
"Paginya,aku bangun dan memandikan ke dua putraku. Selesai memandikan,aku lalu mengajak memakaikan baju dan penghangat badan. Dan ku ajak mereka turun."
Sesampai di lantai bawah,aku beserta kedua putraku menuju ke kamar tamu. Niatku,ingin menidurkan mereka di kamar. Sedangkan aku mau beribadah.
Kubuka pintu kamar perlahan-lahan, seraya menatap ke kamar tidur. Takutnya bibi lupa mengganti sprei, namun di luar expetasiku.
Ku pikir ucapan mas Al benar adanya, akan meninggalkan kami. Tetapi faktanya dia menginap di sini. Aku terdiam,haruskah aku bahagia atau malah bersedih. Sedih karna ucapan mami Rima,masih membayangi pikiranku.
Saat fikiranku penuh dengan masalah yang ku hadapi,tiba-tiba kedua putraku menangis. Spontan aku menenangkan keduanya,namun usahaku tak membuahkan hasil.
Aku lalu bergegas menutup pintu dan beranjak pergi. Namun sayang,mas Al sudah bangun.
"Sayang,kalian kenapa' ucap Al seraya mengambil kedua putra kami. Tanpa bertanya kepadaku."
"Udah cakep-cakep ya anak-anak papa' ucapnya seraya menenangkan mereka. Mereka pun sudah nampak tenang. Dan tertidur dengan nyenyak."
Mas Al lalu menidurkan mereka perlahan,selesai melakukan itu,mas Al lalu pamit kepada kedua putra kami. Papa mandi dulu ya sayang' ucapnya. Seraya berlalu.
Aku memilih meninggalkan mereka dan membaca alquran di gawaiku. Karna aku masih masa nifas. Selesai membaca,aku lalu menengok two A.
Syukurlah mereka masih terlelap' ucapku pelan. Dan menutup pintu kembali. Namun langkahku terhenti, di hadapanku ada mas Al yang sedang mengotak-atik gawainya.
Aku langsung berjalan ke lain arah dan meninggalkannya. Sedangkan mas Al hanya menatap punggungku yang semakin menjauh dengan nanar.
Sampai kapan kita begini Cha,sungguh aku rindu kamu' ucapnya dalam hati.
Aku lalu menyiapkan bajunya dan sarapan untuknya,ya meski marah, aku tetap melakukan tugasku sebagai istri.
Tepat azan subuh,mereka semua sudah keluar rumah. Kak Dodhy,langsung sarapan dan pergi dengan banyak urusan. Sedangkan ibuku,menemani Two A.
"Kamu mandi dulu Al,anak-anakmu biar ibu yang jaga' ucap ibu."
"Iya bu' ucapnya seraya berlalu."
Saat aku sudah di kamar atas,mas Al juga di sana. Dia melihatku,dan melihat baju yang ku siapkan untuknya.
Ya ALLAH jangan pisahkan kami. Aamiin' ucap mas Al dalam hati. Tak lupa aku juga menyiapkan parfum untuknya.
Selesai menyiapkan,aku berhias dan tak berselang lama,mas Al sudah selesai. Dia lalu memakai kemejanya dan minyak wangi.
Selesai semua,kami masih terdiam. Aku hendak beranjak dari kursi,namun di tahan olehnya.
"Aku ingin bicara' ucapnya dengan tangan memegang bahuku."
Awalnya aku menolak,namun dia langsung berjongkok menghadap ke arahku.
"Sampai kapan kita seperti ini ? Tanya mas Al."
"Ku hembuskan nafas pelan,aku tidak tahu' ucapku seraya menunduk."
Mendengar itu,mas Al mengangkat daguku ke atas dengan pelan.
"Tatap aku Cha' ucapnya halus."
"Maaf aku tidak bisa' ucapku"
Mas Al terus berusaha tanpa menyerah,hingga akhirnya mas Al mengalah dan bertanya.
