
"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu mau membawa dia pergi. Kalian, tangkap mereka!" Bos Frengky menyuruh anak buahnya untuk menangkap Juan dan Mentari.
"Kalian pergi saja, biar aku yang menghalangi mereka!" seru Susan.
"Tapi, San.... "
"Sudah, cepat pergi!" seru Susan sambil mendorong Mentari dan Juan agar meninggalkan tempat tersebut. Susan kemudian melempar apa saja ke arah anak buah Bos Frengky. Dia bahkan menghadang mereka dengan menggunakan meja.
Juan meraih tangan Mentari dan membawanya lari. Namun baru beberapa langkah, mereka sudah dihadang oleh anak buah Frengky yang lain. Baku hantam pun tak bisa dihindari. Lawan yang tidak seimbang membuat Juan akhirnya kalah dan jatuh ke lantai dengan tubuh babak belur.
"Bos, aku mohon. Suruh mereka berhenti memukul Juan! Aku mohon! Aku janji tidak akan pergi dari sini. Tolong, tolong bebaskan Juan! Biarkan dia pergi, aku mohon!" Mentari berlutut kepada penguasa tempat hiburan tersebut.
"Hentikan!" suruh Frengky. "Lempar dia keluar dari tempat ini dan jangan biarkan dia masuk ke tempat ini lagi!"
Beberapa anak buah Frengky berusaha menyeret tubuh Juan. Namun, pria itu berusaha untuk tetap bertahan.
"Aku... aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa Mentari," ucap Juan. Dia masih keras kepala dan tidak mau pergi dari sana.
__ADS_1
"Rupanya kamu sudah siap untuk mati ya? Kalau dia masih tidak mau pergi dari tempat ini, habisi saja dia!" suruh Frengky.
"Tolong... tolong jangan lakukan itu! Aku mohon, jangan bunuh dia! Aku mohon!"
Frengky menghela napas. "Aku sudah berbaik hati membiarkan dia pergi, tapi dia sendiri yang nggak mau pergi tanpa kamu. Jadi, jangan salahkan aku kalau anak buahku menghabisinya."
"Biar... biarkan aku yang membujuknya untuk pergi. Aku mohon!" pinta Mentari lagi.
"Meskipun aku harus mati di sini, aku tidak akan pergi tanpamu Mentari. Tidak akan!" tolak Juan dengan tubuh lemah.
"Juan, aku mohon pergilah! Pergilah dari sini, mungkin aku memang ditakdirkan untuk selamanya berada di sini. Sampaikan saja pada adik dan ibuku kalau aku baik-baik saja. Aku bahagia hidup disini. Pergilah, Juan! Aku mohon pergilah dari sini!" pinta Mentari.
"Baiklah. Jika itu mau kamu, Juan." Mentari meraih botol minuman yang berada tidak jauh dari tempatnya berada lalu sengaja memecahkan botol tersebut. Ia mengarahkan ujung pecahan botol yang tajam ke pergelangan tanganya sendiri.
"Tari, apa yang mau kamu lakukan?" Mata Juan melotot.
"Hei Tari, jangan bodoh! Hentikan!" suruh Frengky.
__ADS_1
"Tari, jangan!" Susan juga ikut berbicara.
"Juan, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai mati disini. Tidak akan bisa."
"Tari, hentikan! Berikan pecahan botol itu kepadaku!" Juan berjalan mendekati Mentari. Namun, satu langkah Juan maju, Mentari juga mundur satu langkah.
"Kamu yang harus berhenti dan dengarkan kata-kataku!" Mentari menarik napas panjang.
"Juan, aku tahu kamu mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Tapi... sekarang kondisiku berbeda, aku bukan Mentari yang sama seperti dulu. Aku hanya wanita kotor yang tidak pantas bersanding denganmu. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang aku layani. Bahkan aku sendiri tidak ingat. Juan, jika kamu memang mencintaiku pergilah dari sini. Aku mohon!" Tari mulai menggoreskan pecahan itu pada pergelangan tanganya.
Tes!
Cairan kental berwarna merah mulai mengalir. Semua yang ada di sana panik.
"Tari!" teriak Juan.
"Aku... mencintaimu, Juan."
__ADS_1
Brukk!
Tubuh Mentari jatuh ke lantai dengan tangan bersimbah darah. Bersamaan dengan itu polisi datang. Frengky dan anak buahnya berusaha kabur. Sayangnya usaha mereka gagal karena tempat itu sudah dikepung oleh polisi.