanku." Ucapnya.
Aku bernafas lega,mendengar ucapannya.
"Hanny,aku akan menjagamu semampu aku." Ucapnya.
"Kok cuma aku ? Lantas anak-anak bagaimana ?" Tanyaku.
"Ya sama anak-anak." Ucapnya seraya tersenyum.
"Ish kamu ini,sama anak lupa." Ucapku seraya menepuk dadanya pelan.
Mas Al tertawa lirih,takut mengganggu anak-anak.
Sedangkan di luar,nampak ajudannya ikut tersenyum mendengar mas Al tertawa.
Ya Rio,sudah lama ikut dengan mas Al. Bahkan umur mereka hanya terpaut 2 tahun,lebih muda Rio. Dia menjadi ajudan mas Al, karena menggantikan sang ayah yang sudah tiada 10 tahun yang lalu. Awalnya Rio tidak mau menggantikan mendiang ayahnya, namun saat melihat adik semata wayangnya dibunuh oleh musuh mantan majikan ayahnya. Bwrulah dia menerimanya.
Sejak saat itu, dia menjadi peia sedingin es,pria kejam dan keras. Namun penyayang pada keluarga,terutama pada kedua putraku.
__ADS_1