"Apa dengan perpisahan,kamu akan bahagia ? Jika iya,bunuh saja aku Cha' ucapnya paraw".
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Baru aku ingin menjawab,mas Al lalu berkata lagi.
"Karena jujur,hidup jauh darimu aku sudah tidak mampu. Ditambah sekarang sudah ada anak-anak' ucapnya terisak".
Aku lalu memeluknya dengan erat,melihat responku mas Al langsung membalas pelukanku. Tak berselang lama,kami melerai pelukan kami.
"Thanks hanny' ucapnya seraya men**umku. Ya mas' ucapku seraya mengelap air m*t*nya."
Setelah itu,kami pun keluar kamar,dengan wajah yang bahagia.
"Masya ALLAH gitu dong, kan enak liatnya terasa adem' ucap ibu dan bibi."
Kami hanya tersenyum. Dan segera sarapan. Selesai itu,mas Al pamit dulu. Tak lupa juga mencium kedua putranya. Dan beranjak pergi.
"Bu,titip Icha dan anak-anak ya' ucap mas Al."
"Iya' ucapnya."
"Hanny,aku tinggal dulu ya. Ingat jangan seperti kemarin' ucapnya mewanti-wanti. "
"Insyaa ALLAH mas' jawabku. Namun, baru aja mas Al masuk,aku menahan sakit di bagian pa****raku."
__ADS_1
Melihat itu mas Al langsung keluar,dan membopongku masuk kamar.
Dan membuka pakaian atasku,lalu meminumnya layaknya anak bayi.
Awalnya aku terkejut,namun setelah tahu maksudnya aku terdiam.
Hingga 35 menit berlalu, terdengar mas Al bersendawa. Dan lalu menutupi tubuhku lagi dengan pakaian.
Setelah itu mas Al membasuh wajahnya,dan segera berangkat lagi.
"Kamu di sini saja,tak perlu mengantarku. Dan nanti aku usahakan pulang cepat' ucapnya. Aku hanya menganggukkan kepala."
Setelah kepergian mas Al,aku menemani ke dua putraku bersama ibu.
"Cha,ibu boleh bertanya enggak ? Tanya ibuku."
"Boleh bu' ucapku."
"Ibu kemarin dengar,kalau kamu belum bisa memaafkan mamimu. Apa benar itu Cha ? Tanya ibuku."
"Aku menghembuskan nafasku dengan pelan,Icha belum tahu bu,dan Icha mohon,jangan bahas itu dulu' ucapku seraya mengatupkan dua tanganku."
"Baiklah ibu tidak akan bertanya lagi, tapi ibu cuma bisa berpesan sama kamu. Kamu putri ibu satu-satunya,jadi jangan kotori hatimu untuk menjadi seorang pembenci' ucap ibuku."
"Astagfirullah,nauzdubillahminzalik jangan bu' ucapku."
"Belajarlah memaafkan ! Titahnya."
Tak berselang lama,anak-anakku menangis,dan langsung aku gendong.
"Haus ya sayang' ucap kami bersamaan."
"Ya ma' ucap ibuku menirukan suara anak kecil."
Kami tertawa bersama,tepat jam 12 siang, aku membawa two A keluar kamar. Ditemani bibi,sedangkan kami makan siang bersama.
Selesai makan,kami langsung menuju depan tv.
"Bi makan dulu bi' ucapku."
"Iya nona' ucapnya."
"Iya nyonya dan nona' jawab bibi."
Semenjak kehadiran two A, kesibukanku sudah berbeda. Sungguh indah karunia sang pencipta' ucapku dalam hati.
Aku mengoleskan seluruh tubuhnya dengan bedak dingin,karna hari ini tempat ibuku sangat panas. Hingga membuat tubuh two A berkeringat.
Padahal ac dalam keadaan nyala. Tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Selesai memandikan two A dan memakaikan baju lengan panjang,dan memberi asiku kepada mereka. Mereka pun tertidur kembali.
