Jodohku Seorang Dokter.

Jodohku Seorang Dokter.
Part 55


__ADS_3

"Mereka mirip kalian ya." Ucap Arfan.


"Hehe, perpaduan kita." Ucap Agung.


Sementara mas Al hanya terdiam, seraya menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.


"Kenapa ?" Tanyaku lembut.


"Lelah." Ucapnya.


"Sini aku pijitin." Ucapku seraya meraih tangannya.


Dia hanya menurut, dan aku memulai memijitnya. Dia menatapku seraya tersenyum.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Kamu makin lama makin cantik hanny." Ucapnya seraya tersenyum.


"Aamiin." Ucapku seraya memijitnya.


Selesai memijit mas Al pamit untuk baring. Akupun mengizinkan dan kini aku bermain dengan si kembar. Aku melatih mereka bermain di rerumputan serta membawa mainan. Tak berselang lama di susul mas Al dan Agung.


"Kak Arfan kemana mas ?" Tanyaku.


"Sudah pulang hanny." Ucapnya seraya mencium pipi Nazriel.


Sementara Nizam, bermain dengan Agung. Di tempat agak jauh dari kami.


"Mama, Zam nana ?" Tanya Nazriel.


"Ya sayang, abang main sama om Agung." Ucapku seraya tersenyum.


"Ck, om tatal." Ucapnya seraya mendekati kami.


Mendengar itu kami langsung menasehatinya.


"Om enggak nakal sayang, om kan juga butuh teman. Enggak boleh gitu lagi ya." Ucap kami berdua.


"Iya, aaf." Ucapnya seraya memeluk kami.


"Iya sayang." Ucap kami bersama.


Sementara di tempat tak jauh dari kami, Agung terlihat tertawa lepas karena aksi Nizam sangat kocak.


"Sayang, pose yang kaya tadi dong." Ucap Agung.


"Iya om." Ucapnya seraya pantatnya menungging.


"Haha, lucu kamu ndut." Ucap Agung lagi.

__ADS_1


"Om aus." Ucapnya.


"Ya sudah, yuk kembali ke tempat mama." Ucapnya seraya menggendong Nizam.


Sesampai di tempat kami, Agung menyerahkan Nizam kepada mas Al.


"Dia haus kak." Ucapnya.


"Oh." Ucap suamiku.


Mendengar hal itu, aku langsung membawa si kembar ke kamar. Karena sudah waktunya mandi.


"Mas aku ke dalam dulu." Ucapku.


"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.


Sepeninggal kami, mereka kini saling menatap. Dan tak lama mereka saling menyunggingkan senyuman.


"Lucu ya kak si kembar, bisa jadi obat stres." Ucapnya.


"Iya,palagi karakter mereka tak jauh beda dari kita." Ucapnya.


"Iya." Jawab Agung.


"Ngomong-ngomong kita nanti di ajak makan malam sama Arfan, kakak mau enggak ?" Tanya Agung.


"Ya sudah enggak apa-apa." Ucapnya.


"Kamu enggak pengen nikah dek ?" Tanya suamiku.


"Ck, belum kak." Ucapnya.


"Hmm." Jawab suamiku.


...Sementara aku kini sedang memakaikan baju si kembar. Mereka terlihat anteng dan tak banyak suara. Setelah selesai, aku lalu mengajaknya ke lantai bawah lagi. Dengan membawa 2 dot penuh asiku, yang aku pompa tadi. ...


"Sayang makan buah dulu ya." Ucapku.


"Iya mak." Ucap mereka.


"Mama atu ndak uka anas." Ucap Nazriel.


"Iya sayang." Ucapku.


Setelah selesai makan buah, mereka langsung mengajakku keluar. Aku pun mengikutinya.


"Pelan-pelan sayang." Ucapku kepada mereka.


"Iya ma." Ucap mereka.

__ADS_1


"Zam, agetin papa ma om yuk." Ajak Nazriel.


"Ayo." Ucapnya.


Saat asik berbicara tiba-tiba mereka dikejutkan si kembar dengan berkata.


Dor...


"Astagfirullah." Ucap mereka bersama.


Membuat mereka kompak tertawa.


"Hahahaha, aget." Ucapnya seraya tertawa.


Sementara aku hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala.


"Sini kalian, ngagetin om ya." Ucap Agung seraya mengejarnya.


"Aaf om oyi." Ucap si kembar.


Saat aku hendak melangkah, tiba-tiba ada ajudan yang memberiku sepucuk kertas.


"Maaf nona, ini untuk nona." Ucapnya seraya menunduk.


"Ini apa pak ?" Tanyaku.


"Ini dari seseorang nona." Ucapnya.


Aku langsung membukanya, dan membacanya. Enggak, ini enggak mungkin. Ucapku lirih seraya menggelengkan kepala tak percaya.


Aku lalu menghampiri mas Al dan menyerahkan kertas tadi kepada dia.


"Hei kenapa ?" Tanyanya lembut seraya mengusap air mataku.


"Ini." Ucapku.


Dia menerima dan membacanya, kalau ingin keluargamu selamat, Pulanglah dengan cepat. Tulisnya. Dia lalu memelukku dengan erat.


"Kita semua akan baik-baik saja." Ucapnya seraya menghapus air mataku.


"Tapi ibu dan kak Dhody ?" Tanyaku.


"Kita bisa menghubungi mereka." Ucapnya.


"Jangan perlihatkan sedihmu di depan anak-anak kita." Ucapnya.


"Iya mas maaf." Ucapku.


"Iya." Ucapnya seraya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2