
"Hanny, besok aku pulang malam. Kamu ketempat Nilam ya." Ucapnya.
"Nilam siapa mas ?" Tanyaku.
"Astaqfirulloh,maaf aku lupa memberi tahumu. Nilam itu anaknya Fadil dan Ninda." Ucapnya seraya memelukku.
"Owh namanya Nilam." Ucapku.
"Iya sayang." Ucapnya seraya memelukku.
Paginya kami pun melakukan aktifitas seperti biasa. Dan tepat jam 7 pagi, kami meninggalkan rumah.
Sesampai di rumah omongan Fadil, aku lalu turun dan beranjak melangkah ke luar mobil. Di halaman sudah ada Ninda menunggu di sana.
Melihat kami turun, Ninda tersenyum lebar. Seraya menghampiri kami.
"Titip tulang rusukku ya." Ucap suamiku.
"Haha, ya ok." Ucapnya.
"Hanny aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Ucapnya.
"Iya." Ucapku seraya takzim.
Sementara mas Al nampak melirik sekeliling, lalu masuk mobil. Sesampai di RS, mas Al langsung menangani pasien. Sementara aku disini, bermain dengan si kembar dan mengobrol dengan Ninda.
Sedangkan Nilam, dia baru tidur.
"Cha, kamu enggak capek ?" Tanyanya.
"Capek, tapi ya inilah tugas ibu." Ucapku.
"Iya, kalau 1 masih bisa di handle sendiri,ini kembar tapi kamu handle sendiri." Ucapnya.
__ADS_1
"Ya enggak apa-apakan, aku masih sanggup." Ucapku seraya tersenyum.
"Pantes badanmu kurus." Ucapnya.
"Ya." Ucapku singkat.
"Cha, kamu enggak minta jasa suster ?" Tanyanya.
"Kemarin pas aku belum sadar, ibuku memakai jasa suster. Namun baru sehari, sudah minta pulang." Ucapku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Kata ibu, Nazriel selalu memukulnya." Ucapku.
"Maksudnya gimana Cha ?" Tanyanya.
"Ya setiap gendong Nazriel, suster itu selalu di puk*l pakai tangan. Tiap di nasehati, anakku langsung marah. Ucapnya lirih.
"Iya Nin, nanti aku akan coba tanya psikiater. Aku enggak mau anak-anakku jadi pemarah." Ucapku.
"Iya." Ucapnya.
Tak berselang lama, malam pun tiba. Kami makan malam bersama,sementara si kembar dan Nilam kini sudah tertidur. Karena sudah jam 9 malam. Aku masih menunggu di ruang tamu bersama Ninda.
Hening, hanya suara mobil lalu lalang saja yang datang. Karena rumah om Fadil dekat jalan raya. Aku yang sedari tadi mengotak atik gawaiku,tak terasa tertidur di sana.
Melihat hal itu Ninda tersenyum, namun senyumnya hilang seketika saat melihat gawaiku yang masih menyala.
Rupanya ada pesan masuk yang mengirimkan video penembakan kemarin. Beruntung Icha tidak melihat. Ucapnya.
Tak ingin kecolongan lagi, Ninda langsung mengirimkan pesan itu kepada suaminya dan suamiku.
Tak lupa juga dengan kak Dodhy, dan alhamdulillah langsung di baca. Tak lupa juga, Ninda menghapus pesan tadi di ponselku.
__ADS_1
3 menit kemudian, mereka sudah datang. Nampak mas Al berlari, dan mendekati aku.
"Al, untuk sementara kamu bawa Icha dan si kembar ke tempat yang aman." Ucapnya.
"Baiklah aku akan membawa mereka ke desa." Ucapnya.
"Jangan." Ucap Ninda.
"Kenapa ?" Tanya mas Al.
"Asal kamu tahu, yang mengirim pesan di nomer hp Icha tak lain tak bukan itu adalah Morgan. Dan Morgan kini tinggal di kampung juga, seluruh kampung sudah mengenalnya." Ucapnya.
"Morgan ?" Tanya om Fadil.
"Ya by, dia itu teman sekolah kami, dia itu benci banget dengan Icha. Karena setiap di minta ngerjain tugas Morgan, Icha selalu menolaknya." Ucap Ninda jujur.
"Darimana kamu tahu ?" Tanya suamiku.
"Aku tahu dari ajudanku." Ucapnya.
"Terus aku mesti gimana ?" Tanyanya.
"Ikut om saja Al." Ucapnya.
Spontan mereka pada menengok sumber suara tersebut.
"Om Pian." Ucap mereka bersama.
"Ya." Ucapnya seraya mendekati mereka.
Ya om Pian bukan siapa-siapa kami, namun selalu ada untuk membantu kamu. Beliau ini orang baik, perusahaan dimana-mana, tidak membuat beliau lupa diri dan sombong.
Beliau ini orang terkaya di Indonesia, beliau juga memiliki satu putra dan sudah lama menduda. Dulu saat ayahku tiada, beliau langsung melihat keluarga besar kami berduka
__ADS_1