
"Tanpa sadar,mas Al nampak tertidur dengan posisi duduk. Dan tangannya menggenggam tangan kananku. Tak berselang lama,om Fadil masuk dengan langkah pelan. Syukurlah sudah ada temannya." Ucap om Fadil.
Sementara di ruang anak, nampak Agung menjaga ke dua buah hati kami dengan tatapan sendu. Balita sekecil ini harus merasakan perihnya di operasi. Ucapnya dalam hati.
Di area parkiran,nampak Bagas menangis,ya dia berulang kali menahan agar tidak menangis. Namun faktanya dia tidak bisa, Bila melihat Nazriel dia teringat akan dirinya di masalalu.
Bayu sang adik selalu memberi kekuatan untuk sang kakak tercinta. Hingga dia memeluk sang kakak,seraya berkata jangan menangis terus kak. "Ingatlah bahwa ALLAH tidak akan menguji hambanya di luar batas."
Nampak Bagas sudah terdiam. Dia lalu keluar menuju RS, untuk menengok kami. Sesampai di ruanganku, mereka berdua mematung dan tak bisa berucap apa-apa.
"Flasback off".
Setelah kepergian om Fadil,tanganku bergerak hingga membuat genggaman kami terlepas. Dan membuat mas Al terbangun. Melihat tanganku bergerak,mas Al membenarkan posisinya dan menatapku dengan lekat. Takut yang dia lihat salah, namun itu tidak salah. Mas Al sedikit tersenyum.
Lalu langsung beranjak,dan memeriksa kondisiku. Alhamdulillah semua nampak baik, gegas mas Al menghubungi om Fadil.
Tak menunggu waktu lama, om Fadil datang. Dia nampak tersenyum tipis kepada mas Al. "Dil, Icha gimana ?" Tanya mas Al.
"Alhamdulillah Al,Icha sudah melewati masa kritisnya." Ucap om Fadil seraya menghembuskan nafasnya dengan pelan.
"Alhamdulillah." Ucap mas Al seraya tersenyum.
"Tapi Al,ucap om Fadil terhenti. Khawatir yang diucapkan membuat sahabat sekaligus adik iparnya itu sedih. Tapi kenapa Dil ?" Tanya mas Al.
Om Fadil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dan dia meminta mas Al untuk ikhlas. Nampak mas Al mengernyitkan keningnya.
"Al, kaki Icha yang tertembak sudah tidak berfungsi lagi." Ucap om Fadil lirih.
"Enggak kamu pasti salah Dil." Ucap mas Al seraya menangis.
"Flasback on."
Bagai tersambar petir,Bagas dan Bayu mendengar keadaanku. Begitupun dengan Agung, yang juga membawa Nizam. Bayi kecil itu seolah mengerti kesedihan papanya,dia menatap omnya. Melihat ditatap Nizam, Agung lalu mendekati mereka.
Begitupun dengan Bagas dan Bayu,sesampai di hadapan mas Al yang terduduk lemas di lantai. Nizam lalu mendekati sang papa.
__ADS_1
"Papa...papa..." Ucapnya seraya memeluk sang papa. Mas Al pun langsung membalas pelukan putranya.
Sedangkan Agung,setelah menyerahkan Nizam dia lalu beranjak pergi. Dan menghubungi ajudannya yang dia temui semalam bersama mas Al.
Sesampai di tempat ajudannya,dia lalu masuk ke dalam. Nampak terdengar jelas jeritan Alea, membuat Agung berdecak kesal.
"Kenapa lagi dia ?" Tanya Agung datar.
"Wajahnya memerah dan hancur bos." Ucap sang ajudan.
Agung hanya terdiam,lalu meminta sang ajudan membawa Alea ke hadapannya. Sang ajudan pun langsung membawa Alea keluar.
Sesampai di luar, Alea nampak terkejut melihat Agung ada di hadapannya. "Kenapa dia bisa secepat itu tahu,bahwa aku pelakunya." Ucapnya dalam hati.
Nampak Agung membalas menatapnya dengan tatapan nyalang. Alea merasa takut,dia lalu menunduk. Sedangkan Agung langsung menyuruh ajudannya untuk mengikat Alea.
Alea hanya terdiam dan tidak menolak. Selesai diikat, Agung lalu menyerahkan pistol ke snipernya. "Tembak dia tepat di kaki kanannya ! Titah Agung.
"Siap bos." Ucapnya dan tanpa menunggu waktu,peluru itu masuk ke dalam kakinya. Alea hanya mengerang kesakitan dan tidak bisa menjerit. Karena mulutnya di lakban.
"Lion hubungi dokter Fredi." Ucapnya.
Alea menangis dan menundukkan wajah. Melihat itu Agung menghampirinya. Dan berkata. Jangan ganggu singa yang tertidur, tapi sepertinya ucapanku tidak kau dengarkan. Sekarang nikmatilah rasa sakitmu itu." Ucap Agung.
