Jodohku Seorang Dokter.

Jodohku Seorang Dokter.
Part 56


__ADS_3

...Setelah kejadian tadi, aku menjadi tidak tenang dengan pikiran aku sendiri. Walau sudah sholat dan menghubungi mereka, namun masih juga belum tenang. ...


"Kenapa hanny? " Tanya suamiku.


"Enggak tahu mas, hatiku enggak tenang." Ucapku lirih.


"Sini mendekatlah." Ucapnya.


Aku langsung mendekatinya, dan kami pun membaca alquran bersama.


Alhamdulillah setelah selesai membaca, hatiku terasa dingin dan nyaman. Tidak seperti tadi.


"Gimana ?" Tanya suamiku lagi.


"Alhamdulillah sudah baikan." Ucapku seraya tersenyum.


"Alhamdulillah." Ucapnya lalu mengajakku istirahat, karena malam sudah semakin larut.


Sementara si kembar sudah tertidur lelap. Sedangkan Agung, kini sedang menemui Two Ar di restoran yang sudah di sepakati.


"Sory brow, kakakku tidak bisa datang." Ucap Agung membuka obrolannya.


"Kenapa lagi dia ?" Tanya Arfin.


"Kakak iparku dapat teror." Ucapnya lirih.


"Astagfirullah." Ucap mereka bersama.


"Aku heran, dengan yang meneror Icha, tidak ada habisnya." Ucapnya seraya memikirkan jalan keluarnya.


"Iya itulah ujian hidup kak, kita yang enggak tahu apa-apa kita pulalah yang kena getahnya." Ucap Arfin.


"Maksudnya ?" Tanya Agung yang belum mengerti.


"Yang neror Icha itu ada 2 orang, 1 musuh almarhum ayahnya dan 1 lagi yang ambisius ingin memiliki Al." Ucapnya.


^^^Mendengar hal itu Agung mulai paham, dan dia juga berfikir untuk solusi terbaik tanpa perlu melibatkan tembak menembak, namun apalah daya niat baiknya selalu ditatang oleh para lawan. ^^^

__ADS_1


...Sedangkan di kediaman orang tua Icha, nampak sepi karena para penghuni sudah terlelap dalam mimpi. Namun masih tetap dalam penjagaan ketat, walau lewat jarak jauh. ...


^^^Sementara om Fadil dan Ninda, sedang sibuk membantu aqiqahan saudara maminya Ninda. Tak jauh beda dengan om Fadil, Mami dan papi juga tengah priper untuk menyusul kami. Mereka khawatir dengan keselamatan kami semua. ^^^


"Pi, sudah selesai belum ?" Tanya mami Rima.


"Sudah mi." Jawab papi Taufan.


"Alhamdulillah." Ucapnya.


"Iya." Jawab papi.


"Yuk tidur." Ucapnya.


"Iya." Jawab papi lagi.


Pagi harinya, aku tengah memandikan si kembar sementara mas Al menyiapkan baju mereka.


"Sudah yuk." Ajakku.


...Selesai mandi, kami berdua memakaikan baju mereka. Karena hari ini mau jemput oma dan opa di bandara. Ditemani om Pian saja, karena putri om Pian memilih kerja. ...


Selesai semua, kami langsung naik mobil dan menjemput mertuaku. Sementara Agung, masih tertidur di kamarnya. Karena subuh tadi dia baru pulang.


^^^Sesampai di Bandara, si kembar yang memakai kemeja warna hitam dan celana jins hitam juga membuat mereka tambah tampan, ditambah lagi warna kulitnya yang putih langsat dan memakai aksesoris kacamata nampak kelihatan cool. ^^^


Dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Nizam Yang selalu ramah dan sumeh, sementara Nazriel yang terkesan dingin, dan mahal senyum seperti kulkas atau kanebo kering itu tetap membuat kami sebagai orang tuanya bangga.


...Hingga akhirnya mertuaku sampai di bandara, melihat mereka datang aku lalu menyuruh si kembar mendekati mereka terlebih dulu, lalu sungkem kepada oma dan opanya. ...


"Cucu opa cakepnya Masyaallah." Ucapnya seraya tertawa dan langsung menggendong mereka.


Sementara kami langsung takzim dan menggandeng mami.


"Apa kabar mi ?" Tanyaku lembut.


"Baik sayang, kamu apa kabar ?" Tanya mami.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik juga mi." Ucapku seraya tersenyum.


"Syukurlah." Ucap mami.


Tak lama, mami langsung menepuk punggung om Pian.


"Makasih bestie sudah mau membantu." Ucapnya dengan bahasa gaul anak muda zaman sekarang.


Membuat kami berlima tersenyum.


"Ampun deh, oma tita aul gadis." Ucap mereka bersama.


Membuat kami bertiga tertawa dan menjadi pusat perhatian sekitar.


"Udah yuk mi, lanjut ke rumah saja ngobrolnya." Ucap suamiku.


"Iya." Jawab mereka.


Sesampai di rumah om Pian, kami lalu turun. Sementara si kembar sudah tertidur terlelap dalam pelukan oma dan opanya.


^^^Kami berdua langsung mengantar mami dan papi di kamar kami, untuk menidurkan si kembar. Dengan hati-hati mereka menidurkan si kembar. Selesai itu, kami langsung turun bersama. ^^^


Saat ingin melangkah, aku kembali lagi mengetuk pintu kamar Agung. Tak lama Agung keluar, dengan muka bantalnya.


"Hmm." Ucapnya.


"Mami dan papi sudah sampai." Ucapku yang tak ingin membuatnya kena omelan mereka.


"What ?" Tanyanya dengan mata membola dan lalu lari ke arah kamar mandi.


...Melihat itu, aku tersenyum seraya menutup pintu kamarnya. Dan beranjak turun ke bawah menemui mertua, sesampai di lantai bawah, kami semua langsung berbincang santai dulu. Dengan ditemani minum secangkir teh hangat dan cemilan. ...


Sementara Agung, dengan mode cepatnya, langsung mandi dan memakai baju lalu bercermin. Selesai itu, dia beranjak keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


"Pagi semua." Sapa Agung seraya tersenyum.


"Pagi." Jawab kami semua.

__ADS_1


__ADS_2