
Malam itu tanpa menunggu teman-temanya, Juan memulai pencarianya terhadap Mentari. Pria bertubuh jangkung tersebut mulai memasuki satu per satu tempat hiburan malam yang ada di Jakarta. Dia bahkan dengan sengaja membooking wanita yang memili nama Mentari. Ketika yang datang bukanlah Mentari yang ia cari, Juan hanya membayar dan langsung menyuruh mereka pergi tanpa melakukan apa pun. Dan ini adalah tempat ketiga yang ia datangi.
Juan benar-benar putus asa. Hatinya begitu sesak saat membayangkan sang kekasih hati harus rela menemani pria hidung belang yang haus akan sentuhan.
Entah sudah botol yang keberapa yang Juan tenggak, namun semua minuman itu belum mampu membuatnya melupakan rasa sesak yang ia rasakan. Justru rasa itu semakin kuat saat bayangan wajah Mentari terlintas di benaknya.
"Tari, dimana kamu? Sebenarnya kamu kemana? Kenapa sulit sekali untuk menemukanmu?" racau Juan. Pria berwajah tampan itu kembali meneguk minuman yang masih tersisa di dalam botol. Sakit di kepalanya semakin bertambah dengan semakin bertambahnya minuman yang masuk ke kerongkongan. Namun, hal itu belum mampu membuat Juan merasa lebih baik.
Dari kejauhan seorang wanita berpakain seksi yang saat itu sedang menamani minum pelanggannya menap Juan nanar. Hatinya ikut teriris melihat laki-laki yang hingga saat ini bertahta di hatinya seperti itu. Ingin rasanya dia berlari dan memberikan pelukan kepadanya sambil berkata: "Aku baik-baik saja, jadi kamu juga harus hidup dengan baik."
"E... Aku permisi sebentar ya, Tuan," pamit wanita itu kepada laki-laki yang memang sudah membayarnya.
"Hm. Tapi, kamu jangan lama-lama ya. Honey," jawab laki-laki itu sambil mengusap pipi Mentari. Iya, wanita itu dalah Mentari. Sejak Juan memasuki tempat hiburan malam tersebut, Mentari terus memperhatikannya dari kejauhan. Namun, dia tidak berani mendekat karena takut Bos Frengky akan melakukan hal buruk kepadanya jika tahu ia mengenalnya.
"Tentu. Aku hanya ingin ke toilet saja kok," jawab Mentari sambil mengulas senyum.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita penghibur, Mentari dituntut untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Bahkan ketika dirinya mengalami kekerasan saat sedang memberikan pelayanan kepada pria yang memiliki kelainan, senyum itu tetap tidak boleh lepas. Jika mereka melanggar dan sampai tamu itu mengeluh, maka Bos Frengky akan memberikan hukuman.
Mentari bolak-balik di depan toilet untuk menunggu temannya, Susan. Tidak lama orang yang ditunggunya itu datang.
"Ada apa, Tar? Kenapa kamu meminta bertemu di sini?" tanya Susan. Kebetulan malam ini wanita itu sedang tidak bekerja karena sedang datang bulan.
"San, aku... aku boleh minta bantuan kamu tidak?"
"Tentu saja boleh. Memangnya kamu ingin minta bantuan apa?" jawab Susan sembari bertanya.
"Laki-laki yang sedang mabuk sendirian itu?" tanya Susan. Mentari mengangguk. "Ada apa dengan laki-laki itu?"
"Aku mohon tolong suruh dia agar tidak minum lagi. Dia sudah terlalu banyak minum dan itu tidak baik bagi kesehatannya. Aku tidak tahu kenapa dia sampai minum sebanyak itu." Wajah Mentari terlihat cemas.
"Kamu kenal laki-laki itu?" tanya Susan lagi karena tidak biasanya Mentari memperhatikan orang lain saat sedang melayani tamunya.
__ADS_1
Lagi. Mentari memberikan anggukan sebagai jawaban. "Dia Juan," jawabnya.
"Apa?! Juan?" tanya Susan tidak percaya.
Susan sedikit banyak sudah tahu tentang Juan dari cerita-cerita Mentari selama ini. Pria itu adalah satu-satunya laki-laki yang Mentari cintai dengan sepenuh hati.
"Kenapa dia ada di sini? Apa mungkin dia mencarimu?" tanya Susan.
"Aku tidak tahu karena sejak tadi aku tidak berani mendekatinya. Kamu tahu sendiri kan kalau anak buah Bos Frengky selalu mengawasiku?" jawab Mentari.
Susan mengedarkan pandangan. Di sana memang sudah ada beberapa anak buah Bos Frengky yang sengaja diutus untuk mengawasi Mentari.
"San, tolong. Bawa dia pergi dari sini! Jangan sampai dia melihatku dan tahu aku menjadi wanita penghibur di sini. Aku mohon ya, San!" pinta Mentari.
"Baiklah, aku akan coba mendekatinya."
__ADS_1
"Terima kasih. Aku... aku kembali ke mejaku dulu. Aku akan melihatmu dari kejauhan." Mentari segera kembali ke tamunya. Dia tidak mau anak buah Frengky tahu soal Juan.