Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M - Bagian 9


__ADS_3

Keesokan paginya ….


Mentari sudah berada di dapur bersama dengan ibunya, Ratih. Saat ini mereka sedang memasak untuk menu pagi mereka.


"Nak, bagaimana? Apa kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?" tanya Ratih dengan kedua tangan yang sibuk dengan pisau dan wortel.


"Kenapa Ibu bertanya soal itu?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja tidak semua laki-laki akan sabar menunggu malam pertamanya," jawab Ratih. "Kamu harus ingat, Nak. Kamu sekarang adalah istrinya, kamu halal untuk disentuh. Dan jika kamu menolak, maka seribu malaikat akan ikut melaknatmu."


Mentari terdiam, dia memikirkan perkataan ibunya barusan. Dia memang sudah sah menjadi istri dari Iwan, jadi, dia juga harus mau melayaninya di atas ranjang. Tapi, hatinya belum bisa untuk memenuhi kewajiban yang satu ini. Sampai detik ini nama Juan masih terpatri sangat kuat di dalam hatinya. Kadang Mentari merasa menyesal dengan keputusan yang sudah diambilnya. Andai saja, Juan mau menjelaskan padanya lebih awal, mungkin saat ini mereka sudah menjadi pasangan yang berbahagia. Nasi sudah menjadi bubur, keputusan sudah diambil, dan pernikahan pun sudah terjadi, jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus bisa menerima semua itu.


"Iya, Bu. Tari mengerti," jawab Mentari beberapa detik kemudian.


"Itu tempenya diangkat, Nak. Lihat hampir gosong itu!" suruh Ratih.


Mentari segera mengangkat tempe yang berada di atas wajan di hadapannya.


"Nak apa kamu tahu makanan kesukaan suamimu?" 


Mentari menjawabnya dengan sebuah gelengan.


"Minuman favoritnya?"

__ADS_1


Kembali Mentari menggeleng.


"Hobi?"


Dan lagi-lagi Mentari menjawab pertanyaan ibunya dengan gelengan.


"Kenalilah suamimu, Nak. Cari tahu makanan dan minuman yang dia suka. Jadi, kamu bisa mengambil hati suamimu dengan itu."


"Sayangnya, aku tidak ingin melakukan itu," batin Mentari. 


"Sana, bangunkan suamimu, ajak dia sarapan bareng kita!" suruh Ratih saat makanan yang mereka buat sudah matang.


"Baik." Mantari mencuci tangannya terlebih dulu sebelum kemudian melakukan perintah sang ibu.


***


"Mas, Mas Iwan. Bangun yuk, Mas. Ibu menyuruh kita untuk sarapan bersama!" panggil Mentari sambil menepuk pelan lengan Iwan, lelaki asing yang menjadi suaminya tersebut.


Tidak beberapa lama akhirnya Iwan mulai membuka matanya.


"Jam berapa ini?" tanya Iwan sambil mengucek matanya.


"Hampir setengah tujuh, Mas. Dan ibu menyuruh kita untuk sarapan," jawab Mentari.

__ADS_1


"Kalau begitu aku mandi dulu." Iwan bangun dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Mas, aku tunggu di meja makan ya."


"Hm, iya."


Mentari kemudian bangun dari posisinya. Namun, sebelum ia benar-benar keluar gawai milik Iwan berdering.


"Mas, ponselmu bunyi," ujar Mentari memberitahu. Dia menatap nama yang tertera di layar tersebut.


"Bos Besar," gumam Mentari sambil membaca nama yang tertera di sana.


"Mas, ponselnya bunyi." Sekali lagi Mentari memberitahu.


"Jawab saja. Kalau harus bunggu aku agak kelamaan," jawab Iwan dari dalam kamar mandi.


"Beneran gak apa-apa kalau aku yang jawab?" tanya Mentari memastikan. Ia tahu telepon genggam adalah salah satu benda privacy milik suaminya dan Mentari tidak mau mencampuri privacy suaminya tersebut.


"Iya, ngga apa-apa jawab saja," jawab Iwan lagi. "Memang dari siapa sih?"


"Dari Bos Besar, Ya udah, aku jawab ya," ucap Mentari. Dia pun mengambil gawai milik suaminya tersebut. Namun, baru saja ia menarik tombol hijau ke atas tiba-tiba seseorang mengambil ponsel itu dan itu adalah Iwan.


"Biar aku saja," ujar Iwan dengan handuk melilit di tubuhnya dan dalam kondisi badan yang masih basah.

__ADS_1


Mentari menatap Iwan sebentar. Ada sesuatu yang membuatnya tanda tanya besar di hatinya, kenapa sampai Iwan tidak membiarkannya untuk menjawab telepon tersebut. Namun, Mentari lebih memilih untuk mengabaikannya karena memang itu bukan urusannya. Ia pun keluar dari kamar tersebut.


"Aku tunggu di meja makan," ucap wanita berstatus istri Iwan itu sebelum melenggang meninggalkan kamar.


__ADS_2