Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 23


__ADS_3

"Siapa? Juan?" tanya Rangga ketika melihat Nando baru saja menutup telepon.


Nando menoleh, dia menyandarkan diri pada pinggiran besi, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Bukan," jawabnya.


"Terus?"


"Adik gue. Dia bilang Om Ramond sudah datang ke rumah Tante Salamah untuk menagih hutang almarhum orang tua kami," jawab Nando.


"Memangnya berapa hutang almarhun orang tuamu?" tanya Rangga lagi. Dia ikut bersandar pada pinggiran besi di sebelah Nando.


"Satu miliar, dulu papa meminjam itu untuk modal usaha. Sayangnya usaha itu gagal, sekarang aku dan adikku yang harus menanggung semua hutang itu," jelas Nando. Sebenarnya dia juga ingin seperti dua sahabatnya Rangga dan Juan. Mereka bisa hidup sesuka mereka tanpa harus memikirkan hutang.


"Uang sebesar itu, gue juga nggak ada sih," ujar Rangga. Dia juga ikut prihatin dengan hal yang sedang menimpa sahabatnya tersebut.


"Em... Kenapa lo nggak kerja di perusahaan papa gue, sekalian bantu-bantu gue. Lo belum ada kerjaan kan?"


"Belum sih. Tapi, beneran gue boleh kerja di perusahaan bokap lo?" Nando memastikan.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, kebetulan gue sedang pegang proyek penting dari papa. Dan sepertinya aku butuh asisten buat pekerjaanku itu. Papa bilang kalau gue sukses dengan proyek itu, gue bisa langsung nikahin Livya," jawab Rangga dengan mata berbinar.


Rangga sudah sangat menantikan untuk bisa menikah dengan wanita tersebut. Apalagi hubungan mereka terbilang sudah sangat lama. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Rangga mengenal Livya.


"Lo beneran yakin mau nikahin Livya?"


"Yakin, kenapa tidak?" jawab Rangga.


"Ngga, tapi gue rasa Livya bukan cewek yang tepat buat lo. Dia itu nggak cinta sama lo, dia cuma cinta sama harta lo. Yakin deh saat lo jatuh, dia adalah orang pertama yang bakal ninggalin lo." Entahlah sejak awal sahabatnya tersebut berpacaran dengan Livya, Nando selalu tidak yakin akan ketulusan cinta wanita itu kepada Rangga.


"Mulai deh. Ini nih yang bikin gue malas ngomongin soal Livya sama lo. Lo tuh nggak pernah berprasangka baik sama dia." Rangga berdecih. "Udah deh daripada ngomongin soal Livya yang bikin kita ujung-ujungnya debat, mending kita ngomongin soal kerjaan. Gimana? Lo mau kan kerja jadi asisten gue?" tanya Rangga lagi.


"Sok alim lo, orang masih doyan sama alkohol juga."


"Bukan sok alim, tapi anggap aja ini gue lagi menuju ke arah sana," sahut Nando enteng.


"Ya udah gue masuk ya. Kalau lo masih mau lanjut bengong di sini silakan." Rangga kemudian berjalan meninggalkan balkon.

__ADS_1


Nando menatap Rangga kemudian menghela napas. "Entah pelet apa yang dipakai Livya sampai-sampai Rangga nggak menyadari kalau Livya hanya mencintai uangnya. Lihat saja, saat Rangga jatuh pasti Livya akan meninggalkannya," batin Nando.


***


Sementara itu di tempat lain....


Mentari berkali-kali mengguyur tubuhnya dengan air. Dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Beberapa saat yang lalu untuk pertama kalinya Mentari melakuhan hal yang tidak ia inginkan. Ia merasa menjadi manusia paling hina di dunia. Dia terus menggosok tubuhnya dengan sabun, berharap segala hal yang baru saja ia lakukan itu hilang bersamaan dengan hilangnya kuman dari tubuhnya.


Iya, Mentari baru saja selesai melayani pelanggannya. Kalau bukan demi adik dan kedua orang tuanya, dia lebih memilih mati dibanding harus melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nurani.


"Tari, Tari sedang apa kamu di dalam? Bos Frengky memanggilmu." Susan memanggilnya seraya mengetuk pintu kamar mandi. Tak kunjung mendapatkan balasan, Susan kembali mengetuk pintu dan memanggilnya lagi. "Tari, Tari, sedang apa kamu di dalam? Cepat buja pintunya!"


"Apa Tari melakukan hal yang membahayakan dirinya lagi?" pikir Susan.


Susan benar-benar takut kalau Mentari kenapa-napa. Dia memanggil seseorang untuk membantunya mendobrak pintu.


"Aku mohon! Aku mohon cepat dobrak pintunya, aku takut dia melakukan sesuatu didalam.

__ADS_1


Orang yang dimintai tolongpun segera mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


"Mbak Susan minggir sebentar, biar saya dobrak pintunya. " seru orang tersebut. Dia mulai menghitung dari angka 3 ke angka satu. "Satu dua ti...."


__ADS_2