Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M - Bagian 10


__ADS_3

Iwan segera mendekatkan gawainya di telinga setelah memastikan Mentari benar-benar sudah keluar dari kamar.


"Hallo, Bos. Maaf, tadi saya sedang di kamar mandi," ucap Iwan dengan suara agak pelan.


"Kapan kamu mau bayar hutang kamu? Ingat lho, Wan, utang kamu tuh dah numpuk. Katanya setelah nikah, tapi sampai sekarang belum kelihatan tuh hilalnya kamu mau nyicil utang," omel orang yang dipanggil Bos Besar oleh Iwan tersebut.


"Maaf, Bos. Papa masih blokir semua kartuku, makanya aku belum bisa nyicil," jawab Iwan beralasan. Padahal beberapa kartunya sudah mulai bisa dipergunakan kembali.


"Aku lihat wanita yang jadi istrimu itu cantik juga, kamu nggak ada niatan buat jadiin dia sebagai pelunas utangmu?" tanya orang yang dipanggil dengan sebutan Bos Besar tersebut.


"Memangnya Bos pernah melihat wajah istriku kan aku belum uploud wajah istriku ke publik?"


"Itu sih gampang, anak buahku udah ngirim foto istrimu," jawab Bos Besar. "Gimana? Kalau kamu mau ngasih istrimu, selain utangmu ku anggap lunas. Aku akan berikan kamu tambahan uang yang lumayan?" Si Bos Besar berusaha mempengaruhi Iwan.


"Tapi, Bos. Dia udah aku unboxing, memangnya Bos mau menjual barang bekas?"


Padahal sampai detik ini, Iwan belum berhasil menyentuh wanita yang sudah berstatus sebagai istri sahnya tersebut. Tetapi, dia merasa rugi kalau harus menyerahkan istrinya tersebut kepada Bos Besarnya sebelum berhasil menikmati tubuh molek Mentari.


Iya, selain cantik, Mentari juga memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Kulitnya putih, hidungnya mancung, bibir berwarna merah muda meski tanpa pewarna bibir, dan ia juga memiliki body bak gitar Spanyol. Itu membuat Iwan tidak rela harus menyerahkan Sang Istri kepada Bos Besarnya tersebut.

__ADS_1


"Kalau barang bekasnya seperti istrimu, tetap akan bisa menguntungkan bagi bisnisku. Bagaimana? Apa kamu berminat?" tanya Bos Besarnya lagi.


"Aku pikirkan dulu deh Bos," balas Iwan.


"Jangan lama-lama mikirnya. Ingat, Wan! Kesempatan nggak akan datang dua kali. Pikirkan dengan mateng, dimana lagi kamu bisa melunasi utangmu sekaligus dapetin duit hanya dengan memberikan istrimu kepadaku? Lagian, aku yakin, kamu mau menikah dengan pilihan bapak kamu bukan karena cinta kan? Kamu cuma mau warisan dari Bapakmu saja," tebak Si Bos Besar.


Iya, Iwan tidak menampik hal tersebut karena memang alasannya mau menikah dengan Mentari juga karena hal tersebut.


"Aku tutup ya, Wan. Ingat! Pikirkan tawaranku tadi!" Sebelum mengakhiri percakapan, Si Bos Besar kembali mengingatkan.


"Mas, ayo sarapan!"


"Iya, Tari," jawab Iwan dari dalam kamar.


Beberapa saat kemudian Iwan pun bergabung dengan Mentari dan keluarganya di meja makan. Meski belum memiliki perasaan apa pun terhadap Iwan, Mentari tetap melayani makannya.


"Bu, sepertinya besok aku harus membawa Tari ke rumahku. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku terlalu lama." Iwan membuka percakapan.


Jangankan memiliki pekerjaan, disuruh membantu di perusahaan papanya saja dia ogah. Selama ini Iwan selalu berfoya-foya dengan uang yang dimiliki oleh orang tuanya. Dia pun terpaksa menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan Mentari karena papanya memblokir semua kartu yang ia miliki.

__ADS_1


"Kok kamu nggak bicarain ini dulu ke aku sih?" protes Mentari.


"Maaf, Tari. Ku kira aku bisa libur agak lama setelah menikah. Tetapi sepertinya nggak bisa, maaf ya," jawab Iwan. Dia menunjukkan senyum terbaiknya agar tampak seperti suami idaman.


"Ya sudah lah, Nak. Kamu mulai kemasi saja barang-barangmu. Tugas istri adalah mendampingi suami, jadi ikut lah kemana pun suamimu pergi." Ratih memberikan wejangan kepada putri sulungnya.


"Tapi, Bunda. Bintang kan masih kangen dengan Kakak." Justru Bintang yang merasa keberatan harus kembali berpisah dengan Kakaknya tersebut.


"Bintang Sayang. Kakakmu adalah seorang istri, jadi dia harus ikut kemana pun suaminya pergi. Setelah menikah, kamu pun juga akan melakukannya," bujuk Ratih.


"Tidak. Kalau Bintang nikah, Bintang akan bawa Bunda ikut dengan Bintang. Bintang nggak akan ngebiarin Bunda sendirian," ujar Bintang dengan berapi-api.


Ratih tersenyum, dia mengusap punggung tangan putri bungsunya dengan lembut. Berbeda dengan Mentari yang lemah lembut, Bintang lebih memiliki sifat tomboi dan kadang grusa grusu. Selain sifat minus tadi, masih ada sifat positif yang dimiliki oleh Bintang, gadis yang baru kelas 2 SMA itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan pantang menyerah dalam hal apa pun.


"Bagaimana Tari, bisa kan kita pergi dari sini besok?" tanya Iwan lagi.


Mentari menatap Iwan sebentar kemudian beralih menatap ibu dan adik perempuannya. Setelah itu ia pun menjawab, "Baiklah. Aku akan mulai mengemasi pakaianku."


Iya, sebagai seorang istri memang sudah seharusnya ia ikut kemanapun suaminya pergi. Selain itu, Mentari berharap ia juga akan bisa melupakan Juan setelah ini.

__ADS_1


"Makasih, ya, Tar," ucap Iwan. Entah apa yang ada di pikiran Iwan sekarang yang jelas ia bahagia karena setelah ini ia tidak harus berpura-pura bersifat baik lagi.


__ADS_2