
Hari itu, Iwan berencana membawa Mentari kepada Bos Besarnya. Tidak perduli apa yang akan terjadi dengan Mentari nanti yang jelas setelah ini hidupnya akan tenang karena hutangnya kepada Bos besar akan lunas.
Senyum lebar menghiasi bibir Iwan saat melangkah keluar meninggal hotel, berbanding terbalik dengan Mentari. Wanita itu terlihat sangat muram.
"Ingat ya saat bertemu dengan temanku nanti kamu harus tersenyum! Ingat, jangan tunjukan wajah murammu itu di depannya!" Iwan mendikte.
"Kenapa kita harus ke sana lagi? Bukankah kamu bilang kita akan ke rumah orang tuamu?" Mentari memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentu saja kita akan ke rumah papa, tapi setelah urusanku selesai," jawab Iwan ketus.
"Lalu dimana ponselku? Kenapa kamu tidak mengizinkan aku menyentunya? Aku yakin ibu dan adikku saat ini menantikan kabar dariku." Iya, Mentari tidak bohong soal itu. Ia yakin ibu dan adiknya sedang menunggu kabar darinya.
"Jangan berisik! Kamu tenang saja, pagi ini aku sudah mengirim pesan ke mereka bahwa kamu dalam keadaan baik," jawab Iwan santai.
Akhirnya mereka tiba di tempat kemarin datang. Iwan meninggalkan Mentari di sebuah kamar. Dia berpamitan kepada istrinya untuk bertemu dengan temannya sebentar.
__ADS_1
Begitu suaminya pergi, Mentari berusaha membuka pintu kamar tersebut dan ternyata pintu itu dikunci dari luar. Mentari tahu ada yang tidak beres dengan suaminya. Apalagi tempat itu terlihat menyeramkan dengan penjagaan ketat.
"Sebenarnya tempat apa ini? Kenapa Iwan bisa mengenal orang-orang itu?" pikir Mentari.
Mentari tahu, ayah Iwan adalah orang baik. Bahkan keluarg beliau sering membantunya dulu.
"Kalau Iwan hanya ingin menemuai temannya di sini kenapa dia harus mengurungku?" pertanyaan itu muncul di kepala Mentari.
Mentari kembali mengingat saat dirinya dan Iwan datang ke tempat ini kemarin. Selain penjagaan yang ketat, tempat ini juga dipenuhi dengan perempuan cantik dan gadis-gadis belia. Iwan memang mengatakan bahwa pekerjaan temannya adalah penyalur TKW ke luar negeri. Namun entah kenapa dia tidak percaya begitu saja pernyataan itu. Penyalur TKW tidak mungkin mengurung calon pekerjanya.
"Jangan-jangan mereka adalah komplotan perdagangan manusia?" tebak Mentari. "Tidak! Aku harus kabur dari sini. Tapi, bagaimana caranya?"
"Buka! Tolong buka pintunya!" teriak Mentari sambil kembali menggedor pintu tersebut.
Entah sudah yang keberapa kali ia terus menggedor-menggedor pintu tersebut, namun tidak satu pun yang mendengar. Atau lebih tepatnya, mereka mendengar, namun mereka tidak mempedulikannya.
__ADS_1
***
"Berarti hutangku sudah lunas kan, Bos?" tanya Iwan kepada pria yang duduk di hadapannya.
"Kamu yakin ingin memberikan istrimu sebagai pelunas hutang?" Orang yang dipanggil Bos itu bertanya.
"Yakinlah, Bos. Lagian aku juga nggak cinta sama dia. Aku nikahin dia juga demi uang," jawab Iwan enteng dan memang kenyataannya begitu.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan pada papamu soal ini?" tanya Bos itu lagi.
"Itu mah gampang. Aku sudah punya seribu bukti untuk bisa meyakinkan papaku bahwa Mentari baik-baik saja," jelas Iwan enteng.
"Oke, kalau begitu deal! Detik ini utangmu kuanggap lunas." Bos itu menggeser stop map yang harus Iwan tandatangani.
Iwan tersenyum senang. Akhirnya, dia bisa terbebas dari utang yang membelitnya. Tanpa ragu, Iwan menandatangani berkas yang ada di dalam stop map.
__ADS_1
"Aku pergi ya, Bos. Mulai sekarang istri tercintaku sudah sah menjadi milikmu." Tawa Iwan menggema, dia kemudian berpamitan untuk pergi.
"Sekarang aku tinggal membuat papa percaya kalau aku dan Mentari langsung pergi ke luar negeri dan menetap di sana," gumam Iwan. Dia harus meyakinkan papa dan juga mertuanya soal ini.