
Perlahan Juan mengendurkan pelukannya.
"Siapa kamu?" tanya Juan.
"Aku Susan dan akulah yang semalam menemanimu di sini," jawab wanita itu sambil mengulurkan tanganya untuk memperkenalkan diri.
Juan tidak membalas uluran tangan dari Susan. Dia masih tidak percaya jika wanita itu yang semalam bersamanya. "Tidak. Kamu bohongkan? Jelas-jelas aku ingat kalau yang menemaniku semalam adalah Mentari dan bukan kamu."
Iya, meski mabuk. Juan ingat betul bahwa wanita yang menghabiskan malam bersamanya adalah Mentari.
"Kalau kamu tidak percaya ya sudah. Terserah kamu," desis Susan. Wanita itu kembali melanjutkan kegiatanya merias wajah.
Juan mengambil telepon genggam miliknya yang ada di dalam saku celanya yang masih tergeletak di lantai. Ia kembali mendekati wanita bernama Susan itu.
"Berapa nomor rekeningmu? Aku akan segera mentrasfer bayaranmu?" tanya Juan dengan nada ketus.
"Tidak usah. Aku tidak bisa menerima bayaran, jika orang yang kulayani tidak mengingatku," tolak Susan. Dengan membawa pakaian ganti, dia masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, wanita bernama Susan itu sudah keluar dengan memakai celana kulot dan sweter.
"Karena sudah tidak ada urusan lagi, aku pergi ya. Bye.... "
Susan melenggang keluar dari kamar.
"Aku yakin, semalam yang bersamaku itu Mentari," gumam Juan lagi.
Untuk membuktikan bahwa ingatannya tidak salah, Juan berniat untuk mengikuti wanita bernama Susan tadi. Buru-buru ia mengganti jubahnya dengan bajunya ssndiri. Dia segera keluar dari kamar dan mengikuti Susan secara diam-diam. Juan bersembunyi dibalik pintu tempat Susan menemui seseorang.
"Tar, kenapa sih kamu nggak mau menemuinya? Padahal kamu merindukan dia, kenapa ketika ada kesempatan kamu malah menghindar?" tanya Susan kepada seseorang yang sedang duduk membelakanginya.
Juan yang bersembunyi dibalik pintu, semakin yakin bahwa suara wanita itu adalah suara Mentari.
"Tapi, Tar. Melihat wajah kecewanya saat tahu kalau wanita yang semalam bersamanya itu bukan kamu, aku jadi merasa bersalah. Aku yakin, bukan hanya kamu yang merindukan dia, dia juga pasti sangat merindukan kamu," tambah Susan.
"Aku yakin, cepat atau lambat dia juga akan lupa dengan kejadian semalam." Helaan napas keluar dari mulut wanita tersebut.
__ADS_1
"Bukankah kalian saling mencintai? Kenapa kamu harus terus menghindarinya? Kenapa kamu tidak memilih untuk berjuang bersamanya? Lagian Iwan juga sudah menceraikanmu kan? Apa salahnya jika kalian kembali menjalin cinta lagi?"
Wanita berbalik dan menatap Susan. "Aku dan dia berbeda, San. Dia laki-laki dari keluarga kaya dan terhormat. Sementara aku? Dulu saja aku tidak pantas berada di sampingnya karena aku miskin. Sekarang... aku semakin tidak pantas untuknya. Jangankan menjadi kekasih atau pendamping hidupnya, menjadi temannya saja, itu terlalu terhormat buatku," ujar Mentari. "Aku ini wanita kotor, San. Wanita menjijikkan yang melayani banyak pria hidung belang."
Air mata jatuh membasahi kedua pipi Mentari.
"Tapi, kamu terpaksa. Bos Frengky selalu mengancam dengan membawa nama adikmu. Aku yakin, dia bisa mengerti itu," ujar Susan sambil memeluk Mentari.
Susan adalah saksi suramnya kehidupan Mentari.
"Tetap saja aku pantas. Jika aku membiarkan dia masuk kembali di dalam kehidupanku, itu berarti aku ikut menyeretnya kedalam masalah besar dan aku tidak mau itu. Aku yakin suatu hari nanti dia bisa benar-benar melupakan aku dan bertemu dengan wanita baik yang sederajat dengannya," desis Mentari. Buliran bening kembali jatuh membasahi pipi.
"Tapi wanita yang kuinginkan adalah kamu." Suara dari arah pintu membuat Mentari menoleh. Dia kemudian melepaskan pelukanya dengan Susan.
"Juan... kamu... kenapa kamu bisa disni?" tanya Mentari.
"Jangan lari dariku lagi, Tari! Jangan tinggalkan aku lagi! Aku tidak bisa hidup tanpamu," tambah Juan.
__ADS_1
"Tari, kembalilah bersamaku! Aku membutuhkanmu!" Juan menghiba. Dia mengulurkan tangan dan berharap Mentari akan menyambutnya.