
"Malam itu,Lina menuju hotel bersama asisten Dokter Aiman. Sesampai di kamar hotel,mereka saling berkenalan. Kenalkan aku Lina,putri dari Reno' ucapnya."
"Kalau saya, Bastian' ucap asisten Aiman."
Setelah perkenalan Lina,meminta tolong pada Bastian. "Apa kamu mau menolongku ? Tanya Lina. Insyaa ALLAH,apa itu ? Tanya Bastian."
"Bunuh orang ini ! Titahnya seraya menyodorkan foto pria itu,kepada Bastian. Melihat foto itu,Bastian terkejut dan langsung beranjak."
"Namun lagi-lagi Lina menjebak,dan Bastian pun menikmatinya."
Padahal kalau hanya uang,Aiman mampu memberinya,tapi namanya manusia sering memilih jalan instan. Dan kala itu,Aiman sudah percaya penuh kepada . Kini menyesal pun tiada guna.
Hingga pagi harinya,rencana jahat mereka tersusun rapi dan tanpa ada yang curiga.
Pagi itu,setelah Bastian datang,Aiman sudah selesai sarapan. Dia daritadi merasakan gelisah,kenapa dengan diriku,kenapa hari ini aku merasa ada yang aneh ? Ucapnya dalam hati.
"Mungkin rindu papa dan mama' pikirnya lagi."
Saat hendak duduk di belakang,Bastian melarang.
"Maaf bos,hari ini saya free dulu' ucapnya seraya berlalu."
Aiman menci*m gelagat aneh dari sang asisten. Namun dia langsung menepisnya,enggak mungkin dia begitu' ucapnya kini seraya pindah tempat.
Sesampai di pertengahan jalan,tiba-tiba ada yang menyebrang. Aiman banting setir,sayangnya mobilnya mengalami rem blong. Mobil Aiman terjatuh,namun tidak dengan Aiman.
Saat merasa rem mobil blong,Aiman segera keluar dari mobil. Setelah keluar,Aiman mencoba berdiri,walau jalannya sedikit pin*ang.
Saat tengah minta tolong,tiba-tiba terdengar suara yang ia kenal. Saat ingin memanggil namanya,orang itu tertawa sekaligus berkata,sudah beres Lin,mobil dia sudah masuk ke jurang' ucapnya.
Deg...
Lelehan air m*t* pun berlinang,membasahi pipinya. Ternyata benar,apa yang diucapkan mendiang ibunya.
Jangan percaya penuh kepada manusia,nantinya kau akan kecewa.
Dan kini dia mengalaminya. Beruntung semua aset milik mendiang orang tuanya masih dia simpan sendiri. Dalam kesakitannya, Aiman masih bersyukur. Telah di selamatkan dari orang yang memiliki niat buruk.
"Flasback on".
"Pak,buk silahkan anda keluar' ucap dokter Aiman."
"Mendengar itu,kami keluar beserta bayi kembar kami. Tak lama perawat datang,menenangkan putra kami. Sedangkan aku langsung dibopong mas Al."
Sembari menatap tajam lelaki itu. Ingin menghajarnya,namun melihatku dan kedua putra kami,dia pun mengurungkannya.
Dokter Aiman,yang melihat itu,nampak juga bersalah. Mereka enggak tahu apa-apa,tapi mereka yang dapat serangan.
Sesampai di ruang vip,Agung dan yang lain mencari kami. Beruntung bertemu suster yang membawa kedua putraku. Suster itu pun mengantar mereka sampai ruangan.
Tak berselang lama,mereka sampai. Tak lupa juga,Agung mengucapkan terima kasih kepada suster. Dan di jawab dengan anggukan.
"Kak,kakak baik-baik saja kan ? Tanyanya. Alhamdulillah aku baik' ucap mas Al tertunduk lesu."
Om Fadil dan Agung memeluk dan menenangkan mas Al. "Kenapa ya dari awal jumpa Icha sampai sekarang,aku selalu di teror' ucap mas Al tiba-tiba."
"Bahkan anak-anakku yang baru lahir,juga di ganggu. Apa maunya mereka ? Ucapnya seraya menangis."
Mendengar itu,mereka berdua langsung berkata.
"Karena ALLAH yakin,kamu mampu menjalaninya. Yakin dan terus berserah diri Al' ucap mami tiba-tiba. Mas Al pun tiba-tiba pingsan,dan langsung di bawa ke sofa."
