
Malam itu Iwan mengajak Mentari melihat pemandangan malam dari lantai paling atas hotel. Dia ingin memberikan malam yang berkesan sebelum memberikan istrinya kepada Bos Besar sebagai alat untuk membayar hutang.
Diam-diam Iwan juga sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman istrinya. Ia juga sudah memasang kamera tersembunyi untuk merekam aktivitas panas mereka yang bisa ia gunakan untuk mengancam wanita itu nantinya.
"Bagaimana? Melihat pemandangan dari sini indah bukan?" Iwan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Tari yang belum memiliki perasaan apa pun terhadap laki-laki yang sudah menikahinya itu merasa risih saat dipeluk, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan tersebut. Tak seperti biasanya, Iwan justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia bahkan memberikan kecupan di ceruk bagian belakang Mentari.
"Mas, jangan begini! Bukan kah kamu sudah berjanji untuk memberiku waktu." Tari sedikit meronta. Dia bahkan memalingkan wajahnya ketika Iwan hendak menciumnya.
"Sampai kapan?" Iwan masih melanjutkan aktivitasnya. Kini bukan hanya bibirnya yang bekerja bahkan kedua tangannya juga semakin aktif. Dia tidak peduli dengan penolakan yang dilakukan oleh istrinya. Yang dia mau hanya satu menikmati tubuh molek nan indah itu sebelum ia serahkan ke Bos Besar.
"Mas, apa yang telah kamu berikan kepadaku? Kenapa tubuhku tiba-tiba serasa panas?" Mentari terus merasa gelisah. Dia berusaha untuk menahan hasrat yang tiba-tiba muncul.
Apalagi ketika bibir dan tangan Iwan terus bekerja menjelajahi tubuhnya, hasrat itu kian besar dan membuat Mentari tanpa sadar akhirnya mengeluarkan lenguhan.
"Bagus Tari. Akhirnya kamu mengikuti permainanku." Iwan tersenyum puas.
Iwan membawa istrinya yang sudah belingsatan karena pengaruh obat untuk naik ke atas ranjang, melucuti semua kain yang menempel di tubuh wanita yang sudah berstatus istrinya tersebut.
Iwan memposisikan dirinya membelakangi kamera tersembunyi yang ia pasang agar wajahnya tidak ikut terekam dan memastikan hanya wajah Mentari yang terlihat di sana. Di tengah aktivitas panas yang sedang mereka lakukan, Mentari mendapatkan kesadarannya kala melihat cincin pemberian Juan. Wanita itu mendorong tubuh Iwan hingga jatuh terjerembab di lantai.
"Dasar, sialan! Kenapa kamu mendorongku? Hah?!" sentak Iwan penuh emosi.
Mentari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku ini suamimu! Aku berhak untuk setiap jengkal tubuhmu! Jadi, jangan menolakku!"
"Aku tahu. Tapi, bukankah kamu setuju untuk menundanya? Kamu bilang kalau kamu akan menunggu sampai aku memberikan itu dengan ikhlas. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" Air mata menganak sungai di kedua pipi Mentari.
"Memberikan dengan ikhlas? Sampai kapan?" bentak Iwan.
"Aku sedang berusaha," jawab Mentari.
__ADS_1
"Berusha? Untuk memberikan hak kepada suamimu kamu butuh waktu. Sedangkan saat mantan kekasihmu menciummu kamu membiarkannya dan bahkan menikmatinya. Kamu pikir aku tidak memiliki perasaan? Kamu sudah menginjak-nginjak harga diriku, Tari. Kau tahu itu!" bentak Iwan dengan mata memerah menahan amarah.
"Apa semalam kamu.... "
"Iya, aku melihatmu berciuman dengan mantan kekasihmu semalam. Dan gara-gara itu aku menarik semua kata-kataku untuk memberimu waktu," potong Iwan.
Iwan menarik selimut yang menutupi tubuh Mentari dan membuangnya ke lantai. Ia kembali naik ke atas ranjang dan menindih tubuh istrinya.
