
"Bagaimana ini?" tanya wanita yang mengaku sebagai Mentari kepada Iwan.
"Kamu sembunyi dari sini, aku akan bilang ke papa kalau Mentari baru saja pergi ke kamar mandi!" seru Iwan, ia pun takut ketahuan oleh papanya.
"Ish. Papamu benar-benar meropatkan." Wanita yang menggantikan posisi Mentari itu ngedumel. Dia segera beranjak dari pangkuan Iwan. "Pokoknya kali ini bayaranku harus dobel."
"Iya-iya. Cepet sana ngumpet dulu!" Iwan mengibaskan tangannya. Setelah memastikan Mentari palsu sudah tak lagi terlihat, Iwan segera menarik tombol bergambar kamera.
"Lho, Mentari mana, Wan?" tanya Handoko ketika yang terlihat di kameranya hanya wajah Iwan.
"E... barusan dia ke kamar mandi, Pa. Katanya perutnya mules," jawab Iwan beralasan.
"Lho bukannya Tari baru saja nerima telepon papa? Kenapa jadi ke kamar mandi sekarang?" tanya Handoko lagi.
"Pa, yang namanya perut mules memang bisa kita handle? Nggak kan?" Iwan kembali memberi penjelasan. "Jangan bilang Papa nggak percaya sama Iwan!"
Handoko masih diam. Sebenarnya dia memang tidak mempercayai putranya itu. Handoko sangat mengenal Iwan, berbohong sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Setidaknya itulah yang terjadi sebelum ia menjodohkannya dengan Mentari.
"Kalau Papa nggak percaya, aku akan panggilkan Tari sekarang!" Iwan berlagak seolah ia marah dengan reaksi papanya yang tidak mempercayainya.
"Tari Sayang, cepetan nih papa mau ngobrol sama kamu!" teriak Iwan, dia sengaja bersuara keras agar papanya mendengar.
"Sebentar lagi, Mas. Perutku masih mules," jawab seseorang dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Tuh, Papa denger sendiri kan? Kalau Papa mau nunggu sampai Tari keluar dari kamar mandi ya silakan. Aku akan tetap nyalakan panggilan video ini sampai Tari keluar dari kamar mandi," ujar Iwan.
"Tidak perlu. Papa percaya sama kamu. Sebentar lagi papa transfer uang ke rekening kamu. Ingat! Sebagian uang itu biar Mentari yang pegang. Papa tidak percaya kalau kamu yang pegang semua uang itu sendiri." Handoko akhirnya memilih untuk menyudahi panggilannya. Dia berharap kali ini Iwan benar-benar sudah berubah menjadi laki-laki yang lebih baik dari sebelumnya.
"Iya, Pa. Tenang saja akan aku serahkan uangnya kepada Tari. Kalau perlu semuanya saja biar dipegang oleh Mentari," sahut Iwan. Dalam hati dia merasa senang karena akhirnya sang papa percaya padanya.
"Ya sudah ya, Wan, papa tutup teleponnya. Jangan lupa kabari papa tiap hari." Handoko akhirnya benar-benar mengakhiri panggilannya. Tidak lama sebuah notif dari M-Banking muncul di ponsel Iwan.
Senyum Iwan semakin lebar kala melihat nominal yang baru saja di transfer oleh papanya.
"Wah, ternyata uang dari papamu gede juga ya." Wanita yang menjadi Mentari palsu tiba-tiba muncul di belakang Iwan.
"Akan aku transfer bagianmu nanti. Tapi, puaskan dulu aku." Iwan langsung menyerang wanita itu.
Sementara itu di rumah, Ratih merasa tidak tenang. Dia sedang membuat kue untuk dijual dari tadi selalu tiba-tiba berhenti seperti mencemaskan sesuatu.
"Bu, Ibu kenapa?" tanya Bintang yang melihat ibunya terus gelisah.
"Ntahlah. Ibu terus kepikiran sama Tari," jawab Ratih.
"Iya sih. Aneh, kenapa Kak Tari belum menelpon kita ya, Bu? Apa terjadi sesuatu sama mereka di jalan?"
"Hust, jangan bilang begitu!" tegur Ratih. "Doakan saja semoga kakak dan kakak iparmu selamat sampai tujuan."
__ADS_1
"Tapi, Bintang ngerasa aneh saja sih, Bu. Tidak biasanya Kak Tari gini." Bintang menyampaikan pendapatnya.
Ratih memikirkan perkataan Bintang. Memang benar, ini bukan kebiasaan Mentari. Biasanya Mentari akan langsung memberi kabar ketika ia sampai di tempat tujuan.
"Bintang, coba kamu telepon nomor kakakmu! Tanyakan dia sudah sampai apa belum!" akhirnya Ratih menyuruh anak keduanya untuk menelepon Mentari.
"Baik, Bu." Bintang mengambil ponsel miliknya dari atas nakas. Dia segera melaksanaksanakan interuksi ibunya untuk menelepin Mentari.
"Bagaimana? Sudah tersambung?" tanya Ratih yang tidak sabaran.
"Sudah, tapi belum dijawab, Bu," jawab Bintang. "Sudah dijawab, Bu." Bintang tersenyum senang.
"Assalammualaiku, Kak Tari, ini Bin.... "
Bintang tidak melanjutkan perkataannya. Dia terlihat shock seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang menyakitkan. Tangan Bintang luruh ke bawah.
"Bintang, ada apa?" tanya Ratih.
Bintang menatap ibunya, matanya berembun.
"Katakan, Nak! Ada apa? Apa yang terjadi dengan Mentari?" kembali Ratih bertanya.
Bintang masih diam dan hanya menatap sang ibu.
__ADS_1