
Mentari duduk di depan rumah dengan tatapan kosong. Setelah dua sahabat Juan, itu datang menjemput. Mentari segera pulang ke rumah, dia tidak mau baik keluarga maupun suaminya mengetahui apa yang terjadi barusan.
Berciuman. Itu adalah hal yang salah karena ia melakukannya dengan laki-laki yang jelas sudah menjadi mantan. Apalagi dengan statusnya yang sekarang yang merupakan istri orang.
Namun, perasaan cinta Mentari yang masih terlalu dalam terhadap mantannya tersebut, membuatnya membalas ciuman itu meski logikanya menolak. Beruntung, Rangga dan Nando segera datang dan membuat mereka mau tidak mau mengakhiri pagutan itu.
Mentari menghembuskan napas panjangnya. Tatapan pedih Juan ikut membuatnya merasakan sakit. Seandainya waktu dapat diputar, dia akan mendengarkan penjalasan dari Juan dulu sebelum menerima perjodohan itu. Sayangnya yang namanya penyesalan selalu datang di akhir, bukan di awal.
"Sayang, kenapa malam-malam begini ada di luar?"
Mentari sempat terperanjat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Tari berusaha menyembunyikan kegugupannya dari orang yang saat ini berdiri di hadapannya.
"E... Mas, sejak kapan di situ?" tanya Mentari sedikit terbata.
"Sejak tadi," jawab Iwan.
Iya, suara itu adalah suara Iwan, suami Mentari. "Se-se-sejak tadi?" Mentari kembali gugup. Dia takut kalau Iwan memergokinya menemui Juan tadi.
"Kenapa? Kok kamu kayak ketakutan gitu? Seperti istri yang baru saja ketahuan menemui selingkuhannya?" jawab Iwan. Ia kembali menatap Mentari.
"E... itu... aku... aku hanya.... "
"Aku bercanda tadi," sela Iwan sebelum Mentari menyelesaikan kalimatnya. "Aku baru kebangun kok. Karena tidak melihatmu berada di kamar makanya aku ke sini," lanjutnya.
__ADS_1
"Begitu ya," ucap Mentari dengan senyum yang terlihat kaku.
Entahlah. Dia merasa kalau barusan Iwan tidak sedang bercanda.
"Tari, aku tahu kok kamu melamun disini karena besok akan meninggalkan rumah ini, kan? Kamu tenang saja, kamu masih bisa kok menjenguk ibu dan adikmu di sini. Jadi, jangan terlalu dipikirkan ya," ujar Iwan. "Kita ke kamar yuk! Udara malam gak baik buat kesehatan!" ajak Iwan.
Mentari hanya menurut. Ada rasa ketakutan yang tiba-tiba muncul di hati Mentari melihat sikap Iwan yang terlampau baik seperti ini. Namun, dia berusaha mengenyahkan pikiran tersebut dengan mencoba untuk tetap berpikir positif.
Ia kemudian masuk ke dalam rumah bersama Iwan.
***
Sementara di tempat lain....
"Gue kira tuh bocah sudah benar-benar ikhlas melepaskan Mentari. Tapi ternyata.... " Nando tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya menggeleng.
"Pasti sulit lah bagi Juan menerima itu, apalagi hubungan mereka sudah berjalan sangat lama. Gue yakin, Juan akan sulit menemukan cewek yang bisa gantiin posisi Mentari," Rangga ikut menimpali.
"Tapi kan semua yang terjadi adalah konsekuensi yang harus dia dapat dari perbuatannya sendiri. Siapa suruh dia ikut taruhan menyesatkan itu?" Nando tetap saja menjadi orang yang selalu mengungkit kesalahan sahabatnya tersebut.
"Ya, emang salah Juan sih. Tapi lo tahu sendiri kan, Juan itu anaknya kayak apa? Dia kalau udah ditantang pantang menyerah," sahut Rangga.
Iya, Juan adalah orang yang pantang menolak tantangan. Baginya berhasil menyelesaikan tantangan adalah wajib hukumnya. Meski kadang konsekuensi yang harus ia dapat dari hadiah dari tantangan itu.
__ADS_1
"Ohya, tadi gue lihat kayak ada orang yang lagi ngawasin Tari dan Juan. Gue takut kalau orang itu adalah suaminya Tari."
"Gue malah gak merhatiin," balas Rangga. "Tapi, kalau tadi itu suaminya nggak mungkin lah tuh orang diem saja ngelihat istrinya ciuman sama cowok lain," tandasnya.
"Justru itu yang jadi tanda tanya buat gue. Takutnya dia kelihatannya diem saja, tapi ternyata lagi merancang balas dendam. Dan yang kena Mentari."
Rangga langsung menatap ke arah Nando.
"Sudah jangan terlalu banyak berpikir negatif, mungkin saja orang yang lo lihat itu bukan suaminya Tari. Mending doain aja semoga Tari dan Juan sama-sama cepat move on. Gue kasihan lihat mereka yang kayak gitu," ucap Rangga.
Nando hanya menghela napas lalu mengangguk.
"Ohya, Do. Papa nanyain tuh pekerjaan yang dia kasih udah lo kerjain belum?" kata Rangga. "Memang pekerjaan apa sih yang papa kasih?" Kali ini Rangga menatap sahabatnya tersebut.
"Rahasia. Namanya juga kerjaan, kalau beliu tanya lagi bilang saja kalau gue akan datang ke perusahaan," jawab Nando santai. "Btw bukannya perushaan bokap lo udah mulai diserahkan ke elo ya?"
"Udah sih, papa hanya ngerjain pekerjaan yang terlanjur dia pegang. Lo tahu sendiri kan watak papa gue? Pantang baginya menyerahkan pekerjaan yang sudah ia mulai kepada orang lain meski itu kepada anaknya sendiri?" jawab Rangga. "Udah ah tidur yuk, gue udah ngantuk!" ajaknya.
Rangga dan Nando memilih tidur tepat di depan kamar. Mereka tidak mau Juan pergi tanpa sepengetahuannya lagi seperti tadi.
"Apa aku harus terus mengurusi permaslahan orang lain? Sampai-sampai masalahku sendiri terbengkalai," keluh Nando di dalam hati.
Dia menatap Rangga yang sudah hanyut ke alam mimpi. "Orang kaya mah enak, masalah mereka cuma di percintaan. Sedangkan gue? Semua persoalan seolah mendatangiku secara bersamaan. Gue juga pingin bisa didengar oleh kalian, tapi sepertinya hal itu mustahil kalian aja nggak bisa mengatasi masalah percintaan kalian. Dan gue lebih ngekhawatirin lo, Ngga. Jelas-jelas si Lyvia cuma ngincer harta lo doang, masih saja lo nggak sadar dan pertahanin hubungan kalian yang toxic itu. Apa cinta memang bisa bikin orang hilang akal ya? Yang pinter, jadi begok dan yang begok makin begok?" Lagi dan lagi, Nando bermonolog. "Hedech! Semoga saja gue nggak sebegok lo dan seceroboh Juan."
__ADS_1
Nando mulai meringkuk ke kiri, kemudian ia pun ikut masuk ke alam mimpi.