Melihat mereka tertidur, aku langsung bergegas mandi. Selesai itu,memasak lagi untuk mas Al.
Selesai memasak, aku langsung makan dulu,entahlah aku jadi sering lapar setiap selesai menyusui ke dua putraku.
Tepat jam 5 sore,aku sudah selesai memasak dengan di bantu bibi.
"Bibi ini buat bibi dan pak Udin' ucapku seraya memberikan masakanku tadi."
"Aduh non,kenapa malah di kasih ke kami,ini untuk nona dan yang lain saja' ucapnya."
"Bi,jangan suka nolak rezeki' ucapku."
"Terus buat nona mana ? Tanya bibi. Ada tu di panci' ucapku."
"Makasih ya non' ucapnya. Ya sama-sama' ucapku."
Selesai memasak,aku membawa kedua putraku ke ruang tv,seraya menunggu mas Al datang.
Hingga jam 10 malam,mas Al belum pulang,two A sudah terlelap. Aku mencoba menghubungi mas Al,namun belum juga diangkat.
"Kamu kemana sih ? Tanyaku dengan kesal."
Aku lalu menelpon Agung,dan tidak di angkat juga.
Tanpa ku tahu,mas Al,Agung,Aiman dan Om Fadil sedang melakukan operasi di beda tempat mereka bekerja.
Hingga jam 12 malam,operasi berjalan lancar.
"Malam dok' ucap perawat pria yang tengah tugas malam. Malam' jawab mas Al."
Sesampai di ruangannya,mas Al melihat gawainya nyala. Gegas mas Al langsung memeriksanya. Rupanya sudah ada 2 panggilan tak terjawab dan 1 pesan belum terbaca.
__ADS_1
Mas Al lalu membuka pesan itu. ("Pa two A bangun' tulis pesan itu.") Dan dikirim foto juga. Melihat itu,mas Al tersenyum.
("Sabar sayang,papa baru selesai operasi pasien,ni mau pulang. Tunggu papa ya two A' tulis pesan mas Al.")
Sesampai di rumah,mas Al naik ke kamar atas,dan mandi. Selesai mandi, mas Al lalu memelukku. Dan menggendong 1 bayi kami.
Selesai menidurkan mereka,mas Al pun menceritakan tentang dokter yang berhalangan hadir. Itulah kenapa,mas Al pulang terlambat.
"Aku harap,kamu tidak marah' ucapnya."
"Resiko punya suami dokter,jadi tidak bisa marah' ucapku seraya merebahkan tubuhku di kasur. Dekat kedua anakku."
"Apa kamu marah ? Tanyanya seraya memelukku. Tidak' ucapku."
"Besok aku libur' ucapnya lagi,seraya membenarkan posisi tidurnya."
"Selamat malam' ucapku. Malam,jawabnya."
Oe..Oe...Oe. ..
Tangis bayi kami menggema keras,aku yang baru tertidur 1 jam,tidak terlalu terkejut. Berbeda dengan mas Al.
Namun,dia tetaplah membantu. Hingga jam 3 sepertiga malam,mereka berhenti menangis. Selesai memandikan dan memakaikan baju kedua putra kami,aku langsung menidurkan mereka.
Sedangkan mas Al,selesai sholat,terus mandi dan langsung tidur. Aku tidak melarangnya,karna aku tahu raut wajahnya sangat kecapean.
Aku lalu turun dengan membawa kedua putraku. Aku aktifitas seperti biasa,selesai membuat sarapan, aku langsung membersihkan dapur. Dan menata perlengkapan makan.
Tepat azan subuh,kak Dodhy turun.
"Pagi Cha' ucapnya. Pagi kak' jawabku. Mana keponakan-keponakanku ? Tanya kak Dodhy. Biasa kak,jam segini mereka tidur' ucapku dengan senyuman."
"Ya itulah bayi' ucap ibuku. Pagi bu' sapa kami. Pagi' jawabnya. Cha,nanti ibu ada acara,sampai sore. Nanti,kalau butuh apa-apa bilang bibi saja ya' ucap ibuku."
