Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 30


__ADS_3

"Dokter, Anda tidak lupa denganku kan?" Juan menatap orang yang menghalangi jalannya tersebut.


"Jangan bilang kalau Dokter benar-benar sudah melupakan aku ya? Aku pasti akan marah," lanjut orang itu.


"Tidak kok, aku masih ingat. Kamu Maura kan?" jawab Juan sambil bertanya.


"Syukurlah. Kalau Anda masih mengenaliku." Maura berkata dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Tentu saja, Juan mengenalinya. Selain mereka baru saja bertemu beberapa saat yang lalu. Maura adalah satu-satunya wanita yang berani mendekatinya pasca hubungannya dengan Mentari kandas.


"Dokter, Anda pasti belum makan malam kan? Bagaimana kalau kita makan malam bareng hari ini? Bukankah tadi Anda sudah janji akan makan bareng denganku tadi?" Maura mengingatkan perkataan Juan tadi siang.


"Maaf, tapi sepertinya aku tidak pernah berjanji apa pun kepadamu?" jawab Juan.

__ADS_1


"Dokter, Anda lupa? Aku kan sudah bilang, kalau jawaban 'lain kali' Anda, aku anggap sebagai janji makan bersama." Dengan pedenya dokter muda bernama Maura itu menjawab.


Juan berpikir sejenak. Ia yakain, jika ia menolak ajakan makan bersama Maura, wanita itu tetap tidak akan peduli. Dia pasti akan kembali menagih untuk makan bersamanya terus sampai ia bersedia.


"Baiklah. Ayo kita makan bareng malam ini, tapi aku tidak bisa lama karena aku sudah ingin cepat beristirahat." Terpaksa Juan mengiyakan ajakan Maura kali ini. Ia berharap setelah ini, Maura tidak akan menagih untuk makan bersamanya lagi.


"Terima kasih, Dokter." Maura tersenyum senang karena akhirnya dia bisa makan bersama dengan dokter pujaan hatinya. Keduanya pun berjalan menuju ke restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja saat ini. Apalagi, karena kesibukannya akhir-akhir ini, Juan lebih banyak tidur di tempat peristirahatan yang disediakan oleh pihak rumah sakit, ketimbang di apartemen miliknya.


Juan meletakkan sendok dan garpu di tangannya di atas piring yang sudah kosong. Tanpa bertanya apakah Maura sudah selesai makan atau belum, pria itu langsung menuju kasir dan membayar makanan mereka. Setelah itu dia langsung berpamitan untuk beristirahat.


"Aku sudah membayar semuanya, sekarang aku pamit pergi. Permisi." Tanpa menunggu jawaban dari Maura, Juan meninggalkan restoran.


Maura masih terpaku di tempatnya, ia tidak percaya ada laki-laki yang sama sekali tidak mempedulikannya. "Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya dia menawariku untuk pulang bareng?" gerutunya.

__ADS_1


*


Sementara itu di tempat lain....


Lagi. Mentari harus menerima hukuman cambuk di ruang khusus. Bukan karena ia mencoba melarikan diri. Namun, karena ia ketahuan membantu rekan yang lain kabur dari sana.


"Dasar tidak tahu diuntung. Apa kamu kira karena kamu primadona di tempat ini, aku tidak akan menghukummu? Kamu salah! Aku akan tetap memberikanmu hukuman sesuai dengan kesalahan yang kamu lakukan," desis Bos Frengky dengan sorot mata mengerikan. "Sekali lagi kamu membantu kabur mereka, aku akan menyeret adikmu ke tempat ini bersamamu. Camkan itu!" Bos Frengky kembali mengeluarkan ancaman yang paling Mentari takuti.


"Aku... aku minta maaf, Bos. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Jadi, aku mohon, jangan seret adikku ke tempat ini! Aku mohon!" pinta Mentari dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Bos Frengky mencengkeram rahang Mentari dengan kuat lalu menghempaskannya. "Sekali lagi kamu membuat kesalahan. Aku akan benar-benar membawa adikmu ke sini tanpa sepengetahuanmu. Ingat itu!"


"Iya, aku ingat. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi," jawab Mentari.

__ADS_1


__ADS_2