Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M - Bagian 6


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ….


Juan yang baru saja keluar dari bandara langsung disambut pelukan hangat oleh kedua sahabatnya, Rendi dan Nino.


"Akhirnya kamu pulang juga, bagaimana semua urusanmu disana, sudah bereskan?"


"Untungnya semua sudah beres, kalau tidak mungkin aku tidak akan bisa kembali hari ini," jawab Juan. "Ohya, bagaimana dengan Mentari?  Apa dia sudah benar-benar akan menikah?" tanya Juan. Karena memang alasan Juan pulang adalah untuk menggagalkan pernikahan kekasihnya itu.


"Kita bicarakan itu dimobil saja," jawab Rendi.


"Baiklah," jawab Juan.


Ketiga orang tersebut segera keluar  dari bandara.


"Aku ambil mobil dulu, kalian tunggu di sini!"


Nino berinisiatif mengambil mobil yang berada di tempat parkir. Tidak lama kemudian dia kembali.


Rendi memilih duduk di jok depan di sebelah Nino, sementara Juan dia duduk di jok belakang.


"Rend, kapan pernikahan Mentari akan diselenggarakan?" tanya Juan.


Rendi dan Nino saling tatap.


"Katakan saja, aku tahu pernikahan mereka sebentar lagi. Aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan terakhirku," jawab Juan.


"Tiga hari lagi," jawab Rendi. "Dan sepertinya Mentari sudah yakin dengan pernikahannya."


Juan menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Perasaan menyesal kembali hinggap di hatinya.


"Aku akan tetap menemui dia, aku akan berusaha menggagalkan pernikahan itu semampuku," ujar Juan. Dia tidak mau menyerah begitu saja. 


"Apa kamu membutuhkan bantuan kami untuk menggagalkan pernikahan mereka?" Rendi menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku akan berusaha sendiri," tolak Juan. "Aku hanya ingin menawarkan pilihan padanya? Jika memang dia memilih untuk kembali padaku. Aku ingin pilihan itu berasal dari hatinya. Dan, jika memang dia memilih untuk tetap menikah dengan lelaki pilihan ibunya, aku akan mencoba menerima semua dengan ikhlas. Aku akan menganggap kalau kami memang tidak berjodoh."


Wajah Juan kembali sendu.


"Kami doakan yang terbaik untuk kalian berdua," ucap Rendi sambil menatap sahabatnya wajah sahabatnya.


"Thanks ya, Rend, No. Selama ini, kalian selalu ada untukku."


Rendi dan Nino hanya tersenyum.


"Sekarang kamu ingin pulang atau …."


"Antar aku ke rumah Mentari sekarang!" sela Juan sebelum Nino menyelesaikan perkataannya.


"Apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?" 


"Tidak, Rend. Aku tidak mau menunda untuk bisa berbicara dengan Mentari."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kami akan mengantarmu sekarang." Kali ini Nino yang menjawab.


Nino segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah Mentari.


***


"Bener kamu tidak ingin aku dan Nino menemanimu?" tanya Rendi memastikan. 


Begitu mobil yang mereka kendarai tiba di depan Mentari, Juan menyuruh dua sahabatnya untuk meninggalkan dirinya di sana.


"Benar, aku akan menyelesaikan sendiri masalahku. Kalian bisa menungguku di apartemen," jawab Juan.


"Baiklah, jika itu maumu. Kami pulang sekarang. Ingat! Kalau ada sesuatu kamu bisa menghubungi kami segera. Kami akan selalu ada untukmu," ucap Rendi.


Juan mengangguk.


"Semoga berhasil." Kini giliran Nino yang berbicara. Setelah mengatakan itu Nino kembali menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.


Juan berdiri tepat di depan pintu rumah Mentari. Dengan tangan kanannya, dia mulai mengetuk pintu yang ada dihadapannya.


Tok! tok! tok!


Tiga kali dia mengetuk pintu di depannya dan tepat di ketukan keempat seseorang telah membuka pintu tersebut dan orang itu adalah Mentari.


"Tari tunggu!" cegah Juan sambil menahan pintu yang hendak di tutup oleh kekasihnya itu.


"Mau apa kamu kesini? Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menikah."


"Aku tahu, tapi ijinkan aku bicara padamu sekali saja!" pinta Juan.


"Aku mohon!" pinta Juan lagi. Dia bahkan mengatupkan kedua tangannya agar Mentari mau memberinya kesempatan untuk berbicara.


"Baik, tapi jangan disini," jawab Mentari.


Juan begitu senang karena Mentari mau berbicara dengannya.


"Terserah padamu," ucap Juan.


Mentari membawa Juan ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya.


