
"Ok sayang enggak jadi." Ucapku menenangkannya. Sementara mas Al dan Agung langsung mendekati kami.
"Kenapa sayang ?" Tanyanya.
Aku tidak menjawab, namun langsung menangis. Melihatku demikian, Agung berinisiatif mengajak si kembar jalan. Setelah pergi, barulah mas Al langsung menenangkan aku.
"Sabar ya hanny, aku tahu kalian capek." Ucapnya.
"Tapi kita harus bertahan sayang." Ucapku.
"Iya. Kita harus selalu tahan sabar, dan ikhlas." Ucapnya menenangkan hatiku.
"Sudah ya jangan nangis lagi." Ucapnya.
"Insyaa ALLAH." Ucapku.
"Astaqfirulloh, bukannya kamu tidak boleh nangis ya ?" Tanyanya lembut seraya langsung memeriksaku.
Aku hanya nurut dan terdiam, dan berdoa dalam hati. Tak berselang lama, mas Al selesai memeriksaku.
"Gimana mas ?" Tanyaku.
"Insyaa ALLAH engga apa-apa, usahakan jangan nangis ya hanny." Ucapnya.
"Insyaa ALLAH mas." Ucapku.
...^^^Tanpa kami tahu, om Pian melihat kami. Sungguh tulus cintamu untuknya Al, om tidak janji bisa menyelamatkannya atau tidak. Tapi om akan usahakan sekuat tenaga om. Ucapnya lirih. ^^^...
Sementara Agung, sedang bercanda ria bersama si kembar. Terdengar tawanya yang lepas, membuat putri om Pian terpesona pada pandangan pertama.
__ADS_1
......Ada yang cowok sedingin kulkas,dan sekering kanebo kering ketawa lepas gitu ? Tanyanya dalam hati. Namun kalau tertawa lebih tampan daripada kakaknya. Gumamnya. Astagfirullah kenapa aku jadi gini. Ish enggak benar ini ot*ku. Ucapnya merutuki diri sendiri. ......
Sedangkan kami, nampak terdiam seraya memikirkan sesuatu.
"Mikirin apa ?" Tanya seseorang tiba-tiba yang baru saja datang.
Spontan kami menghadap ke sumber suara itu, Kak Arfan ? Panggilku.
"Ya." Ucapnya seraya tersenyum.
Sementara mas Al hanya tersenyum. Dan menyuruh temannya untuk duduk.
"Tadi aku di telfon tante, katanya kamu di rumah om Pian. Aku disuruh liatin kamu dan anak-anak kamu." Ucapnya.
"Hmm ya beginilah." Ucapnya seraya tertunduk.
"Kenapa Al." Tanyanya.
"Shht, jangan begitu, yakinlah pasti bisa." Ucap kak Arfan.
"Insyaa ALLAH Fan." Ucapnya.
"Anak-anakmu kemana ?" Tanyanya.
"Ada sama Agung." Ucapnya.
Sementara aku, langsung ke kamar dan mengambil gawaiku. Namun langkahku terhenti, saat ada seseorang yang mengendap-endap masuk rumah om Pian.
Aku lalu memencet jam tanganku. Membunyikan alarm darurat yang tersambung di jam tangan mas Al. Mendengar alrm jamnya berbunyi, mas Al langsung menghampiriku.
__ADS_1
Sesampai di kamar, mas Al sudah mendapati aku tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"Tidak." Ucapnya seraya berteriak kencang.
Mendengar hal itu, semua penghuni rumah terutama aku terkejut.
"Mas." Panggilku.
"Icha, kamu sehat ?" Tanyanya.
"Alhamdulillah aku enggak apa-apa. Darah ini milik orang itu, beruntung bibi ini membantuku. Kalau tidak aku tidak akan tahu dengan diriku." Ucapku.
"Makasih bi." Ucap kami.
Sementara om Pian, nampak curiga dengan bibi itu. Karena seingat dia, dia tidak pernah memperkerjakan bibi ini. Sementara sang bibi, merasa cemas jangan sampai penyamarannya gagal.
"Tuan, dia bukan pembantu kita." Bisik ajudan Om Pian.
"Ya. Exsekusi dia, karena telah berani memata-matai rumahku dan mengancam keselamatan Icha. Anak sahabatku." Ucapnya.
"Baik bos." Ucap ajudan kepercayaan om Pian.
"Maafkan om ya Cha." Ucapnya.
"Iya om." Ucapku seraya izin ke kamar mandi dan mengganti pakaian.
......Sementara yang lain langsung turun, Agung yang baru saja masuk ke dalam nampak terkejut. Ada apa ini ?" Tanyanya lirih. Namun dapat di dengar ajudan kepercayaan om Pian. ......
"Selalu waspada tuan, karena walau di jaga ketat, masih ada penyusup lewat." Ucapnya.
__ADS_1
"Makasih." Ucap Agung, seraya menggendong kedua putra kami.
"Sama-sama tuan." Ucapnya.