"Gimana Dil ? Tanya mami Rima. Al capek badan dan fikiran tante' ucap om Fadil."
__ADS_1
"Coba dulu kamu tidak ngotot menikah dengan Icha,mungkin kamu tidak akan begini' ucap mami. Mendengar itu,mereka semua menggelengkan kepala,terkecuali papi. Papi hanya menahan gemuruh di dadanya."
Bisa-bisanya,sesosok ibu berkata demikian. Di saat seperti ini.
Aku yang baru tersadar pun,tak sengaja mendengar penuturan sang mami. Membuatku tak percaya,aku fikir mami menerimaku dengan baik.
Namun nyatanya tidak. Aku mematung di sana lama. Agung yang daritadi menyadari aku di sana,ingin mendekat namun,di cegah om Fadil.
Om Fadil mengira,aku masih tertidur. Agung pun langsung menghadapkan badan om Fadil ke arahku.
"Icha' panggilnya. Aku hanya tersenyum dan memilih melangkah jauh. Dia sudah mendengarnya' ucap Agung."
Hal itulah yang membuat Agung takut menikah,yang di salahkan mami adalah sang menantu.
Om Fadil pun langsung menghampiriku.
"Maaf om tinggalkan kami sendiri' ucapku. Om Fadil tidak menjawab,dia lalu memelukku. Caci maki aku Cha,karna aku salah menyatukan kamu dengannya' ucap om Fadil."
"Kamu juga berhak menembakku' ucapnya dengan penuh linangan air m*t*."
"Maaf om,aku bukan pembunuh. Aku hanya manusia biasa' ucapku pelan. Tinggalin aku sendiri' ucapku seraya mengunci pintu."
Mendengar itu,mas Al yang baru sadar langsung bertanya.
"Kenapa ? Tanyanya panik."
"Tanyakan pada mami' ucap papi dan Agung bersamaan. Mami pun mengernyitkan keningnya' maksudnya apa ? Tanya mami."
Papi pun langsung menyerahkan gawainya kepada mami.
"Dengerin omongan kamu,jangan lempar batu sembunyi tangan' ucap papi."
Mami pun membukanya,dan beliau malah berkata. "Emang fakta kan pi' ucapnya."
Karena netranya menangkap aku yang ingin turun ke bawah bersama ke dua putra kami. Ya pintu VIP ini bukan dari kayu,tapi dari kaca. itulah mengapa mas Al bisa melihat.
"Hanny' teriaknya. Jangan hanny' ucapnya. Mereka pun spontan menghadap pintu. Agung pun langsung meminta kunci cadangan kepada pihak RS."
Sedangkan om Fadil berlari ke bawah. Sembari berdoa.
Sedangkan dokter Aiman,ke kantor polisi dulu. Untuk melaporkan Bastian.
Setelah pintu bisa di buka,Agung langsung berlari begitupun dengan mas Al dan papi. Sedangkan mami,menyesali ucapannya.
Maafin mami Cha' ucapnya dalam hati.
Aku sudah di sampai di lantai 2,aku lalu menuju lift. Dan sesampai di lantai bawah,aku pesan taksi. Dan kembali ke rumah ibuku.
Mereka semua gagal menangkapku,dan Om Fadil tahu,tujuanku ke tempat ibu. Mas Al terdiam. Semua sudah hilang' ucapnya paraw.
"Kak,ikut aku sekarang' ucapnya seraya menarik tangan mas Al. Mas Al hanya menurut. Sedangkan papi,langsung telfon ibu dan menceritakan semua yang terjadi."
Beruntung ibuku mampu memaafkan mami,dan ibuku juga berjanji akan menasehati aku.
Begitu pun dengan om Fadil,langsung menelpon Dodhy dan menjelaskan semuanya. Awalnya kak Dodhy marah,namun setelah tahu pembelaan mereka,kak Dodhy paham. Dan akan menasehati aku juga.
Tak berselang lama,Agung sampai di rumah ibuku. Begitupun aku dan anak-anak.
"Assalamualaikum buk' ucapku. Dengan wajah masih pucat."
"Waalaikumsalam' ucap ibuku dengan tersenyum."
"Aku nginap di sini ya bu' ucapku. Ibu langsung mengambil anakku yang satu."
__ADS_1
"Duduklah dulu Cha' ucap ibuku. Tak lama bibi memberiku minuman dan makan,makan dan minum dulu non' ucapnya seraya tersenyum kepadaku. Ya bi, makasih ya' ucapku. Sama-sama non' ucapnya lagi."
