Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 22


__ADS_3

Suara cambuk terdengar di sebuah ruangan khusus. Ruangan yang memang diperuntukkan untuk para wanita yang mencoba kabur dari sana.


Entah sudah yang ke berapa kali tubuh Mentari menerima cambukan itu, dia hanya mampu meringis tanpa berkata-kata. Mentari tidak sendiri ada beberapa wanita yang mengalami hal serupa dengan dirinya, mencoba kabur saat sedang bersama dengan pembeli dan akhirnya tertangkap.


Iya, saat sedang bersama dengan pelanggannya di hotel. Mentari sengaja meminta pembelinya untuk mandi terlebih dulu sebelum memulai aktivitas malam mereka. Dia beralasan gairahnya akan turun jika lawannya tidak berbau sabun mandi. Saat pria itu sedang berada di kamar mandi, Mentari mencoba untuk kabur dari sana. Sayangnya, ia lupa bahwa ada anak buah Bos Frengky yang siap sedia selama 24 jam menjaganya.


Baru saja ia berhasil keluar dari kamar tersebut, dua pria yang memang diutus untuk menjaganya itu sudah berhasil menangkapnya kembali. Mentari sudah berusaha memberontak ketika pria yang sudah membayarnya itu ingin menyentuhnya. Bahkan sempat ia juga sempat melukai pria tersebut menggunakan pisau buah yang ada di kamar. Merasa kesal dengan ulah Mentari, lelaki yang sudah membayar itu pun mengembalikannya kepada Bos Frengky dan meminta uangnya dikembalikan. Sebagai pemilik yang tidak mau kehilangan pelanggan setianya, Bos Frengky pun setuju mengembalikan uang itu, ia bahkan memberikan wanita pengganti Mentari secara cuma-cuma untuk melayaninya.


Tindakan Mentari tentu saja membuat Bos Frengky geram. Dia akhirnya membawa Mentari ke ruangan khusus dan diberi hukuman.


"Bos, aku rasa sudah cukup kita memberi mereka semua pelajaran. Jika terus dilanjutkan wanita-wanita itu bisa mati dan itu akan membuat kita repot karena harus berurusan dengan polisi. Selain itu, semakin banyak luka di tubuh mereka, maka semakin lama kita tidak bisa menjual mereka. Tidak mungkin kan para pria hidung belang itu mau membeli wanita dengan tubuh penuh luka?" Si Madam memberikan pendapatnya.


"Cukup!" seru Bos Frengky kepada orang yang bertugas memberikan cambukan.


"Jika kalian mencoba kabur lagi, maka bukan hanya cambukan. Tangan dan kaki kalian akan ku patahkan!" Bos Frengky memberikan ancaman. "Terutama kamu, Mentari. Aku membelimu dengan harga yang sangat mahal dari si Iwan. Jika kamu terus melawan dan berusaha untuk kabur lagi, maka aku akan cari anggota keluargamu yang lain untuk menggantikan posisimu di sini. Kamu tahu kan aku tidak pernah main-main. Mencari keluargamu itu hal yang sangat lah mudah bagiku."

__ADS_1


Mata Mentari membeliak, bukan itu yang ia harapkan. Tadinya ia berharap mati saja daripada harus menjadi wanita rendahan. Tapi, jika keluarganya yang harus menggantikan posisinya di sini tentu saja membuat nyalinya untuk kabur menciut. Dia tidak mau masa depan adik satu-satunya itu hancur karena ulahnya.


"Tolong jangan lakukan apa pun pada keluargaku. Aku janji, aku akan menurut. Aku tidak akan kabur lagi," pinta Mentari dengan bibir bergetar.


"Sebaiknya begitu," balas Bos Frengky. Dia kemudian menyuruh Madam untuk mengurus Mentari dan yang lainnya.


***


"Aku sudah bilang padamu kan, cara cantik untuk kabur dari sini adalah dengan mencari pelanggan loyal yang bersedia membelimu dari Bos Frengky. Kenapa kamu masih nekat sih?" Wanita bernama Susan itu berbicara. Dia membantu mengoleskan obat ke punggung Mentari yang terkena cambukan tadi.


"Bos Frengky bisa melakukan apa pun. Dia selalu serius dengan ancamannya. Jadi, sebaiknya kamu menurut saja." Kembali Susan memberikan nasehat.


Mentari mengangguk. Dia tidak mungkin membiarkan ibu dan adiknya menderita gara-gara dia.


"Sepertinya kamu sangat menyayangi keluargamu." Mentari menoleh.

__ADS_1


"Ibu dan adikku adalah segalanya buatku. Mereka adalah hidupku, nyawaku, dan aku tidak bisa melihat mereka menderita," balas Mentari.


"Beruntung sekali kamu masih memiliki keluarga yang menyayangimu. Aku justru terjebak di tempat ini karena dijual oleh ayah dan ibuku." Susan tersenyum getir. Keluarga yang harusnya menjadi orang yang paling terdepan menjadi pelindungnya, justru mereka yang tega menceburkannya ke kolam penderitaan demi kesenangan mereka.


"Jadi kamu di sini karena.... "


Sebelum Mentari melanjutkan kata-katanya, Susan sudah mengangguk mengiyakan.


Mendengar cerita Susan membuat Mentari merasa jauh lebih beruntung dari wanita itu. Setidaknya, dia tahu ibu dan adiknya sangat menyayangi dirinya. Dia juga yakin, jika keduanya tahu dirinya berada di tempat mengerikan ini, mereka pasti akan berusaha melakukan apa pun untuk bisa mengeluarkannya dari sini.


"Bisa kamu ceritakan tentang keluargamu? Aku ingin tahu kehidupan keluarga yang bahagia itu seperti apa!" pinta Susan.


"Ibuku adalah seorang single parent. Ayahku sudah meninggal saat adikku berumur 5 tahun. Sejak saat itu, ibuku bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutahan kami dan bisa membiayai kami sekolah. Ibuku adalah ibu yang rela melakan apa pun demi putri-putrinya," Mentari menjeda ceritanya. Bercerita tentang ibunya membuat Mentari semakin sakit, karena sampai sekarang ia belum bisa membahagiakan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya tersebut.


"Adikku perempuan, tapi dia lebih mirip laki-laki karena penampilannya yang tomboi. Dia paling malas disuruh berdandan. Tapi, akan menjadi orang nomor satu yang akan membelaku saat ada orang yang berani menyakitiku." Mentari tersenyum sambil menangis ketika bercerita tentang keluarganya.

__ADS_1


Iya, sejak detik itu Mentari berjanji untuk menuruti perintah Bos Frengky. Dia tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ibu dan adiknya. Biarlah, mereka mengira dirinya hidup berbahagia bersama Iwan.


__ADS_2