Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 33


__ADS_3

"Mereka... mereka baik-baik saja di luar negeri," jawab Handoko tanpa menatap mata besannya.


"Benarkah? Tapi... Kenapa nomor putriku tidak bisa dihubungi?" tanya Ratih.


"Mungkin ada sesuatu yang salah antara Anda dan putri Anda makanya dia menghindari Anda."


Sontak saja jawaban Handoko barusan memancing emosi Bintang. Gadis yang masih berumur belasan tahun itu langsung berdiri.


"Jadi menurut Anda Kakak saya tidak mau menerima telepon dari Ibu itu semua karena salah Ibu saya? Begitu?" tanya Bintang dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Bu-bukan begitu maksud saya, mungkin saja ada hal yang tanpa sengaja membuat kakakmu marah pada ibumu."


"Denger ya, Pak. Ibuku sangat menyanyangi kakakku, begitu juga sebaliknya. Kalau sampai ada kesalahpahaman antara ibu dan kakakku itu artinya anak Anda yang sudah memberikan pengaruh negatif bagi kakak saya," ujar Bintang dengan napas tersengal karena menahan emosi.


"Bintang, duduklah, Nak! Ibu yakin maksud Pak Handoko bukan seperti itu." Ratih berusaha menenangkan putri bungsunya tersebut.


"Pak Handoko tolong maafkan putri saya. Maklumi ketidak dewasaan dia ya, Pak." Ratih mewakili Bintang untuk meminta maaf kepada Handoko.


"Iya, Bu Ratih. Tidak apa-apa, saya ngerti kok," jawab Handoko.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak. Ohya, apa Anda tahu berapa nomor telepon Iwan. Saya mau mencoba menghubungi putri saya melalui dia."


"Ah, saya ada rapat, Bu Ratih. Maaf ya saya sibuk." Bukan menjawab pertanyaan Ratih, Handoko malah mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura sibuk.


"Tapi, Pak, saya cuma mau tahu nomor Iwan berapa? Saya sangat merindukan putri saya, Pak."


"E... itu, mereka kehilangan barang bawaan mereka pas tiba di bandara Turki dan Iwan belum menghubungi saya lagi. Maaf ya, Bu Ratih, saya benar-benar sibuk. Nanti kalau Iwan menghubungi saya, saya akan memintanya untuk menghibungi Bu Ratih," balas Handoko.


"Baiklah, Pak. Tolong bilang ke Iwan untuk segera menghubungi saya."


"Iya, Bu. Pasti."


*


"Kita mau mencari tahu tentang kabar kakak kamu kemana lagi ya?" Ratih menghela napas panjangnya karena tidak tahu lagi harus mencari tahu kabar tentang putrinya.


"Bintang juga nggak tahu, Bu," jawab Bintang. "Bu, jika kakak benaran tidak ingin berhubungan lagi dengan kita gimana? Apa Ibu masih akan terus mencari keberadaan Kakak?"


"Kamu ini bicara apa sih? Nggak mungkin kakakmu begitu."

__ADS_1


Bintang menatap iba sang ibu. "Jika pernyataan Kak Iwan waktu itu benar tentang kakak yang tidak ingin berhubungan lagi dengan kami karena kami miskin, bagimana perasaan Ibu ya?" batin Bintang. Tanpa terasa cairan bening keluar dari sudut mata Bintang.


"Bintang, kamu nangis?" tanya Ratih sambil menatap putri bungsunya tersebut.


"Tidak kok, Bu. Aku hanya terlalu ngantuk karena perjalanan jauh, makanya mataku berair," jawab Bintang seraya menyeka air matanya. Dia bahkan berpura-pura menguap agar sang ibu tidak cemas.


"Maafin Ibu, ya. Gara-gara Ibu ingin tahu kabar tentang kakakmu, kamu jadi kehilangan waktu istirahat. Padahal kamu sudah terlalu sibuk dengan kegiatan di sekolah," sesal Ratih.


"Nggak apa-apa kok, Bu. Nanti begitu aku sampai rumah, aku kan bisa langsung tidur," jawab Bintang. Gadis itu kembali menunjukkan senyum cerianya kepada sang ibu.


"Ya sudah, ayo kita ke stasiun. Takutnya kita ketinggalan kereta!"


"Ayo."


Bintang memeluk lengan ibunya. Keduanya pun pergi dari halaman rumah Handoko.


Handoko menutup gorden yang sejak tadi ia buka sedikit untuk mengintip. Laki-laki berumur lebih dari setengah abad itu menghela napas panjangnya. Dia benar-benar menyesal karena telah memaksakan perjodohan Mentari dengan putranya karena nyatanya Iwan tidak pernah bisa berubah. Bahkan perbuatan anak itu sudah diluar kendalinya.


"Maaf kan saya Bu Ratih. Saya tidak mau anak saya dipenjara karena terlibat perdagangan manusia. Maaf kan saya. Mentari, semoga kamu baik-baik saja karena saya tidak tahu kemana Iwan menjualmu," gumamnya. Handoko bersandar pada dinding sambil memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2