
Mentari dibawa untuk bertemu dengan pelanggan di ruang VIP. Dia datang bersama dengan Susan dan didampingi oleh wanita yang dipanggil dengan sebutan madam.
Madam adalah orang kepercayaan laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Bos Besar. Dialah yang mengawasi semua wanita saat bertemu dengan para pelanggannya secara langsung. Dia pulalah yang mematok harga awal untuk masing-masing wanita yang baru pertama kali dijualnya.
"20 juta semalam, aku tidak berani lebih dari itu. Apalagi kelihatannya wanita itu belum berpengalaman dan katamu dia juga bukan perawan ting-ting." Salah satu pelanggan mulai menawar berapa harga tertinggi yang sanggup ia keluarkan.
"Bos, dia memang bukan perawan ting-ting. Tapi, percayalah Anda pasti akan puas dengannya. Bukankah Anda bilang ingin wanita yang sedikit menantang, aku rasa dia masuk kriteriamu, Bos. Jadi, naikkan sedikit lagi lah. Atau saya berikan dia kepada yang lain?" Madam selalu tahu bagaimana memprovokasi pelanggannya agar mau membeli. "Kalau Bos naikkan lagi, Bos bisa membawanya tidak hanya semalam, tapi 24 jam," tambahnya disertai kerlingan mata.
Kembali, lelaki yang memang sudah menjadi pelanggan tetap tempat hiburan malam tersebut pun menatap Mentari dari atas hingga bawah.
"Baiklah, 50 juta. Itu harga tertinggi yang bisa kuberikan dan biarkan dia menemaniku selama 24 jam," ujar laki-laki tersebut.
Si Madam tampak berpikir. "Baiklah. Karena Bos pelanggan tetap di sini, aku setuju. Tapi, kembalikan wanita ini besok malam tepat jam 22.00 WIB, sama seperti jam sekarang," balas Madam.
"Deal." Pelanggan tersebut dan wanita yang dipanggil Madam itu berjabat tangan.
"Tapi, kali ini uangnya duluan ya Bos kan barang baru." Madam kembali bersuara.
"Cih, tidak percayaan saja sih kamu. Aku sudah menjadi langganan di tempat ini selama bertahun-tahun masih tidak percaya saja." Lelaki itu berdecih.
"Ya... Diakan barang baru, kalau tiba-tiba Anda bawa kabur dia gimana? Kan saya yang kena ulti sama Bos Frengky."
Melalui M-Banking, laki-laki tersebut mentransfer uang ke nomor rekening Madam.
"Gimana? Aku sudah bisa membawanya pergi kan?" tanya laki-laki tersebut.
Si Madam melihat notifikasi yang masuk di benda pipih memiliknya. Senyumnya mengembang melihat nominal yang dikirim oleh pelanggannya tersebut. Ternyata selain jumlah yang sesuai dengan yang disepakati laki-laki itu memberikan tambahan sebesar 1 juta rupiah kepada Madam.
"Oke, silakan bawa pergi. Tapi ingat ya Bos, kembalikan dia besok malam. Aku juga akan kirim dua anak buah dari Bos Frengky untuk mengikuti kalian. Takutnya tuh cewek kabur di tengah jalan." Kembali Madam berujar.
"Tidak perlu, aku juga punya pengawal sendiri," tolak laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya tahu, Bos punya pengawal sendiri. Tapi, jika wanita ini kabur tanpa pengawalan dari kami, maka Bos harus mengganti rugi."
Kembali laki-laki itu berpikir. Rasanya tidak rela juga jika ia harus menanggung kerugian seandainya wanita itu kabur. Dia kembali menatap Mentari sebentar. "Oke, tapi jika dia tetap kabur, selain kalian harus mengembalikan uangku, aku juga mau kalian memberiku wanita untuk melayaniku secara cuma-cuma. Bagaimana?"
"Tidak masalah. Karena selama ada orang kami yang berjaga, wanita itu tidak akan bisa kabur," jawab wanita yang dupanggil Madam itu menyetujui. Dia pun memilih dua orang kepercayaan untuk mengikuti kemanapun pelanggan tersebut membawa Mentari. Dan memang itulah interuksi yang diberikan oleh Bos Besarnya, Frengky.
Laki-laki itu membawa Mentari bersamanya dengan diikuti oleh dua pengawal utusan Bos Frengky.
***
Sementara itu di restoran milik nenek Ana, Bintang yang sejak tadi sedang mengerjakan tugas kelompok bersama dua sahabatnya Ana dan Dewi terlihat sering melamun.
"Bi, lo kenapa? Dari pagi tadi gue perhatiin lo selalu murung?" tanya Ana yang melihat perubahan sikap sahabatnya tersebut. Memang benar, sejak mendapat jawaban telepon dari kakaknya kemarin, Bintang sering melamun. Dia kepikiran soal kakak kandunganya yang tiba-tiba berubah.
"Tidak apa-apa," jawab Bintang. Jangankan kepada dua sahabatnya, dengan ibunya pun Bintang belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya ia dengar di telepon kemarin.
