
"Aamiin. " Ucap teman Arfin.
"Sialan kamu, ngagetin aja." Ucapnya.
"Hehe, bisa kaget juga toh kamu ?" Tanyanya.
"Bisalah." Ucapnya.
"Oh kirain enggak bisa." Ucap Andri teman kuliahnya dulu.
"Tumben kamu kesini ?" Tanya Andri.
"Hmm,ada tugas aja." Ucapnya.
"Oh kalau enggak ada tugas, enggak kesini ?" Tanyanya.
"Kepo banget sih kamu." Ucap Arfin.
"Slow saja bestie." Ucapnya.
"Hmm." Ucapnya singkat seraya beranjak pergi.
Masih sama kaya yang dulu, enggak suka becanda dan lebih banyak diam. Ucap Andri.
Sementara Arfin langsung ke ruangan kerjanya, dan membalas pesan dari kakaknya.
...****************...
Kini aku dan mas Al berada di tempat tidur dan saling memandangi si kembar. Yang tidur nyenyak di sana, bayi seumuran mereka mesti merasakan pahitnya timah panas. Beruntung ALLAH masih sayang kepada kami. Tak terasa air mataku menetes, mas Al langsung mengecup keningku.
__ADS_1
"Kenapa hanny ?" Tanyanya.
"Ternyata benar ya mas, bila kita ada salah, anak yang jadi korban." Ucapku seraya menangis.
"Shht, maka dari itu kita harus banyak hati-hati hanny." Ucapnya seraya memeluk tubuhku erat.
"Mas, aku titip si kembar dulu ya. Aku mau ke luar sebentar." Ucapku.
"Iya, tetap waspada hanny." Ucapnya.
"Insyaa ALLAH mas." Ucapku.
...Sesampai di lantai bawah, ku lihat Agung dan Arfan disana. Sedang berdiskusi, aku berjalan ke arah taman belakang rumah om Pian. Rupanya disana ada penjaga, aku pun langsung pergi dari sana. Dimana-mana dijaga, padahal aku lagi pingin sendiri. Ucapku lirih seraya melihat tempat sekitar. Tepat di ruangan untuk ibadah aku berhenti, aku memutuskan untuk sholat di sana. Biar hatiku tentram, walau banyak masalah. Selesai sholat dan ngaji, alhamdulillah hatiku terasa damai. Aku lantas berjalan kembali ke atas, mungkin si kembar sudah bangun. Ucapku dalam hati....
Sesampai di kamar, rupanya mereka belum bangun. Sementara suamiku, juga terlelap di sana. Sungguh indah melihat mereka tertidur seperti ini. Ucapku lirih.
"Hanny, kamu disini ngapain ?" Tanya suamiku seraya menggendong putra kami.
"Baca mas. Anak-anak mama sudah bangun ya." Ucapku seraya tersenyum.
Membuat mereka tertawa. Mas Al langsung masuk lagi, sementara kami bertiga tetap di barinton.
"Mama." Panggil Nizam.
"Iya sayang." Ucapku lirih.
"Maem." Ucapnya.
"Oh anak mama lapar ya ?" Tanyaku lembut seraya menuntun mereka.
__ADS_1
"Iya." Jawab mereka bersama.
Kami pun langsung turun, Agung dan Arfan yang duduk pun langsung menggoda si kembar.
"Ponakan om sudah bangun ya ?" Tanyanya.
"Sudah." Ucapnya datar.
Masih bocil saja dinginnya kaya kutub utara, gimana besar nanti. Ucap Agung dalam hati.
Aku lalu menyuapi mereka berdua, tak berselang lama mas Al turun dan berkumpul bersama.
"Alulillah." Ucap si kembar bersama.
"Alhamdulillah sayang." Ucapku membenarkan ucapan mereka.
"Mi lom sa ma." Ucapnya.
"Iya belajar ya." Ucapku lirih.
"Eles ma." Ucapnya.
Selesai makan mereka langsung cari mainan sendiri. Dan tetap dalam pengawasan kami.
..."Kak tadi si kembar bilang apa ?" Tanya Agung kepadaku....
"Belum bisa berkata-kata Alhamdulillah, dan aku minta mereka belajar dulu. Mereka jawab beres ma." Ucapku.
"Oh." Ucapnya seraya memperhatikan mereka.
__ADS_1