"Ya bu' jawabku. Memang acara apa bu ? Tanyanya. Acara reuni' ucap ibu. Owh' jawab kami bersama."
"Kalau kamu kak ? Tanyaku. Biasa,ke salon ibu' ucapnya. Setelah itu,kemana lagi kak ? Tanyaku. Kepo banget sih kamu' ucap kak Dodhy seraya takzim kepada ibu."
"Idih,ditanya baik-baik,malah ngegas' ucapku."
Tepat jam 6,rumah tampak sepi. Aku baru juga selesai jalan-jalan dengan kedua putraku. Sesampai di warung kelontong aku berhenti,mencari es criem yang ku suka.
"Neng Icha' sapa penjual kelontong itu. Cari apa neng ? Tanya penjual itu,yang aku sendiri lupa namanya. Maklum jarang hidup sosial."
Bukan karena sombong,tapi karena kakakku dan ibuku sangat posesif. Sejak kehilangan ayah,mereka sangat posesif.
"Carilah ice criem yang rasa banana' ucapku ramah. Oh yang banana,paling bawah neng' ucapnya."
"Setelah ketemu,barulah aku membayar. Baru datang ya neng ? Tanyanya. Udah dari kemaren bu' ucapku sopan."
"Owh gitu,ish ini pasti anak-anaknya ya Neng ? Tanyanya lagi. Ya bu' ucapku seraya tersenyum dan pamit. Hati-hati ya neng' ucapnya. Ya bu' jawabku."
Sesampai di rumah,aku dan kedua bayiku masuk. Tak lupa juga aku mencuci tanganku terlebih dahulu. Selesai cuci tangan,ku dorong stroler kedua putraku.
Aku berhenti di teras rumah. seraya membuka ice cream. Tepat jam 8 pagi,aku tertidur bersama two A.
Sedangkan mas Al,baru saja selesai mandi. Dan langsung turun ke lantai bawah.
"Pagi bi' ucap mas Al. Pagi den' jawab bibi yang tengah membersihkan rumah."
"Bi,istri saya sudah makan belum ? Sudah den, tadi bersama den Dodhy dan nyonya' ucapnya. Kalau bibi ? Sudah juga den' ucapnya. Owh' jawab mas Al. Saya makan dulu ya bi' ucap mas Al. Silahkan den' ucap bibi."
15 menit,mas Al sudah selesai makan,dia pun lalu berlalu dan menuju kamar tamu.
Masyaallah,rupanya kalian di sini' ucapnya mas Al dalam hati. Mas Al pun menyusul kami yang tengah asik bermimpi.
Dia memelukku dan berbisik di telingaku. "Hanny' anak-anak bangun' goda mas Al.
Mendengar itu,aku langsung terbangun dan menatap si kembar masih terlelap. Sedangkan mas Al, tertawa renyah.
"Aku langsung mencubitnya,ish hobi banget ganggu aku' ucapku pelan. Mas Al pun masih tertawa. Aku hanya memandanginya,dia pun juga membalas tatapanku."
"Makasih' ucapnya. Untuk ? Tanyaku. Untuk semua pengorbananmu' ucap mas Al. Sama-sama' jawabku. Dan kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur."
"Mas,kita belum beri mereka nama' ucapku. Ya hanny,maaf' ucap mas Al. Ya mas jawabku."
"Hanny, masa nifas kamu masih lama ya ? Tanya mas Al tiba-tiba. Aku tidak menjawab,dan pura-pura tidur. Ditanya malah di tinggal tidur' ucapnya seraya beranjak berdiri."
Aku yang tidak bisa tidur pun,langsung menyusul mas Al duduk di sofa. Mas Al hanya tersenyum.
"Tidurlah disini' ucap mas Al. Aku pun menurut. Kini kepalaku ku letakkan di pahanya. Sedangkan mas Al mengelus rambutku pelan."
__ADS_1