Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 32


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Widya saat melihat anaknya pulang dalam keadaan bete.


"Ternyata Rangga nggak sekaya yang aku kira, Mi. Hah, rasanya nyesel dah pacaran sama dia," jawab Livya sambil menghela napasnya.


"Mami bilang apa? Dia itu gak begitu kaya, ngapain kamu buang-buang waktu sama dia? Mending putus deh mumpung kalian belum nikah," ujar Widya.


"Harusnya sih, Mi. Tapi, tadi mereka sudah membahas soal pernikahanku dan Rangga."


"Terus kamu bilang apa?"


"Aku nggak bilang apa-apa, Mi. Aku langsung minta pulang," jawab Livya.


"Gimana kalau kamu pura-pura mau nikah sama dia sambil nunggu mami deketin kamu sama si Hans?" Widya memberikan ide kepada putrinya.


"Pura-pura? Maksud Mami?" tanya Livya yang masih belum mengerti maksud dari perkataan maminya itu.


"Ya... Pura-pura aja terima tawaran dia buat nikahin kamu. Jika rencana mami buat ngedeketin kamu sama si Hans gagal nggak apa-apa deh kamu nikah sama Rangga. Meski nggak begitu kaya seenggaknya Rangga bukan orang miskin. Kamu lihat mobilnya kan? Mobil itu harganya lebih dari 1 milyar. Kamu bisa minta itu sebagai mahar. Tapi, kalau mami berhasil ngedeketin kamu sama Hans tinggal kamu tinggalin deh si Rangga itu, gimana?"


"Baiklah. Sepertinya itu ide yang cukup bagus," jawab Livya.


Akhirnya Livya menelpon Rangga, dia memberitahu jika maminya sudah setuju soal pernikahan mereka dan meminta agar Rangga yang mempersiapkan semuanya. Livya beralasan, jika maminya kurang sehat. Sementara dia sedang sibuk menyelesaikan skripsinya.

__ADS_1


"Baiklah, Via. Aku yang akan menyiapkan semuanya. Kamu dan mami tinggal duduk manis di rumah dan terima beres. Kamu tinggal bilang saja, mau pesta yang seperti apa, nanti biar aku yang diskusi dengan pihak WO," jawab Rangga dari ujung sana.


"Iya, Sayang. Nanti aku kirim detailnya lewat email ya. Makasih karena kamu udah ngertiin aku," ucap Livya.


"Iya, Sayang. Sama-sama. Kalau kamu butuh bantuan untuk buat skripsi, kamu tinggal ngomong aja. Aku pasti bantuin kamu."


"Sementara belum ada sih. Ya udah ya, aku tutup dulu. Bye Sayang." Livya memutus pembicaraan.


"Gimana? Rangga mau?" tanya Widya.


"Iya, Mi. Dia nyuruh kita duduk manis dan terima beres," jawab Livya. Ibu dan anak itu kembali cekikikan karena rencana mereka berhasil.


Saat Rangga sibuk menyiapkan pernikahan, mereka berencana mendekati Hans lebih intens lagi. Mereka yakin, tidak akan sulit membuat Hans jatuh cinta dengan Livya.


Karena penasaran dengan kabar Mentari, Ratih dan Bintang akhirnya mendatangi rumah Pak Handoko. Meski Mentari sudah bilang ingin putus hubungan dengan ibu dan adiknya. Sebagai orang tua, Ratih tidak bisa begitu saja melupakan Mentari. Apa lagi sudah berbulan tidak ada kabar lagi dari putri sulungnya tersebut.


"Bu Ratih, tumben ke sini? Kenapa nggak ngabarin? Kalau ngabarin kan bisa saya jemput di terminal?" tanya Handoko saat melihat kedatangan besannya.


"Ini juga dadakan kok, Pak," jawab Ratih.


"Tapi, seharusnya Anda ngabarin dulu kalau mau kesini. Jadi, saya nggak tangan hampa nyambut Anda. Padahal ini kali pertama Anda datang ke rumah saya."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Pak Handoko. Ini saja sudah lebih dari cukup," jawab Ratih lagi. "Ohya, Pak. Maksud kedatangan saya kemari karena saya ingin mengetahui kabar putri saya dan Nak Iwan. Apa mereka sudah kembali dari luar negeri? Saya kangen banget sama putri saya, Pak Handoko." Ratih menyampaikan alasan kedatangannya ke rumah besannya itu.


Handoko terdiam. Ekspresi wajahnya mendadak berubah.


"Pak, Bapak tahu kan kabar mereka?" tanya Ratih lagi.


"E... saya... saya.... "


Handoko terlihat kebingungan.


"Tidak.terjadi sesuatu sama putri saya kan, Pak?" cecar Ratih lagi.


Lagi. Handoko terlihat makin kebingungan.


"Tolong, Pak. Saya cuma pingin tahu kabar putri saya. Pak, gimana kabar putri saya dan Iwan?" Ratih menanti dengan penuh harap.


Handoko menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia kemudian menatap Ratih dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Pak Handoko, tolong jawab saya!" pinta Ratih lagi.


"Sebenarnya.... "

__ADS_1


"Sebenarnya apa, Pak?" Ratih terlihat tidak sabar.


Kembali Handoko diam. Dari raut wajahnya, pria itu terlihat kesulitan untuk menyampaikan sesuatu.


__ADS_2