
Hari ini Nando sudah ikut bekerja di perusahaan milik Harryangga Wijaya, ayah dari Rangga yang memiliki perusahaan besar bernama Wijaya Grup.
Rangga dan Nando menemui orang nomor satu di perusahaan Wijaya itu di ruang kerjanya. Meskipun Rangga adalah pewaris laki-laki satu-satunya keluarga Wijaya, tetapi dia tidak bisa seenaknya untuk bisa menemui sang ayah. Dia tetap harus membuat jadwal beberapa hari sebelumnya. Bukan karena Haryangga tak mau menemui jika tak ada keperluan penting, dia akan tetap menemui keluarganya setiap saat jika memang diperlukan. Hanya saja takutnya pria nomor satu itu masih berada di luar kota atau pun luar negeri karena Haryangga termasuk orang yang gila kerja.
Terlahir dari keluarga sederhana membuat pria yang sekarang menginjak usia 56 tahun tersebut terus bekerja keras. Dia tidak ingin anak-anaknya mengalami hal serupa dengan dirinya dulu, tak mampu membiayai anaknya yang harus menjalani operasi dan membuatnya harus merelakan salah satu dari putranya diambil paksa oleh sahabatnya.
"Kamu beneran ingin bekerja di perusahaan milik Om ini?" tanya Harryangga kepada Nando, sahabat Rangga.
"Kalau diizinkan, Om. Kebetulan saya membutuhkan pekerjaan untuk membantu melunasi hutang-hutang almarhum ayah saya," jawab Nando jujur. Dan memang hanya di perusahaan milik orang tua sahabatnya itulah dia bisa langsung bisa mendapat gaji dan posisi yang lumayan.
"Rangga, kamu siap kan menangani proyek yang sudah papa terangkan waktu itu?" kini giliran Rangga yang mendapat pertanyaan dari sang ayah.
"Siap, Pa. Apalagi sekarang ada Nando, Rangga yakin akan bisa menyelesaikan proyek itu dengan benar," jawab Rangga penuh percaya diri.
"Baguslah, kamu percaya diri. Ini adalah proyek besar dengan dana yang tidak main-main. Jika, kamu gagal, perusahaan kita akan mengalami goncangan. Jadi, jika memang kamu tidak siap, papa yang akan menanganinya sendiri."
"Tenang saja, Pa. Rangga pasti bisa menyelesaikan proyek itu sesuai dengan keinginan Papa. Lagian Papa udah janji kan kalau Rangga berhasil, Rangga boleh menikahi Livya." Haryangga mengesah berat. Sejujurnya dia masih ragu dengan wanita pilihan putranya itu.
"Iya, papa akan menikahkanmu dengan pesta yang meriah," jawab Haryangga.
"Thanks, Pa. Aku dan Nando ke ruang kerja kami dulu. Kami janji akan menyelesaikan proyek yang papa berikan sebaik mungkin." Rangga terlihat begitu bersemangat.
__ADS_1
Rangga dan Nando keluar dari ruang kerja Harryangga.
***
"Akhirnya gue bakalan nikah sama Livya," cicit Rangga senang.
"Lo serius mau nikahin dia?" tanya Nando.
"Seriuslah, rencananya malam ini gue mau ngelamar dia," jawab Rangga.
"Ngga, lo pikirin deh sekali lagi!" seru Nando.
"Heish. Lo, Ndo, selalu aja ngerusak mood gue." Rangga mencebik. "Terserah lo mau ngomong apa soal Livya yang jelas gue bakalan tetap nikahin dia secepatnya."
Tidak lama ponsel milik Rangga berdering dan itu adalah panggilan dari Juan. Rangga segera menarik tombol hijau pada layar hapenya.
"Iya, Juan," jawab Rangga.
"Gimana lo udah tahu kabar Mentari?"
Pertanyaan Juan membuat Rangga dan Nando saling tatap.
__ADS_1
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Juan kembali bertanya, "Kalian belum mencaritahu ya?"
"Sorry, Juan. Tapi, apa tidak sebaiknya lo nggak usah tahu kabar tentang Mentari? Kita berdua takut lo malah susah move on dari dia," jawab Rangga dengab hati-hati.
"Bukan kenapa-napa ya, Juan. Tapi, nih misal lo dengar kabar tentang dia bahagia sama pasanganya sekarang, bukankah lo bakalan nyesel karena udah bikin dia ninggalin lo, terlebih jika lo denger dia nggak bahagia sama suaminya, pasti lo akan nyalahin diri lo karena lo bakal ngerasa sumber penderitaan Mentari itu karena lo." Nando ikut menyahut.
"Tapi, hati gue nggak tenang karena belum tahu kabar tentang dia sekarang," balas Juan. "Lebih baik gue nyesel karena nggak bisa bareng dia dan denger dia bahagia sama pasangannya, ketimbang gue nggak tahu kabar dia sama sekali," lirihnya.
"Ya udah, ntar pulang kerja kita berdua bakal tanya ke ibunya. Semoga setelah denger dia bahagia lo bisa tenang," balas Rangga.
"Thanks ya, gue tunggu kabar Mentari dari kalian berdua."
"Sama-sama."
Pembicaraan mereka pun berakhir. Rangga menyimpan ponselnya di atas meja.
"Lo serius mau ke rumah si Tari?" Nando memastikan.
"Seriuslah, tapi nggak sendirian. Melainkan kita berdua," jawab Rangga dengan cengiran kudanya.
"Cih, dasar lo!" Nando berdecih.
__ADS_1
Kedua sahabat itu pun memulai pekerjaan mereka.