
Di rumah Mentari....
Pesta pernikahan itu pun selesai, semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Pun demikian dengan sang empunya hajat, Kedua orang tua Iwan sudah kembali ke rumah mereka. Sesuai adat sementara Iwan akan tinggal di rumah mempelai wanita untuk beberapa hari dan akan kembali ke rumah kedua orang tuanya saat acara ngunduh mantu. Bintang dan Ibunya sudah berada di kamar yang sama, dia belum merasa ikhlas jika harus kembali berpisah dengan kakak perempuannya.
"Bu, apa Kak Tari benar-benar harus ikut Kak Iwan?" tanya Bintang.
"Tentu saja sayang. Sekarang ini kakakmu itu sudah menjadi istri sahnya Iwan, jadi sudah kewajiban dia untuk ikut kemana pun suaminya tinggal."
"Tapi Bintang masih kangen Bu sama Kak Tari," rengek Bintang. Gadis yang baru menginjak kelas 2 SMA. Dia masih belum puas menghabiskan waktu bersama kakaknya.
"Sayang, kelak jika kamu sudah besar dan menikah, kamu juga akan tinggal dengan suamimu." Ratih membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Bintang tidak akan meninggalkan ibu. Meskipun kelak Bintang menikah, Bintang tetap akan tinggal bersama ibu. Bintang akan terus bersama ibu," ujar Bintang. Dia mengeratkan pelukannya.
Ratih tidak bersuara lagi. Dia tahu kalau putri bungsunya sangat menyayangi kakaknya. Dulu, saat Mentari hendak berangkat ke Luar Negeri untuk kuliah, anak bungsunya itu menangis hingga tiga hari. Dan kini, dia merasa tidak rela jika harus kembali berpisah dengan kakaknya. Ratih mengusap rambut putrinya dengan sangat lembut.
Sementara di kamar lain. Mentari masih memikirkan reaksi Juan yang dilihatnya tadi. Dadanya terasa sesak saat membayangkan raut wajah Juan yang tampak sedih dan kecewa dengan keputusan yang dia ambil.
"Tari, kamu kenapa?" tanya Iwan lagi. Dia ingin memastikan kalau istrinya dalam keadaan baik. Mentari yang sedang duduk di tepi ranjang pun mendongak melihat ke arahnya.
"Tidak apa-apa kok, Mas. Aku hanya sedikit sedih karena sebentar lagi aku akan meninggalkan Ibu dan Bintang," jawab Mentari.
"Kamu kan masih bisa menyapa mereka lewat video call."
"Iya sih, Mas. Tapi, tetap saja rasanya berat harus kembali hidup jauh dari mereka."
__ADS_1
"Lama-lama, kamu juga akan terbiasa," ujar Iwan. Dia ikut mendaratkan bokongnya di atas ranjang. Saat dia hendak merangkul tubuh Mentari, wanita itu malah menghindar.
"Maaf, Mas. Aku capek, ingin istirahat," tolak Mentari. Dia langsung menutup tubuhnya dengan selimut hingga menutupi leher.
"Istirahatlah! Aku tidak akan mengganggumu!" Meski kesal dengan penolakan Mentari, Iwan masih berusaha bersikap sabar.
Iwan masih menerka-nerka siapa laki-laki yang tadi berdiri di depan rumah istrinya. Karena sudah beberapa kali tanpa sengaja dia melihat laki-laki itu berada di sekitar tempat tinggal istrinya tersebut. Iwan mengambil gawai dari dalam sakunya, kemudian dia mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mencari tahu tentang laki-laki tadi. Setelah mendapatkan jawaban 'iya' dari anak buahnya, Iwan pun ikut berbaring di sebelah Mentari.