Sepeninggal Agung. Papi Taufan datang,lalu menatap Alea dengan tatapan memb***h. Alea nampak terdiam,karena sebentar lagi dokter Fredi datang.
Dan benar saja,dokter Fredi sudah datang,dia lalu menyalami papi. Papi pun membalas jabatannya. Selesai berjabat tangan,dokter itu pun izin,papi langsung mengizinkan.
Tanpa Alea tahu,dokter Fredi menambahkan suntikan ****** berbeda orang lagi. Ya Alea tidak mungkin tahu,karena dia dalam kondisi di bius setengah badan.
Dan tanpa Alea tahu juga,dokter Fredi menambahkam terus suntikan itu.
Kini Agung masuk ke perumahan XX yang di tempati Amara. Sesampai di sana,nampak ibu-ibu komplek membicarakan Amara. Mendengar itu,Agung pun meminta sang ajudan keluar dan bertanya kepada ibu-ibu itu.
"Permisi bu,apa benar nona Amara sakit ?" Tanya ajudan Agung.
__ADS_1
"Iya mas benar,ngomong-ngomong anda ini siapa ya ?" Tanya ibu itu.
"Saya bukan siapa-siapa bu,tapi mendengar di konten youtube,saya kasian." Ucap ajudan Agung.
"Lho sudah masuk konten mas ?" Tanya ibu itu lagi.
"Ajudan Agung langsung memberikan hpnya ke ibu tadi. "Astaqfirullah." Ucap mereka bersama. "Iya bu,makanya saya ingin tahu sebenarnya." Ucapnya penuh keyakinan. Hingga membuat ibu itu memberi tahunya.
"Tadi terlihat nangis,habis itu lupa terus tawa,tapi seluruh badannya tidak bisa bergerak mas. Dan habis itu dia tidur lagi mas. Sudah mengundang dokter juga,namun dokter bilang ada yang sengaja menyuntikkan obat tidur untuk Amara. Dan obat lumpuh permanen serta obat pelupa." Ucap ibu tadi.
"Terus pelakunya sudah di tangkap bu ? Tanya sang ajudan. "Belum mas,semoga saja jangan ketangkep." Ucap ibu itu,dari arah berlawanan.
Sedangkan ibu yang diminta keterangan,langsung menjawab. Dengan suara lirih. "Anak lelaki sudah di bunuh oleh Amara,mungkin beliau masih sakit hati." Ucap ibu itu.
"Di bunuh karena apa bu ?" Tanya sang ajudan. "Membongkar kejahatan dan kehamilan Amara. Tersiar kabar yang di tuduh dokter Al yang menghamilinya. Namun anak ibu tadi,tidak percaya makanya dia membuktikan ucapan Amara salah. Selang 3 hari, anak itu tewas di tabrak orang suruhan Amara." Ucap ibu tadi.
"Maaf bu,kalau boleh tahu nama anak itu siapa ya ?" Tanya sang ajudan.
"Namanya Andre mas". Ucap ibu tadi.
"Dia juga teman kuliahnya pak dokter itu,dulu di nikahan pak dokter,Andre juga datang. Cuma sayang,dia dari keluarga tidak mampu. Makanya keluarganya tidak melaporkan Amara." Ucap ibu itu.
Mendengar itu,ajudannya hanya mengelus dada. Serta mengucapkan terima kasih atas infonya. Dan beranjak pergi.
Dan di RS, nampak mas Al sudah tenang. Keluarga besar sangat terpukul mendengar kaki Icha sudah tidak berfungsi lagi. Sedangkan si kembar,nampak menatap sang mama masih terpejam.
Nizam langsung mendekatinya dan menciumi kaki sang mama. Dan tangan mungilnya,memijit kaki sang mama yang tertembak dengan perlahan.
Nazriel nampak memandangi sang kembaran dengan seksama. Dia juga ingin melakukannya,namun luka di perutnya masih terasa.
Mas Al terlihat meneteskan air m***nya. Dan lalu memeluk tubuhku. Melihat demikian, Kak Dodhy,Bagas,Bayu,Kak Arfan dan kak Arfin menenangkan mas Al.
Nampak disana mereka,juga ikut menangis. Sedangkan om Fadil kini sedang membawa serta istri dan anaknya di RS.
Sesampai di sana, Ninda langsung menatapku dengan nanar. Nizam yang enggan beralih di kakiku,membuat Ninda menangis.
__ADS_1
Ninda lalu menghampiri putraku. "Sayang ikut tante yuk." Ucap Ninda tulus. Namun Nizam nampak menggelengkan kepalanya. Dia dengan polosnya,menyebut namaku. "Mama...buh..."ucapnya spontan.
Membuat kami yang di sana,terharu akan tingkah bocah 8 bulan itu. Tanpa kami tahu, Agung mendengar itu di belakang dinding. Dan tanpa di ketahui Agung juga, Nampak Aiman memperhatikannya. Dia lalu mendekati Agung.