
"Dan langsung ke pemakaman, awalnya keluargaku curiga dia ini mata-mata. Namun setelah di selidiki, ternyata dia bukanlah mata-mata. Aku sudah lama memantau kalian dari jauh, aku kasihan pada istrimu dan anak-anakmu. Ikutlah bersamaku." Ucapnya Panjang lebar.
"Kalau kamu ragu, kamu bisa membawa kembaranmu itu ke tempatku." Ucapnya.
Mas Al pun mencari keputusan yang tepat, dia lalu menghubungi maminya.
("Halo mi Assalamualaikum." Ucapnya.)
("Waalaikumsalam ya Al." Ucap mami.)
("Mi, mami kenal om Pian enggak ?" Tanyanya.)
Mas Aldo pun langsung mendekati om Pian. Dan memperlihatkan wajahnya.
("Ya ampun Pian, ini beneran kamu ?" Tanya mami.)
Kami yang mendengar pun sangat terkejut,rupanya di luar expetasi. Sang mami malah sudah kenal,mendengar itu mas Al menatap om Fadil.
__ADS_1
Sementara yang ditatap, diam mematung tanpa expresi.
Selesai Vc, mas Al pun setuju tapi dengan syarat Agung ikut serta dengannya. Om Pian tak mempermasalahkan, dia malah senang dan berharap semoga ALLAH menjadikan Agung jodoh putrinya. Aamiin. Ucapnya dalam hati.
Beliau takut, di usianya yang semakin tua, putrinya belum ada yang menjaga.
Setelah setuju, mas Al pamit dengan om Fadil seraya menggendongku. Sementara si kembar, di gendong om Pian dan om Fadil.
Setelah siap, kamu pun berangkat bersama. Dan menjemput Agung, awalnya dia menolak karena sedang ada kerjaan. Namun setelah kami mau menunggu, dia pun menerima walau sedikit kesal.
Sesampai di bandara, kami semua naik. Setelah naik, om Pian merasa heran dengan si kembar,di pindah 3 kali sama sekali tidak terbangun.
Agung yang tak sengaja mendengar itu, langsung tersenyum getir. Seraya mencium pipi chubby Nizam dengan gemas. Sementara yang di cium, tak ada expresi dan tidak juga bangun.
Om Pian yang melihat itu, nampak menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar.
Merasa mengantuk, akhirnya mereka menurunkan si kembar di box tempat tidur dengan hati-hati. Tidak lupa juga, mas Al memberikan 2 botol dot ke mereka.
__ADS_1
"Gung ini nanti buat mereka,kalau di rumah satu jam lagi mereka sudah bangun." Ucapnya.
"Ya kak. tenang saja." Ucapnya.
"Ya sudah aku tinggal dulu ya." Ucapnya.
"Ya." Ucap Agung.
Benar saja baru sejam memejamkan mata, si kembar terbangun. Agung langsung memberikan susu kepada mereka, lalu tidur lagi.
Sementara om Pian, sudah tertidur sejak si kembar ditidurkan di box balita. Dia sama sekali tak terganggu dengan suara si kembar. Lain halnya dengan kami yang ada disini, mas Al sedari tadi tidak tidur, sementara aku masih tidur.
Dia dengan telaten memompa asiku, lalu di berikan kepada si kembar. Tepat jam 3 dini hari,kami baru sampai di Palembang. Sesampai di sana, putrinya om Pian sudah menunggu.
Setelah masuk mobil dan sudah siap, kami pun berangkat bersama. Tanpa sadar,tatapan putri om Pian menatap mas Al dan Agung bergantian.
Mereka kembar ? Terus kedua anak itu, anak siapa ? Ucapnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Sadar bila ditatap, Agung nampak cuek dan merebahkan tubuhnya di belakang kursi mobil. Demikian juga dengan mas Al. Cuma bedanya, dia memelukku, sementara Agung tidak ada yang di peluk.
Om Pian yang sedari tadi pura-pura tidur,menatap anaknya dengan intensitas.