"Sekarang katakan padaku apa yang ingin kamu bicarakan!" suruh Mentari tanpa basa-basi. Dia tidak mau terlalu lama bersama dengan Juan. Mentari takut kalau hatinya akan goyah.


"Tari, aku minta maaf karena malam itu aku tidak langsung mengejarmu. Aku malah mementingkan taruhan itu dibanding dengan dirimu," ucap Juan.


"Taruhan?" Mentari menatap laki-laki yang sedang berdiri di depannya. Dia ingin tahu maksud dari perkataan Juan barusan.


Juan mengangguk.


"Malam itu, aku sedang melakukan taruhan bersama dengan teman-temanku. Jika aku berhasil memenangkan taruhan tersebut, aku akan mendapat mobil sport impianku."


Sekarang Mentari paham kenapa Juan tidak mengejarnya waktu itu. Dia menatap tajam mata Juan, "Kamu pernah bilang padaku, setiap  keputusan yang diambil, pasti akan ada konsekuensi yang menyertainya. Dan kamu harus menerima konsekuensi atas keputusanmu yang telah kamu pilih. Kamu lebih memilih mobil itu dibanding diriku kan? Jadi, nikmati mobil itu dan biarkan aku menikah dengan orang lain."

__ADS_1


"Tari ... tidak bisakah kamu merubah keputusanmu? Aku tahu kamu tidak mencintainya, jadi ...."


"Tapi aku juga tidak membencinya," tukas Mentari. "Jadi aku masih bisa mencintainya," lanjut Mentari.


"Baiklah. Jika itu memang keputusanmu, aku akan menerimanya dengan lapang."


Helaan napas keluar dari mulut Juan, rasanya begitu berat saat dia harus merelakan orang yang dia cintai kepada orang lain.


"Semoga kamu bahagia," ucap Juan sebelum pergi.


Setelah kepergian Juan, Mentari langsung menumpahkan air mata yang sejak tadi sudah dia tahan. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat kepedihan dimata Juan. Dia ingin lari mengejar Juan dan membatalkan pernikahannya. Tapi, dia sadar dia tidak bisa bersikap egois. Pernikahannya tinggal menghitung hari, jika dia membatalkan pernikahan itu, maka artinya dia mempermalukan dua keluarga sekaligus. Keluarganya dan keluarga Iwan.


Mentari terus menangis sambil menelungkupkan kepala diantara dua lututnya, dia menumpahkan air matannya disana.


"Kak Tari."


Suara itu mengagetkan Mentari. Dia segera menghapus air matanya, karena tahu yang datang adalah adiknya, Bintang.


"Sedang apa Kakak disini?" tanya Bintang.


"Ka ... Ka_kak ... Kakak sedang mencari angin. Tadi udara di dalam rumah agak panas, jadi Kakak keluar untuk mencari angin," jawab Mentari agak gugup.


"Bukannya tadi Kakak bilang udaranya dingin? Makanya, waktu aku ngajak Kakak ngobrol di teras rumah Kakak menolak." Bintang menatap Kakaknya.


"Kak, apa Kakak baru saja menangis?" tanya Bintang saat melihat kedua mata kakaknya sembab.


"Tidak. Kakak tidak menangis. Memangnya kenapa Kakak harus menangis?" jawab Mentari. Dia menunjukkan senyum terbaiknya dihadapan Sang adik.


Bintang tahu kalau kakaknya sedang berbohong, tapi dia berpura-pura percaya.


"Ayo Kak, kita pulang! Tadi ibu sangat mencemaskan Kakak karena Kakak tiba-tiba hilang!" ajak Bintang dan dijawab dengan anggukan oleh Mentari.


Keduanya berjalan beriringan menuju ke rumah.


***


3 hari kemudian ....


Hari itu adalah hari pernikahan Mentari dan Iwan, seluruh anggota keluarga sudah hadir di tempat acara. Begitupun dengan tamu undangan, mereka sudah standby di lokasi, bahkan 30 menit sebelum acara dimulai.


"Tari, ini terakhir kalinya aku bertanya padamu, apa kamu benar-benar mau menikah denganku?" tanya Iwan, 15 menit sebelum prosesi akad dimulai.


Mantari terdiam. Semua kenangan dia bersama dengan Juan mendadak berkeliaran di dalam kepalanya.


"Tari," panggil Iwan.


"Iya, Juan ...." Mentari langsung terdiam saat dia menyadari salah memanggil nama.


"Juan? Siapa itu Juan?" tanya Iwan. Dia menatap calon istrinya.


"Bu, bukan siapa-siapa. Itu hanya teman lamaku," jawab Tari gugup.

__ADS_1


Meskipun tidak percaya, Iwan kembali menanyakan hal yang sama kepada Mentari, "Tari, apa kamu masih mau menikah denganku?"


"Aku ...."


__ADS_2