Ibu langsung memindahkan kedua putraku,di kamar. Selesai makan,aku lalu beranjak dan menaruh piring dan gelas ke dapur.
Tiba-tiba terdengar suara,orang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum' ucap tamu itu."
"Waalaikumsalam' ucap ku dan bibi bersama."
"Den Agung dan den Al,mari silahkan masuk' ucap bibi. Sedangkan aku yang mendengar itu,langsung masuk kamar. Aku belum ingin bertemu mereka."
Rasa sakit setelah melahirkan masih terasa,namun sakit itu masih bisa aku tahan. Tapi ternyata dim*t* mami Rima, aku hanya pembawa masalah.
Saat pikiranku entah kemana,tiba-tiba mas Al memanggilku.
Dengan deraian air m*t*,mas Al bersujud. "Cha' maafin mami dan aku mohon,izinkan aku bersama kalian' ucap mas Al.
Aku terdiam dan langsung masuk kamar,tanpa ku tahu,dia masih bersimpuh.
"Kak,kita tunggu di sana saja' ucap Agung. Mas Al pun menggelengkan kepala. Dan masih diam."
Kak Dodhy hanya melihat mereka sekilas dan naik ke atas. Sedangkan Agung,merasa kasihan pada mas Al. Dia pun lebih memilih menunggu kakaknya.
Ya ALLAH,berat banget ujian kak Al' ucapnya dalam hati.
Malam pun tiba,bibi yang selalu minta mas Al pindah pun,tidak di respon oleh mas Al. Mas Al tetap bersimpuh.
Sedangkan ibuku,yang baru melihat mas Al bersimpuh,gegas meminta mas Al berdiri. Awalnya mas Al tidak mau,namun setelah aku sendiri yang meminta dia pun mau.
"Cha' siapin makanan untuk suamimu dan iparmu' ucap mami. Aku hanya menurut. Sedangkan kak Dodhy yang melihatku demikian,langsung tersenyum."
Tanpa kata-kata,kami makan bersama. Tak berselang lama,kami selesai makan. Mas Al tetap mengingatkan aku,minum susu. Seraya menggenggam tanganku.
Aku lalu melepasnya dengan kasar,dan selesai minum,aku beranjak pergi.
Namun baru dua langkah aku berjalan, mas Al berkata. "Baiklah,kalau kamu tidak ingin aku ada di sini' aku akan pergi' ucapnya. Seraya pamit kepada keluargaku.
Ibu dan kakakku langsung pergi,mereka tidak ingin ikut campur. Pun dengan Agung.
"Aku tunggu di luar kak' ucapnya seraya berlalu."
"Tidak perlu,aku sudah selesai berbicara dengan ibu anak-anakku' ucap mas Al."
"Selamat tinggal Cha' moga kamu bahagia,dan aku akan tetap mengirimkan uang untuk anak-anak' ucapnya seraya terisak."
"Mendengar ucapan mas Al,kak Dodhy marah. Oh jadi ini,yang di percaya om Fadil,tahunya hanya ucapnya terhenti. Karna om Fadil beserta orang tua mas Al datang."
"Mami minta maaf Cha' ucap mami. Aku hanya terdiam dan menatap langit-langit rumah."
"Sebelumnya Icha minta maaf mi,apa sih mi salah Icha sama mami ? Tanyaku menahan tangis. Dulu mami berkata mas Al meninggal,selama 7 tahun aku percaya dan masih ingin sendiri."
"Setelah 7 tahun berlalu,tiba-tiba anak mami datang,kurang apa aku ini mi ? Aku juga sering menuruti kemauan kalian. Sekarang saat aku sudah melahirkan,masalah datang silih berganti,mami menyalahkan aku."
"Sebagai penyebab teror ini semua. Jujur mi,Icha capek' ucapku dan berlalu meninggalkan mereka semua."
Ibuku hanya diam,kak Dodhy pun juga sama. Sakit memang,mengetahui anak perempuannya di salahkan begitu saja. Padahal jelas-jelas bukan perbuatannya.
Begitupun dengan kak Dodhy,namun nasi sudah menjadi bubur,yang lalu tidak perlu di sesali. Cukup jadikan pembelajaran diri,lebih berhati-hati.
Malam semakin larut,akhirnya mereka memutuskan untuk pulang,namun tidak dengan mas Al.
Mas Al akan tetap di sini,itu semua sudah bermusyawarah dengan mereka semua.
__ADS_1