
Sementara itu hal yang sama juga sedang dilakukan oleh Juan. Pemuda yang hampir mendapatkan gelar spesialis dokter bedah itu juga sedang mengemasi barang-barangnya. Dia memutuskan untuk kembali ke luar negeri dan menetap di sana.
"Lo serius nggak akan balik ke Indonesia lagi?" tanya Rangga kepada sahabatnya tersebut.
"Iya. Sementara gua akan menetap di Amerika atau mungkin ke tempat lain setelah gue mendapatkan gelar itu," jawab Juan. Ia menghembuskan napas panjangnya berkali-kali.
Juan menyesali tindakan bodoh yang ia lakukan yang akhirnya membuat dia harus kehilangan cinta sejatinya. Andai dia bisa memutar waktu, dia pasti tidak akan melakukan taruhan itu. Tetapi begitu lah hidup dan penyesalan selalu akan datang belakangan.
Sekarang yang bisa Juan lakukan adalah bangkit dan menghadapi konsekuensi dari perbuatannya. Dia harus bisa menerima rasa sakit yang ia buat sendiri.
"Kapan lo berangkat?" kini pertanyaan itu keluar dari mulut Nando. Sahabat Juan yang satu ini lebih banyak diam dan hanya berbicara untuk hal-hal penting saja. Dialah orang yang sering mengingatkan kedua sahabatnya agar selalu berhati-hati dalam bertindak. Bahkan sebelum Juan ikut taruhan itu, dia lah orang pertama yang sudah mengingatkan untuk mundur. Sayangnya, Juan yang saat itu merasa tertantang untuk bisa memenangkan taruhan tidak menggubris peringatan darinya.
"Besok," jawab Juan.
"Bagaimana kalau malam ini kita seneng-seneng dulu. Nggak harus minum-minum di bar atau apa, kita cukup seneng-seneng di sini aja di apartemen ini." Nando menyampaikan idenya. Dia menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Gimana? Lo setuju nggak?" Rangga ikut bertanya.
__ADS_1
"Boleh," jawab Juan. "Tapi, kalau tanpa minuman kurang seru lah. Gue butuh sesuatu yang bisa ngalihin pikiran gue."
Rangga tampak berpikir. "Boleh deh asal jangan bawa cewek aja. Gua takut Lyvia salah paham kalau ngelihat ada cewek di apartemen ini," jawabnya kemudian.
"Kayak si Lyvia nggak pernah sama cowok aja." Nando mencebik.
"Do, gue nggak mau ya kita berantem karena ini." Rangga mengingatkan.
"Terserah lo deh. Yang pasti gue udah sering ngingetin lo kalau Lyvia nggak sesetia dan sebaik yang lo pikir. Jangan sampai lo terlambat mengetahui kebusukan dia." Bukannya menjawab, Nando malah balik mengingatkan.
Bukan tanpa sebab Nando berbicara seperti itu. Dia sudah sering kali memergoki pacar dari sahabatnya itu jalan bersama dengan cowok lain. Sayangnya Rangga yang terlalu bucin dengan kekasihnya itu tidak bisa mempercayai apa pun yang Nando katakan meski ia sudah menyertakan bukti. Namun, Lyvia berhasil mengelak dengan beribu alasan dan malah membuat Rangga akhirnya justru marah kepadanya.
Malam harinya sesuai dengan yang sudah mereka rencanakan, Juan bersama kedua sahabatnya membawa beberapa botol wine dan camilan untuk bersenang-senang.
Awalnya Juan terlihat tenang seperti biasanya. Namun, ketika mereka mulai membicarakan tentang Mentari, dia mulai kehilangan akal. Juan bahkan menenggak minuman itu sendirian sampai habis.
"Mentari aku mencintaimu kenapa kamu nikah sama orang lain?"
__ADS_1
"Ini salahku, semuanya salahku. Semua gara-gara taruhan sialan itu. Aku jadi kehilanganmu."
"Aku menyesal, Tari. Aku menyesal."
Juan yang mulai mabuk terus meracau dan menangis. Nando dan Rangga tidak bisa mengatakan apa pun. Mereka tahu sebesar apa perasaan cinta Juan terhadap Mentari. Apalagi hubungan mereka dimulai sejak masa putih abu-abu. Malam itu mereka membiarkan Juan mengeluarkan segala yang ia rasakan di dalam hatinya. Juan baru berhenti meracau setelah ia tertidur.
"Lihat dia begini gue jadi makin takut buat jatuh cinta," ucap Nando.
Ya, diantar ketiga sahabat itu hanya Nando satu-satunya orang yang belum jatuh cinta. Dia adalah anak broken home yang kedua orang tuanya meninggal saat sedang bertengkar di dalam mobil dan kecelakaan. Nando hanya memeliki seorang adik perempuan yang saat ini diasuh oleh neneknya.
"Tapi, gue tetep yakin kok suatu saat pasti bakalan ada cewek yang bisa bikin hati lo bergetar dan akhirnya bucin. Dan gue nggak sabar nunggu saat itu tiba." Rangga menimpali.
"Lo jaga si Juan ya, Lyvia nelpon." Rangga menunjukan teleponnya kepada Nando sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.
"Cinta oh cinta, ternyata bikin orang bisa gila dan bodoh," gumam Nando. Dia kemudian membereskan botol minuman yang ada di meja. Nando juga membersihkan wadah camilan yang berserakan.
"Gua buang ini langsung ke tempat sampah di bawah deh," ujar Nando. Dia pun membawa sampah itu keluar apartemen.
__ADS_1
Saat kembali, Nando tidak melihat Juan di tempatnya semula.
"Kemana dia pergi?" gumam Nando.