
"Pagi hanny,bunny,sweety". Ucap mas Al.
"Pagi suamiku". Ucapku seraya tersenyum.
Dan kami lalu memandikan si kembar. Setelah selesai,barulah kami yang mandi dan sholat subuh berjamaah di masjid.
Lalu lanjut jalan-jalan pagi bersama. Nampak jelas raut wajah si kembar riang gembira,bahkan terdengar tawa mereka. Membuat kami gembira ria.
Tepat di perempatan jalan,langkahku terhenti.
"Kenapa sayang ? Tanya mas Al. Aku membisu dan menatap arah depan, mas Al pun mengikuti apa yang ku lihat. Dia lalu menggenggam tanganku dengan lembut.
Lalu tersenyum. Hatiku sedikit tenang, melihat senyuman dari suamiku. Ya dari arah seberang,ada sosok lelaki yang menatapku dengan penuh kebencian.
Bisa aku pastikan,dia akan membunuh, aku tidak takut jika harus mati, tapi nyawa anak-anakku lebih dari segalanya. Kami berjalan seperti biasa.
Sesampai di hadapannya, aku langsung menutup tubuh putraku dengan strolernya. Aku berjalan di dekat stroler anakku. Sedangkan mas Al berada di belakang seraya mendorong stroler si kembar.
Sambil berjalan,aku mengawasi gerak-geriknya. Tak berselang lama,dia langsung beranjak pergi.
Rupanya,orang tadi melihat papi Taufan dan Agung. Melihat papi Taufan,kami langsung takzim. Begitu juga dengan si kembar.
__ADS_1
Setelah itu,papi mengajak mas Al berdiskusi. Sedangkan aku, mengikuti mereka dari belakang.
Sesampai di rumah,si kembar aku turunkan dan mereka langsung merangkak kesana kemari dengan bahagia.
Mas Al dan yang lain,menatap mereka dengan intens.
Dan disini,Ninda sedang berjuang melahirkan anaknya. Om Fadil terus menyemangati dan terus mendampingi.
"Ayo sayang,dikit lagi." Ucapnya.
"Ish kau ini,baru juga bukaan 6." Ucap Ninda ketus.
Saat tengah berdiskusi,sembari menatap si kembar. Gawai mas Al berbunyi. Sedetik kemudian.
Tanpa babibu aku langsung mengganti baju si kembar,dan aku juga mas Al. Setelah selesai, kami semua ke RS.
Sesampai di sana,aku yang menggendong Nizam,langsung direbut ibuku. Dan aku langsung,melihat bayinya.
"Masyaallah cantik banget Ninda." Ucapku.
"Terimakasih Cha." Ucapnya.
__ADS_1
Aku pun lalu menggendongnya,dan menciumnya.
Sedangkan mas Al bertanya kepada om Fadil,seraya menatapku. Begitupun dengan si kembar. Tiba-tiba menjerit keras. Karena melihatku menggendong bayi om Fadil.
Mendengar itu,aku langsung mendekati mas Al dan putra kami.
"Sayang,ini kakak kecil." Ucapku kepada anak-anak kami.
Nazriel tambah menjerit,akhirnya aku meletakkan anak om Fadil di box bayinya lagi. Sedangkan mereka semua, nampak gemas dan tertawa melihat kecemburuan si kembar.
Aku baru sadar,ternyata sedari tadi Bayu dan Bagas sudah ada di sini sedari tadi.
Aku menyalaminya. Lagi-lagi si kembar teriak,aku lalu menggendongnya dan mengajaknya untuk takzim kepada mereka.
"Ini om Bagas dan om Bayu,mereka saudara kalian ucapku pada si kembar. Kalian tidak boleh begitu ya sayang." Ucapku
Mereka menatapku dengan sendu,dan menganggukkan kepala. Semua orang yang di sana tertawa bahagia.
Bagas pun langsung menggendong Nazriel,sedangkan Bayu menggendong Nizam. Mereka saling menatap. Tak berselang lama,si kembar N tertawa terbahak.
"Alhamdulillah." Ucap kami semua.
__ADS_1
Melihat two N sudah rewel, kami pun pamit. Tak lupa juga kami takzim, kepada mereka semua. Selesai itu kami langsung pulang.
Di mobil si kembar sudah tertidur. Dengan minum menggunakan dotnya masing-masing