Dua hari setelah acara akad nikah dan resepsi di rumah orang tua Mentari, tiba waktunya untuk keluarga Pak Handoko menggelar acara ngunduh mantu di rumahnya. Keluarga Pak Handoko berasal dari jawa, beliau merantau ke ibu kota sejak usianya masih belasan tahun. Susahnya hidup di ibu kota sudah pernah Pak Handoko lalui dan itulah yang membuat dirinya tidak membeda-bedakan orang berdasarkan statusnya. Menurutnya, orang yang masih hidup serba kekurangan, bukan berarti selamanya mereka akan hidup seperti itu. Dia percaya bahwa roda kehidupan itu pasti berputar dan tidak selamanya orang yang berada di bawah akan terus bertahan di sana. Asal orang itu mau berusaha pasti suatu saat mereka akan meninggalkan titik tersebut. Dan sebaliknya orang yang berada di atas tidak akan selamanya bertahan di titik tersebut. Jadi, mereka harus tetap bekerja keras untuk bisa mempertahankannya. Oleh karena itu dia selalu bekerja keras untuk bisa bertahan di posisinya saat ini. Namun sayangnya, sikap pekerja keras yang Pak Handoko miliki, tidak menurun pada putra tunggalnya Iwan.
Selama ini, Iwan hanya tahu bagaimana caranya berfoya-foya, tanpa mau bekerja. weDan alasan itulah yang membuat Pak Handoko menjodohkannya dengan Mentari. Dia berharap sikap pekerja keras yang dimiliki oleh Mentari, bisa menular pada diri putranya.
Iwan masih terjaga sambil memandangi tubuh Mentari yang berbaring memunggungi dirinya. Meski tubuh Mentari masih terbungkus pakaian, nyatanya tetap bisa membangkitkan gairah pada dirinya.
Ting!
Satu pesan masuk dari salah satu temannya.
"Ngapain, Bro, malam begini masih online? Nggak dikasih jatah sama istri ya?"
Tin!
Pesan dari taman yang lain ikutan masuk.
"Cie, pengantin baru lagi dianggurin sama istri." Disertai dengan emot ketawa.
__ADS_1
"Begini nih, nasib pernikahan karena dijodohin. Dianggurin kan?"
"Mending kamu ikut dugem sama kita di bar."
Satu per satu pesan yang dikirim oleh teman-temannya, dibaca oleh Iwan.
"Sialan!" umpat Iwan, dia menaruh gawainya kembali ke atas nakas.
"Apa aku ikut dugem saja ya sama mereka?" tanya Iwan dalam hati. "Tidak-tidak! Yang ada mereka bakalan menertawakan aku."
Kini pandangan Iwan beralih menatap wanita yang tidur membelakangi dirinya. "Apa aku paksa saja dia buat melayani aku? Aku inikan suaminya, bukankah wajib hukumnya seorang istri melayani suaminya diatas ranjang?"
Iwan mulai mengulurkan tangannya untuk menjamah tubuh Mentari.
"Tida-tidak!! Jika aku memaksa dia untuk melayaniku yang ada dia marah, terus dia ngadu sama papa. Dan jika sampai papa marah, papa pasti nggak akan mau ngasih aku uang untuk membayar semua hutang-hutangku. Sementara akan aku biarkan dia berbuat semaunya, setidaknya sampai aku mengetahui siapa sebenarnya laki-laki yang aku lihat tadi." Iwan bermonolog dalam hati. "Seandainya laki-laki itu adalah kekasihnya, aku bisa gunain itu sebagai alat untuk memaksa papa membayar semua hutangku dan berpisah dengannya."
Akhirnya Iwan memutuskan untuk ikut membaringkan tubuhnya di samping Mentari. Tidak lama kemudian, dia pun masuk ke alam mimpi.
Sebenarnya sejak tadi Mentari belum tidur. Dia hanya menghindar agar bisa melepaskan diri dari kewajibannya untuk melayani Iwan. Dia tahu kalau dia salah karena melakukan itu. Tapi, dia tidak bisa melayani suaminya sementara hatinya masih memikirkan orang lain.
"Maafkan aku, aku akan berusaha untuk mencintaimu dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, tapi tidak sekarang." Mentari menatap Iwan yang sudah terlelap, dia beranjak dari tempat tidurnya dan memilih berdiri di dekat jendela kamar sambil memandangi langit.
"Juan, kenapa kamu tidak langsung mengejarku waktu itu? Seandainya kamu langsung mengejarku, aku tidak akan pulang dan menerima perjodohan ini?"
Mentari menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
__ADS_1