
"Boni' panggil mas Al. Ya bos jawabnya. Hanya dengan isyarat m***, ajudan mas Al sudah faham. Dan langsung melacak lokasi keluarganya. Dan setelah mendapatkan,Boni langsung mengirimkan pesan ke ajudan lain."
Dia lalu menatap sang bos,dan menganggukkan kepala. Dan Dias, ajudan mas Al sang hacker. Turut bekerja keras. Dia kini sudah menemukan seluruh identitas keluarga orang tersebut.
Bahkan mereka berencana membunuh anak-anak kami. Awasi mereka semua' ucap mas Al.
Mas Al yang terkenal kalem,baik,ramah dan suka menolong dikala menjabat jadi dokter. Kini berubah menjadi dingin,tak kenal ampun,dan sadis jika keluarga yang di sayangnya terancam.
"Ah..ampun,tolong ampuni aku. Aku akan memberikan semua informasi dari mereka". Ucap orang itu.
Mas Al menatap Rio,dan Rio langsung mengarahkan rekaman pembicaraan mereka. Sebagai bukti,dikala di butuhkan nanti.
Sedangkan di sini aku dan anak-anak, tengah asik menonton tv. Nizam dan Nazriel tertawa bersama. Seraya meminum asi. Bibi yang melihat mereka, tertawa geli. Kenapa bi ? Tanya mas Al.
"Astagfirullah' maaf den,aden datangnya tiba-tiba' ucapnya. Itu den, si kembar,berebut minum asi' ucap bibi seraya pamit."
Owh' ucap mas Al. Dan lalu menghampiriku.
__ADS_1
"Assalamualaikum". Ucap mas Al.
"Waalaikumsalam." Ucapku lembut. Serius takzim.
Sedangkan si kembar tiduran sambil minum asi. Mas Al melihatku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Dia lalu beranjak mengunci pintu dan mematikan lampu.
Melihat demikian,aku hanya menghembuskan nafasku pelan. Sesampai di ruang tv,mas Al lalu men**** b****ku lama.
Hingga tanpa ku tahu,si kembar sudah tertidur pulas. Dan melepas sumber rasa hausnya.
Sesampai di kamar,Nazriel ku masukkan ke box nya. Aku lalu ke tempat tidur, begitupun dengan mas Al. Aku lalu melepas ***ku,dan menaruhnya di pakaian kotor.
Mas Al masih terdiam,dia hanya menatapku. Aku lalu memompa asiku untuk mereka,dan tak butuh waktu lama,sudah 4 botol penuh, aku dapatkan. Lalu ku masukkan dalam kulkas.
Selesai itu,ku cuci alat pemompa asiku dengan bersih,lalu ku letakkan di tempat biasa.
Aku lalu mematikan lampu,dan tidur. Namun tangan mas Al, sudah merajalela kemana-mana. Aku pun hanya pasrah,tanpa melawan.
__ADS_1
Dan kami mengulangi ritual lagi dan lagi. Tepat jam 12 malam, kami baru selesai. Tiba-tiba asiku nampak menetes,aku lalu menghidupkan lampu kamar.
Dan hendak beranjak, namun di cegah mas Al. Tanpa banyak bicara,dia lalu meminumnya. Hingga aku tak sadar,tertidur.
Selesai itu,mas Al nampak tersenyum melihatku,dan menutupi tubuh kami dengan selimut.
Tepat jam 1 malam,si kembar menangis. Aku lalu menggendongnya. Dan memberinya asi,setelah tertidur aku lalu memindahkan mereka lagi. Dan mencoba untuk memejamkan m*t*,namun belum bisa.
Aku lalu memeluknya,semoga bisa tertidur' ucapku lirih. Namun gerakanku,membuat mas Al terbangun. Dan langsung memelukku erat.
Sedangkan di sini, Agung nampak serius menatap seseorang yang mengawasi rumah kami.
Ya rumah kami berdekatan dengan rumah Agung,dan rumah kak Arfin. Semenjak kejadian itu,mami dan papi meminta rumah kami berdekatan dengan Agung.
Kak Arfin yang juga sedang di Indonesia,dan kini berada di rumah. Merasa janggal karna sedari tadi,orang itu menatap rumah kami. Padahal sudah jelas di dalam dan di luar di jaga ketat.
Namun,sepertinya tak membuat dia takut.
__ADS_1