Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 24


__ADS_3

Susan tercengang ketika melihat penampilan Mentari. Wanita itu sudah berdandan sama seperti dirinya dan wanita yang lain. Dia terlihat bingung melihat keberadaan Susan dan penjaga di depan pintu kamarnya.


"Ada apa? Kenapa kalian berdiri di sana?" tanya Mentari.


Susan langsung menghambur memeluk Mentari. Punggungnya naik turun karena menangis.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Mentari yang terlihat masih bingung dengan sikap wanita yang menjadi teman barunya tersebut.


"Aku kira kamu melakukan hal bodoh di dalam sana," jawab Susan. "Aku sempat ketakutan tadi."


"Sudah kubilang kan? Aku nggak mungkin membahayakan ibu dan adikku, bagaimana aku akan melakukan hal bodoh itu?" jawab Mentari. Dia memang sempat ingin mengakhiri hidupnya karena merasa kotor. Namun, bayangan Bintang yang akan ditarik paksa menggantikan dirinya di sini dan bayangan sang ibu yang menangisi kematiannya membuat Mentari urung melakukan hal tersebut. Dia tidak ingin karena dirinya adik satu-satunya tersebut menderita. Jika ia pergi dan adiknya dipaksa menggantikan dirinya di sini, siapa yang akan menjaga ibunya? Mentari memang jijik dengan tubuhnya, tapi hanya sebatas itu.


"Kamu bilang Bos Frengky memanggilku, apa ada tamu lagi untukku?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Sepertinya. Sejak kemunculanmu hari ini, kamu langsung menjadi primadona tempat ini," jawab Susan. Dia pun melepaskan pelukannya.


"Mbak Susan, saya permisi ya." Laki-laki yang sempat ingin membantu Susan mendobrak pintu tadi pamit pergi.


"Iya, terima kasih. Maaf ya karena sudah merepotkanmu," ucap Susan.


Laki-laki itu hanya mengangguk dan pergi dari sana. Susan memegang kedua bahu Mentari.


"Tari, manfaatkan kepopuleranmu disini untuk mencari pelanggan loyal! Hanya itu cara agar kamu bisa pergi dari sini." Susan kembali mengingatkan Mentari.


"Kenapa? Bukankah kamu ingin pergi dari sini?"


"Memangnya kemana harus pergi? Ibuku pasti akan menyesali perbuatannya yang telah menjodohkan aku dengan Iwan dan membuatku terjebak disini. Aku tidak ingin melihat wajah menyesal ibuku," jelas Mentari. Dia yakin sang ibu akan sangat menyesali keputusannya jika tahu ia menderita seperti ini. "Dan adikku, dia pasti akan menangis sepanjang hari meratapi nasibku. Dia memang tomboi, tapi jika aku merasakan sakit, dia yang akan lebih merasakan sakitnya dariku," tambah Mentari. Dia menghapus air mata yang tiba-tiba menganak sungi di kedua pipinya.

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin menghabiskan hidupmu disini?" tanya Susan lagi.


"Bukankah hanya itu yang bisa aku lakukan? Aku tidak mau membuat semua orang yang menyayangiku semakin sedih. Lagian, aku sudah tidak memiliki masa depan lagi untuk apa aku kabur?" jelas Mentari dengan sorot mata pasrah.


"Tari, ketika kamu berhasil keluar dari sini kelak, kamu bisa memulai hidup barumu."


"Dan kamu pikir orang yang telah membeliku nanti akan membiarkanku hidup normal lagi?" sela Mentari. "Orang yang membeliku dan membawaku keluar dari sini pasti hanya akan menjadikanku budak ****. Bukankah sama saja?"


"Tapi, Tari, seenggaknya begitu mereka bosan, mereka akan melepaskanmu," sahut Susan.


Mentari menggeleng. "Aku tidak ingin kemana-mana. Lebih baik aku tetap di sini, jauh dari keluargaku. Biarkan mereka menganggap aku sudah hidup bahagia bersama Iwan."


Kembali Susan kembali memeluk Mentari. Dia kembali menangis sambil memeluk wanita itu.

__ADS_1


Mentari menghela napasnya. "Kamu bilang Bos mencariku kan? Aku akan menemuinya sekarang."


__ADS_2