
Pulang kerja Rangga dan Nando menyempatkan diri mendatangi rumah Mentari. Agak canggung juga sebenarnya berkunjung ke rumah orang yang jelas orang itu tidak ada di rumah. Apalagi mereka tahu bahwa Mentari sedang pergi bersama suaminya.
"Ngapain Abang berdua di sini? Mau maling ya?" Bintang menajamkan penglihatannya.
"Eh, bocah. Lo nggak lihat tumpangan gue apa?" Rangga menunjukkan mobil sport berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari rumah itu. Bintang mengikuti arah pandangan Rangga.
"Itu milik, Abang?"
"Memang lo pikir milik siapa? Ya milik gue lah," jawab Rangga dengan lagak sombong.
"Siapa tahu tuh mobil, mobil rental. Kan banyak, orang yang ngakunya punya ini itu, eh ternyata semua hanya flexing. Cuma buat pamer di medsos doang," jawab Bintang seraya mencebik.
"Memangnya ada ya rental yang nyewain mobil sport kayak gitu?"
"Entah. Gue kan bukan kang flexing, jadi mana tahu." Bintang memutar bola matanya.
"Hish. Nih bocah kalau diajak bicara sukanya nyahut aja. Mana bikin emosi lagi," desis Rangga.
"Ya nggak usah ngajak gue bicara lah. Repot amat," balas Bintang yang membuat Rangga semakin dongkol.
"Sudah, Ngga! Bukankah kita kesini buat nanyain kabar Mentari, kenapa lo malah berantem sama anak kecil sih." Nando menegur.
"Gue bukan anak kecil ya. Nggak lihat gue udah gede gini." Bintang menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dada masih rata gitu bilang udah gede. Sana minum susu dulu biar cepet gede!" Rangga kembali menyahut.
Mendengar perkataan Rangga, refleks Bintang menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Dasar mesum!" Bintang kembali mencebik.
"Ngapain gue mesum sama cewek jadi-jadian. Najis!"
"Siapa yang lo bilang cewek jadi-jadian? Mata lo sedeng ya?" balas Bintang tak terima.
"Elu lah, siapa lagi?" jawab Rangga tak mau kalah.
"Ngga!" tegur Nando. Dia kembali mengingatkan tujuan mereka datang ke tempat tersebut. "Maaf, Dek. Kami datang ke sini cuma mau menanyakan kabar Mentari. Kalau boleh tahu, gimana keadaan Mentari sekarang?" tanya Nando.
Seketika Bintang terdiam. Jawaban kakaknya beberapa hari lalu kembali terngiang di kepala.
"Kesambet kali dia," kembali Rangga menyahut.
Bintang hanya melirik Rangga sebentar dan mengacuhkannya. Ia sudah tidak mau lagi berantem dengan teman dari kakaknya itu.
"Dek," panggil Nando.
"Gue bukan adik lo, ngapain manggil dak-dek, dak-dek?" protes Bintang.
"Tuh kan, Ndo. Lo lihat kelakuan tuh cewek jadi-jadian. Kita tanya baik-baik, dia malah kayak gitu."
__ADS_1
"Ngga!" kembali Nando menegur sahabatnya tersebut.
"Kak Tari baik-baik saja dan kemungkinan dia nggak akan balik ke rumah ini lagi," jawab Bintang.
"Begitu ya? Syukurlah kalau dia baik-baik saja," ujar Nando. "Kalau gitu kami pamit ya. Maaf, karena kami mengganggu waktumu."
"Tidak apa-apa," jawab Bintang. "Kalau begitu gue permisi masuk."
Tanpa berkata apa pun lagi, Bintang masuk ke dalam rumahnya.
Nando dan Rangga juga masuk ke dalam mobil.
"Ndo, menurut lo si Mentari beneran baik-baik aja kan?" tanya Rangga.
"Kenapa? Lo nggak denger jawaban adiknya Mentari tadi?" balas Nando.
"Justru itu. Saat kita menanyakan kabar Mentari wajah tuh cewek jadi-jadian tiba-tiba berubah murung. Dia kelihatan sedih gitu sih."
"Masa sih? Gue nggak begitu merhatiin," jawab Nando. "Tunggu! Tumben lo perhatian. Jangan-jangan lo.... "
"Apa? Awas aja kalau pikiran lo kemana-mana!" Rangga kembali mencebik.
"Tapi, gue lebih setuju lo sama adiknya si Tari sih ketimbang sama si Livya."
__ADS_1
"Mulai-mulai. Males gue nanggepin lo. Lagian tuh cewek jadi-jadian bukan tipe gue, dia juga masih bocil kali." Rangga mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan tempat itu.