
Juan baru saja selesai melakukan operasi. Operasi yang memakan waktu lebih dari 16 jam itu cukup menguras tenaganya. Pemuda yang masih belum move on dari Mentari itu terlihat menghempaskan tubuhnya di atas kursi di sebuah ruangan khusus dokter baru.
Juan sedikit terkejut ketika ada dokter wanita yang mengulurkan sebotol air mineral kepadanya.
"Minumlah, Dok! Mungkin Anda haus!" ucapnya.
"Ah, terimakasih. Kebetulan aku memang sedikit haus," ucap Juan sambil menerima botol mineral dari tangan rekan sejawatnya tersebut.
"Apa Anda lapar?" tanya Dokter wanita itu lagi.
Juan kembali menatap wanita itu.
"Kenalkan, aku Maura. Aku dokter baru di sini." Wanita yang mengaku bernama Maura itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.
"Juan." Juan ikut memperkenalkan diri.
"Aku sudah tahu," ucap wanita bernama Maura itu sambil tersenyum simpul. Dia kemudian menarik kursi kosong yang ada di hadapan Juan dan duduk di sana. "Anda adalah satu-satunya dokter muda di sini yang tidak mengenalku. Padahal hampir semua dokter pria disini berlomba-lomba untuk berkenalan denganku, tapi kamu terlihat cuek dan terkesan mengabaikan aku," tambahnya.
"Begitu ya." Juan menanggapi dengan kikuk.
__ADS_1
"Tapi, itu yang menjadikan saya tertarik pada Anda." Maura sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Juan dan itu membuat Juan bergerak refleks menjauhinya.
"Maaf, Anda pasti terkejut dengan sikap saya barusan," ucap Maura. "Tenang saja Dokter Juan, aku nggak akan memangsamu kok." Maura kembali menegakkan badannya.
"Oh iya, Anda pasti lapar kan? Bagaimana kalau kita makan bersama, kebetulan saya juga belum makan!" ajak Maura.
"E... aku harus mengecek pasienku. Lain kali saja ya kita makan bersama," tolak Juan setelah melihat jam tangannya.
Iya, memang ini sudah waktunya ia mengunjungi pasiennya sebelum pulang.
"Aku bisa menunggu Anda," balas Maura.
"Tidak usah. Kamu bilang kan kalau kamu belum makan pasti kamu sudah lapar. Jadi, lebih baik kamu makan saja duluan. Kita kan bisa makan bareng lain kali," sahut Juan lagi.
"Hah!" Juan bernapas lega. Dia merasa tenang setelah Maura pergi dari sana. "Dasar wanita aneh!"
Juan meletakkan botol air mineral di tangannya di atas meja. Pria itu kemudian merogoh dompet kulit berwarna hitam dari dalam saku celana dan menatap foto dirinya bersama dengan Mentari.
"Tari, bagaimana keadaanmu? Apa kamu bahagia dengan hidup barumu?" Juan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Hingga detik ini lelaki yang memiliki nama lengkap Juan Rahardian itu memang belum bisa move on dari sosok Mentari. Wanita yang menjadi kekasih sekaligus cinta pertamanya. Ia lalu menyimpan kembali dompet di tangannya ke dalam saku dan berganti dengan mengambil benda pipih di saku jas putih kebesarannya.
__ADS_1
"Aku harus memastikan keadaanmu Tari," gumam Juan. Ia lalu mencari nama Rangga pada benda pintar di tangan dan menghubungi sahabatnya tersebut.
"Hai, Ngga. Gimana lo udah dapet kabar tentang Mentari?" tanpa basa-basi Juan langsung mengutarakan hal yang menjadi alasan ia menghubungi sahabatnya tersebut.
"Aduh, Juan. Kenapa sih lo telepon gue tengah malem gini? Gue masih ngantuk tahu soalnya beberapa hari ini gue sibuk banget," omel Rangga.
Juan tertawa, ia lupa bahwa dia dan Rangga berada di belahan bumi yang berbeda. "Sorry, sorry, gue lupa," ucap Juan.
"Ya, nggak apa-apa. Tadi lo tanya apa?"
"Bagaimana kabar Mentari? Lo udah tanya ke keluarganya kan?" jawab Juan sambil bertanya.
"Udah. Gue dan Nando udah ke rumah Mentari dan bertemu dengan adiknya yang galak itu. Adiknya bilang Mentari sudah bahagia saat ini, tapi.... " Rangga tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa?" tanya Juan penasaran.
Rangga masih diam. Dia sedikit ragu untuk mengatakan kejanggalan yang ia rasakan. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Mentari. Meski ia tidak tahu sesuatu itu apa. Yang jelas, jawaban dari adik Mentari waktu itu justru membuatnya berpikiran bahwa hidup wanita yang masih bertahta di hati sahabatnya tersebut tidak sedang baik-baik saja.
"Ngga, kok diem?" tanya Juan lagi.
__ADS_1
Rangga menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Tari... sepertinya.... "
"Sepertinya apa?" tanya Juan semakin penasaran.