"Mas, aku mohon jangan! Aku minta maaf untuk kesalahanku semalam. Aku.... "
"Aku bilang aku tidak peduli!" Iwan yang sudah dikuasai emosi dan nafsu, tidak menggubris perkataan Mentari. Dia terus melancarkan aksinya dengan kasar.
Entah berapa kali Iwan melakukan ruda paksa terhadap istrinya sendiri yang jelas permainan itu berhenti ketika mendengar suara adzan subuh.
"Mandi dan pakai bajumu! Jangan harap aku akan membiarkanmu kabur dari sini!"
Iwan yang sudah berpakaian rapi melempar pakaian Mentari ke wajahnya.
Seluruh tubuh Mentari terasa sakit karena ulah suaminya. Dia tahu dia salah karena masih mencintai pria lain setelah menikah. Tapi, layak kah dia mendapat perlakuan kasar seperti ini?
"Juan, andai aku tidak gegabah dalam mengambil keputusan hal ini pasti tidak akan terjadi padaku. Aku menyesal karena tidak mendengarkan permintaan maafmu." Mentari menangis sambil memeluk lutut. Selama menjalin hubungan dengannya, tak pernah sekalipun Juan bersikap kasar kepadanya. Dia bahkan nyaris tak pernah marah, apalagi mengangkat tangannya.
"Ibu, Bintang, aku rindu kalian. Aku rindu kalian." Di sela-sela tangisnya, Mentari terus memanggil nama orang-orang yang ia sayangi.
***
Di tempat lain....
"Lo serius mau meninggalkan negara ini, Juan?" tanya Rangga sambil membantu sahabatnya tersebut berkemas.
"Serius. Jika gue terus berada di sini, bukan hanya gue saja yang gak bisa move on, tapi Tari juga. Dan itu tidak baik untuknya," jelas Juan.
Juan bisa merasakan itu dari ciuman yang mereka lakukan malam itu. Ia tahu sama halnya dengan dirinya yang menyesal karena ikut taruhan bodoh, Mentari pun menyesal karena telah menerima perjodohan tersebut. Cinta itu masih bisa mereka rasakan dan itu tidak benar.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rangga ketika melihat Juan tiba-tiba meremas dada kirinya.
"Lo sakit?" Nando yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Rangga dan Juan ikut bertanya.
"Entahlah. Tiba-tiba saja aku merasa dadaku sangat sakit dan tidak tahu kenapa aku jadi merasa sedih begini?" jawab Juan. Bahkan saat ini nama Mentari tiba-tiba terlintas begitu saja di pikirannya dan membuatnya merasa gelisah.
Juan takut terjadi sesuatu kepada pemilik hatinya tersebut.
"Mungkin lo sedih karena kali ini lo akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama. Apalagi, lo nggak tahu kan kapan akan pulang." Rangga mengungkapkan pendapatnya.
"Mungkin," jawab Juan agak ragu. "Ngga, lo bisa nggak telepon ibunya Mentari untuk menanyakan keadaannya!"
Rangga dan Nando saling tatap. "Kenapa? Lo kepikiran dia?" tanya Rangga.
"Ntahlah, gue tiba-tiba kepikiran saja sama dia," jawab Juan jujur.
"Tapi, kalau yang ngangkat suaminya gimana?"
Benar. Jika suami Tari tahu, ia masih menghubungi mantan kekasihnya pasti dia akan marah.
"Sudahlah, tidak usah. Mungkin gue begini karena nggak rela aja harus benar-benar melupakan dirinya."
Rangga dan Nando menepuk bahu sahabatnya tersebut.
"Juan. Mulai lah membuka lembaran baru disana. Lupakan Mentari," ucap Rangga.
Juan mengangguk. Juan berusaha mengenyahkan kegelisahan di hatinya. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa Mentari dalam keadaan baik. Wanita itu akan bahagia hidup bersama suaminya.
"Ayo, kita ke bandara sekarang! Pesawatmu akan take off 2 jam lagi!" Rangga menarik satu koper milik sahabatnya tersebut dan mendorong koper lainnya ke arah Nando. "Bawa itu!"
"Ck. Dasar ****** lo!" cebik Nando.
Ketiga sahabat tersebut keluar dari apartemen untuk menuju ke bandara.
__ADS_1