
Bau karbol dan obat-obatan menyeruak indera penciuman Mentari. Dalam keadaan setengah sadar, Mentari mendengar isakan seorang wanita yang sudah lama ia rindukan. Genggaman tanganya terasa begitu hangat. Perlahan Mentari mulai menggerakan jemarinya dan membuka mata.
"Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah sadar." Wanita itu tersenyum bahagia melihat Mentari yang sudah siuman.
"Ibu... Ibu... Tari rindu sama Ibu," ucap Mentari dengan lelehan air mata.
"Ibu juga merindukanmu, Nak."
Iya, wanita yang menunggui Mentari adalah Ratih, ibunya.
"Maafkan ibu ya, Sayang. Maafkan ibu karena gara-gara ibu menjodohkanmu dengan Iwan kamu harus mengalami semua ini. Maafkan ibu!" Ratih meminta maaf kepada putri sulungnya sambil menangis. "Kalau ibu tahu hidupmu akan seperti ini, ibu tidak akan pernah menjodohkanmu. Ibu minta maaf, Nak. Ibu benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak ada yang salah disini. Semua ini terjadi karena takdir, itu sudah ketetapan dari Sang Maha Kuasa. Dia memilihku untuk menjalani itu karena Dia yakin, aku mampu. Jadi, Ibu jangan menyalahkan diri sendiri. Aku sangat menyayangi Ibu." Mentari memeluk ibunya.
Ratih membalas pelukan putrinya kalah erat sambil mengusap rambut panjang putrinya tersebut. "Ibu juga sangat menyayangimu, Tari."
Kedua wanita itu saling berpelukan sambil menangis. Bintang yang kebetulan masih berdiri di depan pintu pun ikut menangis.
"Sayang, kenapa tidak masuk?" tanya Rangga yang datang bersama dengan Nando dan Juan.
"Kak Juan, aku tahu Kakak ingin segera melihat keadaan Tari. Tapi, aku mohon berikan Kak Tari waktu lima menit lagi ya!" pinta Bintang kepada Juan.
"Kenapa?" tanya Juan sambil menatap adik dari Mentari itu. Namun, saat dia mendengar suara tangis dari dua wanita di dalam kamar rawat, akhirnya Juan mengerti.
"Kalau begitu, ayo kita tunggu di sana saja!" Juan menunjuk bangku stainles yang berada tidak jauh dari mereka berdiri.
Bintang mengangguk. Mereka semua segera menuju ke bangku itu.
"Sejak tahu Kak Tari dijual oleh lelaki bajingan itu, tak satu malam pun ibu lalui dengan tenang. Beliau selalu memikirkan keadaan Kakak. Ibu... terus menyalahkan dirinya sendiri. Kadang aku menyesal kenapa aku tidak mencegah Kak Tari menikah padahal aku jelas-jelas tahu bahwa cinta Kak Tari hanya untuk Kakak. Andai aku mencegahnya menikah dan mengatakan yang sebenarnya kepada ibu, ibu pasti tidak akan meminta Kak Tari untuk menikah. Dan pada akhirnya semua salahku," lirih Bintang. Sama dengan ibunya, hari-hari Bintang juga dilalui dengan perasaan bersalah.
"Bintang." Juan menyentuh punggung tangan istri dari sahabatnya tersebut.
"Hei, Juan. Mau kupatahkan tanganmu berani menyentuh tangan istriku?" Rangga melotot.
"Ck. Dasar pecemburu." Cebik Juan.
__ADS_1
Rangga menyingkirkan tangan sahabatnya itu dari tangan Bintang.
"Sudah. Kalau kamu mau mengatakan sesuatu ke Bintang, katakan saja! Nggak usah pakai sentuh tangan segala!"
"Iya-iya." Juan memutat kedua bola matanya.
"Bintang. Kamu dan ibumu nggak salah, akulah yang salah. Tari memutuskan menerima perjodohan itu karena aku, karena kelakuan bodohku. Jadi, kalau ada orang yang patut disalahkan, orang itu adalah aku," ujar Juan.