"Tidak apa-apa gimana? Lo lihat, kita udah di sini hampir 3 jam. Jangankan mengerjakan tugas, setiap kali lo diminta ngasih pendapatpun lo selalu kayak orang oleng yang kebingungan," sahut Ana.
Bintang menatap jam digital yang tergantung di dinding restoran. Ternyata jam itu sudah menunjukan pukul 22.00 WIB yang artinya memang sudah 3 jam mereka berada di sana.
"Aku pulang dulu ya, udah malem," pamit Bintang yang justru menyimpan kembali buku tugasnya ke dalam tas.
"Lho terus tugasnya?" tanya Ana.
"Besok saja kita kerjakan lagi," jawab Bintang. "An, Dew, maaf ya karena hari ini gue nggak fokus." Tentu saja Bintang merasa bersalah kepada dua sahabatnya. 3 jam, mereka habiskan dengan sia-sia.
"Nggak apa-apa sih kalau soal tugas. Tapi, beneran lo nggak mau cerita sesuatu ke kita?" Ana merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Iya, Bi. Kalau ada masalah cerita lah ke kita, mungkin kita nggak selamanya bisa bantu. Tapi, siapa tahu kan dengan bercerita beban di hati lo sedikit berkurang?" Dewi ikutan berbicara.
Bintang menggeleng. "Tidak apa-apa kok, makasih ya karena kalian udah khawatirin gue," jawabnya.
__ADS_1
Ana dan Dewi berjalan mendekati Bintang kemudian memberikan pelukan kepada sahabatnya tersebut.
"Kita tahu lo sedang ada masalah, meski kita nggak tahu masalah apa yang sedang lo hadapi. Tapi, lo harus percaya kalau kita berdua selalu ada buat lo, Bi."
"Iya, Bi. Meski gue dan Ana nggak bisa bantu lo, tapi yakinlah kapan pun lo butuh kita, kita siap bantu," tambah Dewi.
Ucapaan Ana dan Dewi membuat Bintang bisa tersenyum. Setidaknya dia merasa bahagia karena tahu ia tidak sendirian. Kedua sahabatnya akan selalu ada untuknya.
"Thanks ya," ucap Bintang.
"Karena ini udah cukup malem, biar supir nenek gue yang anterin lo pulang," ujar Ana.
Diantara Bintang, Dewi, dan Ana. Ana termasuk dari kalangan berada. Neneknya memiliki usaha restoran yang dulunya sangat ramai. Sayangnya sudah dua tahun ini restoran neneknya tersebut sedikit sepi.
Bintang mengangguk. Sudah menjadi kebiasaan tiap mereka kemalaman mengerjaksn tugas, supir dari nenek Ana memiliki tugas untuk mengantar Bintang dan Dewi kembali ke rumah mereka.
Bintang dan Dewi melambaikan tangan kepada Ana begitu mereka masuk ke dalam mobil. Tidak lama mobil itu pun melaju meninggalkan restoran.
***
Juan akhirnya tiba di negara yang dia inginkan. Dari bandara ia langsung menuju ke apartemen miliknya. Apartemen yang memiliki dua tempat tidur itu masih terlihat kotor karena sudah lama tidak dihuni.
Juan mulai mengeluarkan satu per satu barang miliknya dari dalam koper. Dia sedikit terkejut ketika ternyata ia membawa fotonya bersama Mentari. Foto itu mereka ambil ketika merayakan hari jadian mereka yang ke 3. Saat itu mereka merasa bahwa mereka diciptakan untuk satu dengan yang lain. Tapi kini hal yang terjadi malah sebaliknya.
Andai waktu dapat diputar, Juan ingin kembali ke masa itu. Masa dimana hanya kebahagiaan diantara dirinya dan Mentari.
"Apa kamu tahu Tari? Aku sangat menyesal mengikuti taruhan bodoh itu. Aku menyesal karena gara-gara itu aku kehilanganmu." Entah sudah yang keberapa kali Juan mengaku menyesal karena taruhan bodoh yang ia lakukan. Dia mengambil foto itu dan meletakannya di atas nakas. Namun, entah karena dia yang kurang ke tengah meletakkannya atau karena dia tidak berkonsentrasi foto yang baru diletakkannya tersebut tiba-tiba jatuh ke lantai dan bersamaan dengan itu ia kembali kepikiran dengan Mentari. Perasaannya mendadak gelisah dan dada sebelah kirinya mendadak terasa sakit.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku kembali kepikiran Mentari? Apa aku telepon dia saja ya?" Juan membatin. Juan mengambil ponsel miliknya dan mengetik nama Mentari. Namun, dia mengurungkan niatnya tersebut karena takut suami Mentari akan salah paham. "Tidak. Aku tidak boleh meneleponnya. Jika aku meneleponnya yang ada Mentari akan mendapat masalah dari suaminya."
Juan menyimpan kembali ponsel di tangan ke dalam saku. Ia kemudian beralih manatap pigura yang jatuh berserakan. Juan kemudian memungut foto dirinya dan Mentari yang jatuh ke lantai tersebut.
__ADS_1
"Tari, kamu baik-baik saja kan? Kamu bahagia kan dengan kehidupan barumu?" ucapnya sambil menatap foto yang ada di tangannya tersebut.