"Dia benar. Padahal berkali-kali aku dan Nando selalu ngelarang dia buat ikut taruhan gak guna itu, tapi dia tetap maksa. Iyakan, Ndo?" Rangga sengaja menambahi.
"Ish. Dasar teman nggak ada ahlak, bukanya nenangin malah makin membuatku merasa bersalah." Juan berpura-pura marah dan disbut tawa oleh Nando dan Rangga.
"Sepertinya seru."
"Tari."
"Kak Tari."
Panggil Juan dan Bintang bersamaan.
"Aku bosan di dalam, makanya aku minta ibu buat nemenin aku keluar dari kamar rawatku," jawab Mentari.
"Bagaimana keadaaan Kakak? Kakak beneran sudah sehat kan? Kakak tahu, waktu aku tahu Kakak memggores pergelangan tangan Kakak sendiri, aku sangat takut. Aku takut kalau harus kehilangan Kakak lagi," ujar Bintang.
Mentari membawa sang adik ke dalam pelukan. "Kakak tidak akan pergi kemana pun lagi. Kakak akan menemani ibu di rumah.
"Aku senang bisa bertemu dengan Kakak." Bintang menangis.
"Bintang. Kakak tidak apa-apa dan Kakak tidak akan pergi kemanapun lagi. Kakak akan bersama kalian." Mentari mengusap punggung adiknya.
"Tari, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi," ucap Juan sambil menatap mata Mentari dalam.
"Aku juga bahagia bisa bertemu denganmu lagi. Terima kasih, sudah menolongku," ucap Mentari. "Ohya, bagaimana dengan Susan? Apa kamu tahu keadaannya?"
"Susan beserta para wanita yang dipekerjakan oleh bedebah itu sudah dipulangkan ke kampung halaman mereka."
__ADS_1
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," balas Mentari dengan senyum yang terus tersungging.
"Frengky dan anak buahnya sempat berhasil melarikan diri. Tapi, sekarang dia sudah berhasil ditangkap oleh pihak berwajib termasuk... Iwan." Saat mengatakan kata Iwan, Juan sedikit berhati-hati.
"Mereka memang pantas mendekam di penjara. Semoga saja mereka mendapat hukuman yang berat."
"Pasti. Aku akan membuat mereka mendekam di sana dalam.waktu yang sangat lama," janji Juan.
Mentari menggangguk.
"Tari... ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."
"Katakan saja!"
Tiba-tiba Juan berjongkok di hadapan Mentari dan membuka kotak berisi cincin.
"Aku... tidak ingin lagi kehilangan dirimu, Tari. Jadi, maukah kamu menikah denganku!" pinta Juan dengan sugguh.
"Juan, aku ini wanita kotor. Aku tidak pantas untukmu."
"Tidak, Tari. Bagiku kamu tetaplah Mentari yang sama seperti dulu. Mentari yang akan selamanya menjadi cahayaku. Selama beberapa tahun, hidup tanpa dirimu. Aku seperti kehilangan arah dan tujuan. Jadi, kembalilah padaku, Tari dan menikahlah denganku!" pinta Juan lagi.
"Kamu yakin ingin tetap bersamaku? Padahal kamu tahu sendiri kan kalau aku.... "
"Aku tetap mencintaimu," jawab Juan dengan tegas.
Mentari menatap ibu dan adiknya bergantian. Dua wanita itu mengangguk.
"Iya, aku mau!" jawab Mentari. Juan pun menyematkan cincin dijari manis Mentari.
..."Sejauh apa pun kalian terpisah, jika kalian memang ditakdirkan bersama maka kalian pasti akan bersatu kembali. Percayalah cinta sejati itu ada dan kamu pasti akan mendapatkanya."...
...- TAMAT -...
NB: Terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti kisah Juan dan Mentari dari awal hingga ending. Maaf, jika endingnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Sampai jumpa diceritaku yang lain. Sampai jumpa. Gomawo 🌷
__ADS_1